Wisma Malabar, Pangalengan

Kebun Teh PangalenganBangunan Tua berarsitektur sunda yang berada di tengah perkebunan teh malabar tersebut sudah termakan usia, genting bangunan tersebut terlihat merah kusam dan berbercak hitam. Dari kejauhan terlihat jendela kaca berbentuk kotak-kotak kecil yang sangat banyak, sepertinya cahaya matahari akan masuk dari segara penjuru bangunan dengan melewati jendela kaca kotak-kotak tersebut. Jendela yang menempel di segala penjuru bangunan tersebut di mungkinkan karena bangunan ini berada di tengah-tengah halaman yang luas tanpa ada bangunan lain yang menempel ke bangunan tersebut. Sekilas atap bangunannya lumayan tinggi, tetapi walau kelihatan tinggi, ketika di dalam plafonnya tidak setinggi yang saya perkirakan. Dinding bangunan terdiri dari dua bagian yaitu bagian bawah yang terbuat dari batu kali yang berwarna hitam dengan nat warna putih, sedangkan bagian atasnya tembok biasa yang berwarna kuning muda dan lebih cendrung krem. Karena sudah jarang sekali melihat bangunan tua yang berarsitektur sunda seperti ini, maka ketika menatap bangunan tersebut suasana tempo dulu benar-benar terasa. Bangunan yang berada di depan mata itu adalah Wisma Malabar yang dibangun tahun 1894 yang merupakan bekas kantor Administratur perkebunan Malabar sekaligus sebagai rumah tinggal Karel Albert Rudolf Bosscha yang biasa disingkat K.A.R Bosscha. Beliau seorang dermawan Belanda yang peduli terhadap kesejahteraan masyarakat pribumi dan juga merupakan seorang pemerhati ilmu pendidikan khususnya astronomi, saking cintanya dengan dunia asronomi dia membangun Observatorium Bosscha di Lembang dengan memakai lensa buatan Carl Zeiss yang paling canggih dimasanya. Selain Observatorium Bosscha, perkebunan Teh Malabar dan Pabrik Teh Malabar, sumbangsih beliau diantaranya pendirian Sociteit Concordia atau yang sekarang disebut Gedung Merdeka, gedung bernuansa Art Deco dengan marmer import dari Italia sebagai pelapis lantainya. Gedung Merdeka ini di arsitekturi oleh C.P. Wolff Schoemaker yang dijuluki bapak gaya arsitektur Art-Deco di Bandung. Dan Schoemaker ini juga sebagai guru besar pada Technische Hogeschool (Sekolah Teknik Tinggi) yang sekarang di kenal ITB (Institut Teknologi Bandung), dan ITB tersebut juga salah satu gedung warisan K.A.R. Bosscha. Karena jasa-jasanya itulah akhirnya belau di nobatkan sebagai Warga Utama kota Bandung dalam upacara kebesaran yang dilakukan Gemente di Kota Bandung. Pada akhir hayatnya, karena kecintaannya pada Malabar, beliau meminta agar jasadnya disemayamkan di antara pepohonan di Perkebunan Teh Malabar.

Wisma Malabar-Pangalengan Wisma Malabar-Pangalengan
Wisma Malabar-Pangalengan Wisma Malabar-Pangalengan

Seperti biasa tim bolang berangkat jalan-jalan untuk weekend tanggal 8-9 September 2012, karena ini hanya jalan pas weekend saja maka tujuannya pun tidak jauh cuma sekitaran Bandung saja. Jumat malam sekitar jam 8 kami kumpul di Plaza Semanggi dan setelah makan di Plasa Semanggi start berangkat ke Bandung dari Benhil karena ada barang temen yang ketinggalan. Memasuki Gatsu seperti biasa walau angka digital jam di depan dashboard mobil imut yg dipake sudah melewati 20.00, kemacetan sudah menjadi hal yang lumrah. Mungkin sekitar 2 jam akhirnya sampai juga di Cawang , hahaha gatsu cawang cuma dua jam sajahhhhhhhhhhhh. Setelah melewati cawang keadaan tol lumayan lancar tetapi tetap tidak bisa memacu dengan terlalu kencang karena agak sedikit padet juga. Melewati pintu tol Karawang Utama, kemacetan yang sebenarnya baru menghadang 🙁 .. karena ada perbaikan jalan di KM 39, antrian mobil sampai juga ke pintu tol Karawang Utama. Total keluar dari kemacetan di KM 39 jam sudah hampir menyentuh angka 24.00. Setelah itu karena jalanan lumayan lancar akhirnya dikebut kembali dan sampai dirumah saya sekitar Cipadung jam 01.30, gileeee 5 jam setengah Jakarta-Bandung, padahal sabtu paginya harus segera berangkat ke daerah Pangalengan, Bandung Selatan.

Interior Wisma Bosscha - Pangalengan Interior Wisma Bosscha - Pangalengan
Interior Wisma Bosscha - Pangalengan Interior Wisma Bosscha - Pangalengan

Petunjuk Jalan ke Pangalengan dari Bandung :
Titik 0 KM di ambil dari perempatan jl By Pass (Soekarno-Hatta) – Buah Batu.
– KM 4,2 ada pertigaan tetap ambil kanan ikuti jalan Raya Bojongsoang.
– KM 5.1 ada pertigaan pertigaan jl. Raya Bojong Soang dengan Dayeuh Kolot, ambil kiri, terus ikuti jl. Raya Banjaran.
– KM 5.8 setelah menyebrang jembatan sungai , ada pertigaan lagi , ambil kanan tetap ikuti jl. Raya Banjaran
– KM 15.2 setelah terus mengikuti jl.Raya Banjaran, tiba di pertigaan jl.Raya Banjaran-jl.Raya Pangalengan … ambil kiri.
– KM 36.5 sampailah di Pangalengan dengan adanya pertigaan kiri ke Situ Cileunca Pangalengan dan Kanan ke Pasar Pangalengan dan terus ke Perkebunan Teh yg ada di pangalengan, dari sinilah jalan2 di Pangalengan di mulai dan selanjutnya terserah anda.

Pagi hari akhirnya bisa berangkat juga, setelah agak susah untuk bangun pagi :p. Perjalanan lumayan lancar dan sempat sarapan bubur dulu di jalan Raya Pangalengan. Setelah melaju di jalan Raya Pangalengan yang mulus dengan warna aspal yang masih hitam gelap menandakan kondisi jalan yang baru di perbaiki, tepat 1.5KM sebelum pertigaan Pasar Pangalengan-Situ Cileunca, mengambil arah kiri yang ada plang nama Perkebunan Teh Kertamanah. Jadi tidak melewati kota/pasar Pangalengannya tetapi memutar melewati kebun Teh. Kondisi jalan beton yg bagus dan di selingi dikit beberapa jalan aspal rusak yang cukup sepi dan udara sekitar yang sangat sejuk membuat laju mobil lebih banyak berhenti guna menikmati keadaan kebun teh sekeliling hehe. Setelah sampai di suatu tempat yang ada kijangnya (mungkin jalan Margamukti CMIIW) berhenti guna menikmati kembali keindahan kebun teh dan melihat-lihat kijang. Setelah itu balik arah lagi tetapi sekarang menuju jalan Sukamanah yang menuju jalan pintu Pangalengan. Jadi tidak melewati pasar pangalengan tetapi langsung menuju pintu perkebunan teh Malabar. Pintu teh malabar ini merupakan batas psikologis dimana dua dunia yang amat sangat bertolak belakang dibatasi oleh pintu gerbang saja, karena dengan hanya melangkah melewati pintu gerbang tsb suasana jalanan khas kota/perkampungan di Indonesia yang rumah2nya kurang tertata serta kotor akan berubah drastis menjadi pemandangan alam yang benar2 alami, bersih dan keren.

Dari sini menuju Wisma Malabar, yangg terakhir kali ketika mengantar temen yg sama, kondisi wisma masih berantakan karena gempa, kali ini teman-teman beruntung kondisi wisma sudah diperbaiki dan bisa menikmati suasana jadul di dalam wisma tersebut. Piano Bosscha Design mebel/furniture dan pernak-pernik yg masih terkesan jadul dan di buat sama seperti kondisi ketika Bosscha masih berkuasa memberikan aura unik tersendiri. Seakan-akan memasuki dua dunia yang berbeda seperti halnya ketika memasuki pintu masuk perkebunan teh sebelumnya. Saya dibuat seolah-olah memasuki masa dimana Bosscha masih ada, bahkan saya masih sempet bisa memainkan piano yg bertuliskan “Piano Zeiter & Winkelmann braunschweig gegr. 1837” yang merupakan piano yang sama yang sering di mainkan Bosscha diwaktu luangnya. Penataan ruangan disini benar-benar lapang karena wisma yang berlantaikan kayu tersebut tidak disekat-sekat untuk membentuk ruangan khusus tetapi dibuat plong mengikuti bentuk tembok luar sehingga memberikan kesempatan cahaya dari luar untuk menerangi semua ruangan. Jendela-jendela yang lumayan banyak tersebut lah yang memberikan kontribusi untuk membuka celah cahaya masuk. Yang membuat terkesan adalah pintu samping yang langsung menghadap ke lapangan rumput yang cukup luas, membuat pandangan tidak sumpek seperti kondisi perumahan2 di Indonesia hehe. Kondisi rumah yang tidak berdempet dengan rumah lain juga memberikan manfaat banyak sehingga pintu masuk di buat sebanyak mungkin dan kalau tidak salah hitung setidaknya ada 4 pintu masuk.

Kebun Teh Malabar-Pangalengan Kebun Teh Malabar-Pangalengan

Karena hari sudah cukup siang, akhirnya keluar dari wisma bosscha terus keliling kebun teh guna mencari tempat untuk menggelar lapak buat memasak. Kalau anda bertanya2 sampai bilang ngak salah buat masak ?? yahh anda tidak salah, karena salah satu niat jalan ke pangalengan adalah ingin menikmati suasana sambil makan di tengah perkebunan haha. Lokasi yang lumayan cocok adalah lokasi di mana terdapat kumpulan pohon2 teh raksasa yang ‘konon’ di sini pohon tehnya di biarkan membesar tidak di petik-petik sehingga pohonnya membesar dan saking besarnya kita bisa manjat pohon tersebut, lokasinya kurang lebih diantara Wisma Bosscha dan makam Bosscha. Perlengkapan yang pertama disiapkan adalah kompor portable guna memasak air. Setelah air mendidih dan pada bikin kopi perlengkapan berikutnya yang disiapkan adalah alat pemanggang hehe. Jadi kami duduk di tengah pohon teh yg tinggi serta rindang dengan memanggang daging sendiri , serasa memindahkan Hanamasa ke tengah kebun teh hahaha. Kebiasaan membawa minimal kompor portable, ceret air dan pemanggang ketika jalan2 sudah lama saya lakukan dan amat sangat bermanfaat karena ketika jalan di tempat yg sepi seperti di pinggir2 hutan, saya bisa berhenti kapan saja dan menggelar lapak memasak sambil menikmati suasana alam. Kali ini perlengkapan kopi tidak dibawa karena teman-teman yg lain sepertinya kurang suka kopi hitam, jadi kali ini kopi instantlah yang menemani kami. Sebenarnya selain peralatan memasak diatas, kebiasaan lain yang sering dilakukan juga adalah membawa peralatan pembuat kopi hahaaa. Kopi biji Pabrik Aroma yang di jalan Banceuy dengan komposisi 60% Arabika – 40% Robusta tersebut jarang terlewatkan. Dengan berbekal grinder manual serta Moka Pot dan French Press sudah cukup untuk membuat “StarBucks” berjalan haha, tidak ada kedai kopi di dunia manapun yang bisa mengalahkan kenikmatan sensasi minum kopi tanpa gula yg masih fresh dari biji di giling sendiri pake gilingan tangan sambil menikmati suasana alam yang masih alami.

Abis acara makan siang beres tak lupa semua sampah peninggalan kami sekecil apapun di kumpulkan dan di angkut kembali buat di buang di tempat yang semestinya. Dengan kondisi perut yang lumayan penuh di lanjutkan dengan berjalan untuk menuju puncak gunung nini (atau lebih tepatnya bukit) yang merupakan titik tertinggi di area perkebunan Teh Malabar dan konon juga Bosscha selalu memantau kebun teh nya disini. Setelah cukup puas menikmati pemandangan alam kebun teh di ketinggian akhirnya turun kembali menuju situ/danau Cileunca. Kali ini seperti sudah belajar dari pengalaman sebelumnya kami tidak akan pernah makan makanan di warung2 yang ada di situ Cileunca yang memberlakukan tarif makan seenak jidatnya alias amat sangat tidak manusiawiii, seolah2 kita itu gembolan uang yang berjalan, saya juga tetap tidak pernah merekomendasikan makan di warung2 tersebut, biarlah ini jadi pembelajaran yang sangat berharga bagi semua pihak. Kalau anda googling ternyata bukan hanya saya saja yg kecewa dengan kelakuan oknum warung2 di Situ Cileunca tetapi banyak juga yg kecewa. Masih untung masih mau mengunjungi Situ Cileunca lagi padahal beberapa orang sudah pada kapok.

Sebenarnya sangat gatal pengen nyemplung berenang di sini , apalagi melihat anak2 kecil pada berenang di pinggir danau… huuuuu kalaulah waktu dan kesempatan memungkinkan sepertinya bakalan langsung nyebur hahaha. Setelah lumayan puas makan buah arbei sampe bego di kebunnya, akhirnya balik badan ke Bandung kotanya lagi guna beristirahat dan melanjutkan wisata kuliner esok harinya.

  1. pak boleh tau kalau koordinat mapnya dimana ya pak untuk wisma Malabar juga untuk citere resort ini?
    Apakah dapat dicapai menggunakan mobil pribadi seperti serena?
    Apakah bila membawa anak2 usia 10 tahun masih bias menikmati pak?

    Trims banyak ya pak, Hari.

  2. Mahasiswa boleh melakukan kunjungan study perusahaan ke pabrik dan kebunnya gak pak ? Kalo boleh bagaimana cara mengurus izin agar dapat kesana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *