Travelling Alone #Day 4 : Tomohon, Tondano dan Bitung

Tarsius di BitungHari keempat atau terakhir ini sebenarnya hanya bonus jalan-jalan saja, karena nyemplung di  Taman Laut Bunaken sebagai tujuan utama jalan ke Manado sudah terlaksana. Atau bisa dikatakan juga sebagai killing time sambil menunggu waktu flight balik ke Jakarta yang jadwalnya jam 19.40. Persiapan tempat-tempat yang akan di tuju di susun malam hari sebelumnya, baru kali ini bangun ‘agak’ siang selama 4 hari traveling ini. Jam 7.30 baru selesai mandi dan lanjut sarapan dihotel, ini sarapan terbaik selama jalan-jalan disini hahaha, karena kali ini menginap di Sintesa Peninsula Hotel yang secara bintang jumlahnya 5 (itu karena beli di Agoda dan dapet diskon hingga 70% dari publised rate). Sarapan pagi yang perfect sambil melihat kegaduhan anak-anak kecil yang sedang berenang di kolam renang samping restaurant. Tas carrier yang sempet berantakan semuanya sudah tertata rapih, tidak ada satu gembolan yang keluar dari tas, karena semuanya ingin serba simple sehingga selalu berusaha membawa satu tas tanpa harus bawa gembolan diluar tas carrier. Jam 8 pagi  supir rental yang sudah dibooking malam sebelumnya, kirim sms dan memberi tahu kalau dia sudah berada di lobby hotel. Turun menuju lobby dengan mengendong tas carrier besar untuk check out, begitu ketemu supir rental dia mungkin agak sedikit terkejut karena yang nyewa mobil rental itu seorang traveller yg membawa tas seperti mau mendaki gunung. Oh iya sebenarnya yang disewa itu Avanza tetapi belakangan ternyata yang datang Honda City karena hanya mobil itu yang sedang ready hari ini, maka semakin tidak matching lah traveller dengan tongkrongan naik gunung  memakai mobil sedan buat jalan-jalan.  Hanya bilang ke supir ingin jalan ke Danau Linau, Danau Tondano, makam Waruga Sawangan dan terakhir keliling kota Bitung yang berada di sebrang pulau Lembeh. GPS dinyalakan dengan titik awal di Sintesa Peninsula Hotel, laju mobil turun meliuk-liuk keluar area hotel yang jaraknya lumayan jauh untuk menuju jalan utama.

Mobil mengarah ke arah selatan Manado dan semakin lama jalan semakin naik dan mengecil tetapi dengan kondisi qualitas jalan yang cukup baik. Semakin mengarah ke Tomohon suasana udara yang lebih sejuk semakin terasa. Kebetulan kali ini jalan dihari minggu pagi sehingga jalanan sangat sepi, karena masyarakat Tomohon sendiri sebagian besar beragama kristen, jadi banyak warga yang ke gereja di bandingkan jalan-jalan. Belum pernah melihat jejeran gereja yang sangat dekat satu sama lainnya, mungkin seperti halnya masjid di pulau jawa yang dalam beberapa puluh meter sudah dapat di temukan. Cuma yang menjadi perhatian ternyata cewe-cewe Tomohon cakep-cakep , walau jauh dari pusat kota kalau ngak mau disebut desa hehe cewe2 Tomohon disini dandannya lumayan pollll dan lebih keliatan cahayanya karena rata2 berkulit putih.

Danau Linow, Tomohon
Danau Linow, Tomohon Danau Linow, Tomohon
Danau Linow

Setelah beberapa saat melewati kota Tomohon, koq supir tidak membelokan mobilnya ke arah jalan menuju danau Linow setidaknya itu yang diamati di google map android yang selalu on terus. Ternyata emang ke bablasan karena supir lupa lokasi tempat belokan ke danau Linow. Disinilah pentingnya skill baca peta karena walau anda belum pernah sama sekali jalan ke suatu tempat tetapi apabila anda pegang peta apalagi ditambah gps bakal menjadikan perjalanan lebih asik dan tenang. Tetapi tidak bisa menyalahkan supir juga karena papan nama tulisan wisata danau Linow nya sendiri sudah rusak dan beberapa hurufnya sudah banyak yang hilang. Memasuki jalan wisata danau Linow ini kondisi jalan semakin mengecil dan semakin rusak tapi bukan berarti ngak bisa di lewati karena dengan mobil sedan pun bukan suatu masalah.

Dari kejauhan danau sudah terlihat, mungkin karena masih pagi jadinya cuma ada dua rombongan mobil termasuk saya kalo dihitung sebagai rombongan. Sekilas danau ini malah seperti telaga warna yang ada di Dieng tetapi dengan luas yang lebih besar. Dalam hati bergumam hmm suasana sepi seperti inilah yang bisa membuat berlama2 menikmati keindahan danau haha. Tak lama kemudian ada 2 org bule yang ikut nimbrung di lokasi yang sama untuk menikmati keindahan danau ini. Lalu tak lama lagi ada rombongan wisatawan dengan logat khas melayunya yg bisa ditebak kemungkinan besar dari Malaysia. Tak lama berselang ada dua rombongan lagi kali ini bener2 banyak dan cukup berisik. Akhirnya suasana yang sepi berubah menjadi sedikit ramai dan berisik walau secara keseluruhan masih tetap sepi. Akhirnya diputuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Tondano, walau suasana masih terlihat pagi.

Suasana di jalan masih sangat sepi, makanya tidak berapa lama juga tiba di kota Tondano. Bahkan saking sepinya bisa berdiri di tengah jalan buat mengambil poto suasana sekitar . Cuaca sangat cerah dan mendukung buat poto2, bahkan langit biru dan awan putih yang menghiasi kota Tondano membuat semakin banyak mendokumentasikan suasananya. Tak berapa lama posisi mobil sudah berada di pinggir danau, mobil terus menyusuri pinggiran danau yang meliuk-liuk. Menyusuri pinggiran danau ini juga mengingatkan ketika menyusuri danau Singkarak di Sumatera Barat. Berhenti di resto yang lumayan besar pinggir danau, kali ini pilihan sang supir  tepat secara lokasi mungkin dia sudah sering nganter tamu ke resto ini.  Disini bisa menikmati genangan air yang luas sambil menikmati makananya. Tetapi sepertinya terlalu pagi  karena setelah lihat sekeliling belum ada siapa-siapa, sekitar jam 10.30 an resto belum memasak makanannya, karena memang ramainya pas makan siang, akhirnya hanya memesan kopi dan snack disini sambil menikmati kesepian suasananya.

Danau Tondano Danau Tondano
Danau Tondano Danau Tondano
DAnau Tondano

Ada beberapa rombongan yang mampir disini dan ketika ditanya makananya belum siap rombongan tersebut langsung keluar lagi. Cukup lama ngopi ditempat sepi ini, akhirnya perjalanan dilanjutkan ke arah AirMadidi, dengan tujuan Makam batu Waruga, Sawangan. Lumayan agak lama perjalanan dari Tondano ke Waruga Sawangan ini, suasana jalan mirip seperti perjalanan antara Rancabuaya ke Ciwidey, tetapi tingkat kecuraman jalannya tidak se-extrim di rancabuaya-ciwidey.

Waruga adalah kubur atau makam leluhur orang Minahasa yang terbuat dari batu dan terdiri dari dua bagian. Bagian atas berbentuk segitiga seperti bubungan rumah dan bagian bawah berbentuk kotak yang bagian tengahnya ada ruang.
Mula-mula Suku Minahasa jika mengubur orang meninggal sebelum ditanam terlebih dulu dibungkus dengan daun woka (sejenis janur). Lambat laun, terjadi perubahan dalam kebiasaan menggunakan daun woka. Kebiasaan dibungkus daun ini berubah dengan mengganti wadah rongga pohon kayu atau nibung kemudian orang meninggal dimasukkan ke dalam rongga pohon lalu ditanam dalam tanah. Baru sekitar abad IX Suku Minahasa mulai menggunakan waruga. Orang yang telah meninggal diletakkan pada posisi menghadap ke utara dan didudukkan dengan tumit kaki menempel pada pantat dan kepala mencium lutut. Tujuan dihadapkan ke bagian Utara yang menandakan bahwa nenek moyang Suku Minahasa berasal dari bagian Utara. Sekitar tahun 1860 mulai ada larangan dari Pemerintah Belanda menguburkan orang meninggal dalam waruga.
Sumber Wikipedia, 21 Jun 2013

Makam Waruga Makam Waruga

Rumah-rumah semakin banyak ketika memasuki desa Sawangan, disebelah kanan jalan ada papan penunjuk untuk masuk ke Makam Waruga. Ternyata situs makam waruga ini bercampur dengan makam warga umumnya, tetapi di batasi oleh benteng yang mengelilingi situs. Yang unik ternyata sebelum tahun 1800an dilihat dari makam Waruga-nya sudah ada warga negara Portugis dan Jepang yang bermukim disini, menurut guide di sini bahkan keturunan jepang yang dulu bermukim di Minahasa masih ada. Tutup makam disesuaikan dengan profesi orang yang meninggal, ada beberapa penanda garis yang menggambarkan berapa jumlah orang yang ada dalam Waruga tersebut. Dulunya Waruga-waruga ini disimpan di depan rumah, tetapi karena takut terjangkit penyakit maka Waruga-waruga ini di kumpulkan disini dan terlihat lumayan banyak waruga yang berjejer rapih.
Matahari semakin meninggi, cuaca cerah semakin membakar kulit dan kaos di badan sudah basah karena keringat, apalagi ketika mengobrol sama guide Waruga dan melihat2 komplek Waruga seakan akan di jemur di tengah teriknya matahari, selanjutnya kota Bitung-lah yang menjadi tujuan perjalanan berikutnya.

Ke Bitung sebenarnya hanya ingin melihat selat Lembeh dan Pulau Lembeh-nya, karena menurut beberapa sumber ekosistem dan keanekaragaman hayati bawah laut selat lembeh sangat beragam. Tetapi juga tahu waktu tidak akan bisa menikmati keindahan bawah lautnya, setidaknya kalau nanti ada kesematan sudah tahu secara sekilas tentang Bitung. Ketika memasuki kota Bitung, suasana kota pelabuhan pada umumnya langsung terasa. Pelabuhan Alam Bitung ramai oleh kapal-kapal laut yang jumbo sedang berlabuh, ini berbeda sekali dengan suasana pelabuhan di teluk Jailolo yang tenang dan damai. Tidak terlalu terkesan melihat kota Bitung sebagai kota pelabuhannya, pabrik-pabrik besar seperti semen Tonasa, Cocacola dan pabrik pengolahan ikan banyak berdiri disini karena dekat dengan pelabuhan. Untuk itu terus lanjut perjalanan ke arah utara Bitung berharap menemukan tempat yang alami dan tidak ramai. Akhirnya sampai di daerah Tandurusa, disini ada Taman Margasatwa. Istirahat sebentar di taman Margasatwa ini, saya menemukan hewan khas di Bitung yaitu Tarsius yang benar-benar mungil. Tarsius merupakan hewan primata terkecil, bahkan besarnya kurang lebih sama dengan genggaman tangan. Sekilas ketika melihat Tarsius teringat sama Master Yoda di film Starwars, mata yang besar telinga yang lebar dan jari-jari tangan yang lentik panjang haha. Tinggal dikasih light saber jadilah Tarsius tersebut Master Yoda hahaha.

Tarsius Bitung
Bitung Bitung
Tarsius & Pelabuhan Alam Bitung

Angka digital jam di handphone ternyata sudah menunjukan angka 15.10, setelah melihat angka jam tersebut barulah ingat kalau belum makan siang haha. Untuk itu diputuskan menyudahi perjalanan di Sulawesi Utara ini dan balik menuju bandara Sam Ratulangi dengan terlebih dahulu makan siang di resto sekitar Bitung. Sampai di bandara sekitar jam 16.15, langsung menuju Dunkin Donuts hanya untuk sekedar ngopi dan menunggu check in pesawat jam 18an.

Travelling sendiri ini berakhir di bandara Sam Ratulangi, ini merupakan salah satu perjalan yang lumayan jauh yang pernah dilakukan, terlebih semuanya serba sendiri. Banyak hal-hal yang harus dilakukan sendiri terlebih bayar ongkos menginap dan sewa mobil sendiri 🙁 . Tetapi dapat pembelajaran lebih dalam hal skill komunikasi dengan warga setempat. Kemungkinan untuk menyapa warga sekitar kecil sekali apabila jalan-jalan dengan rombongan, tetapi kalau anda travelling sendiri menyapa dan bersikap sopan menjadi hal yang sangat wajib, anda bersikap sopan warga sekitar akan lebih bersikap sopan dan membantu, itulah yang dialami ketika jalan ke Ternate, Halmahera dan Manado ini. Semoga masih diberi kesempatan buat menikmati indahnya alam Indonesia….

Link lainnya di seri Traveling Alone :

  1. Travelling Alone #Day 1 : Ternate, Maluku Utara
  2. Travelling Alone #Day 2 : Jailolo, Halmahera Barat
  3. Travelling Alone #Day 3 : Taman Laut Bunaken, Manado
  4. Travelling Alone #Day 4 : Tomohon, Tondano dan Bitung
  1. Suka bgt baca blog nya dan berencana mengikuti nya krna setype ama cara jalan2 Ku woles dan solo traveller.
    Berencana ke ternate dan manado, akhir bulan ini. Infonya sgt bermanfaat, makasih

  2. waaa bagus banget nih
    bdw total biaya keseluruhan selama di manado-bunaken berapa ya?
    saya butuh infonya krn mau ke manado tahun depan.makasih 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *