Travelling Alone #Day 2 : Jailolo, Halmahera Barat

Dermaga Payo di JailoloBerawal dari ketertarikan terhadap permainan kartu seperti permainain kartu kwartet tetapi ada papan besar yang menampilkan peta Indonesia (sayang lupa nama permainanya karena benar2 mendidik sekali), semenjak kelas 3 SD sudah maniak membolak-balik buku Atlas untuk lebih mengetahui detail peta Indonesia. Sejak kelas 3 SD pula berkat permainan tersebut otak ini sudah dijejali sama peta Indonesia, semua lokasi tempat-tempat seperti Laut Banda, Halmahera, Bunaken, Makassar, Sabang, Sorong, Rote, Komodo, Bali, Tarakan, Derawan, Danau Toba, Bangka, Belitung, Kepulauan Seribu bahkan Karimun Jawa sudah diluar kepala. Dan yang lebih mendidik di permainan tersebut adalah deskripsinya yang secara gamblang entah itu tentang keindahan alam atau tentang sejarah perjuangan bangsa disetiap tempat yang disebutkan diatas. Sepak terjang sultan Hasanuddin di Makassar, Pulau Rote yang berada di ujung selatan Indonesia, keindahan taman laut Bunaken dan Banda yang sampai saat ini terngiang-ngiang di kepala sudah diketahui sejak dahulu. Kelak beberapa tempat yang disebutkan diatas menjadi terpatri diotak sampai saat ini serta menjadi suatu tempat yang wajib di kunjungi. Bersyukur nama2 tempat yang sudah terpatri di otak satu persatu mulai bisa dikunjungi. Salah satunya adalah pulau Halmahera, tepatnya di teluk Jailolo yang dikunjungi. Pulau ini mempunyai tempat di hati ini, karena ketika melihat bentuknya menyerupai Pulau Sulawesi sehingga selalu menyebutnya Sulawesi Kecil.

Teluk Jailolo Teluk Jailolo
Teluk Jailolo Teluk Jailolo

Ternate, Jum’at tanggal 7 juni 2013, sekitar jam 6 pagi waktu setempat badan sudah bersih dan siap sarapan di resto Losmen Kita, kebetulan pas di Ternate menginap di losmen ini. Sarapan di Losmen Kita bener2 sangat tidak menggugah selera karena yang di hidangkan adalah roti tawar yg ujung2nya sudah sedikit garing dan selai yg di simpan di toples tua yang kacanya sudah terlihat kusam. Tapi untunglah masih ada kopi yang mengobati kekecewaan sarapan ini. Sambil menikmati kopi panas di atas meja ngobrol tentang lokasi2 di Ternate dan sekitarnya sama penjaga restonya. Ada beberapa pertanyaan tentang bagaimana cara pergi ke Maitara atau Tidore, atau lama perjalanan apabila ke Sofifi atau Jailolo. Dari percakapan ini belum bisa menentukan lokasi atau tempat yang akan dikunjungi entah itu Maitara, Tidore, Sofifi atau Jailolo. Jam 6.30 selesai sarapan keluar dari Losmen dan menyetop Ojeg yang berseliweran disini.

Asiknya kota Ternate adalah transportasi yang sangat mudah, hampir semua motor yang melintas disini sebagian besar Ojek. Pagi, Siang, Malam bahkan Subuh Transportasi Ojek banyak dan tersedia. Jadi jangan terlalu khawatir masalah mau kemana kalau di Ternate.

Ketika menyetop ojek masih belum tahu mau kemana. Supir ojek bertanya mau kemana, ada jeda beberapa detik sebelum secara spontan menyebut ‘Dufa-dufa’. Iyah dengan spontan kalau menyebut dufa-dufa berarti tujuannya adalah Jailolo. Jadilah Hari ini akan menyebrang dari pelabuhan Dufa-dufa Ternate menuju Jailolo. Jam 7 kurang sampai di pelabuhan Dufa-dufa tempat beberapa speedoat yang akan menyebrang ke Jailolo mangkal. Ternyata penumpang sudah hampir penuh, saya penumpang yang ke tiga puluh sekian dari 40 seat yang tersedia, beruntung juga datang ketika beberapa kursi lagi yang kosong, karena kalau telat dikit maka harus menunggu speedboat berikutnya penuh. Akhirnya beberapa menit kemudian speedboat melaju ke arah Jailolo karena penumpang sudah penuh. Berusaha untuk tetap nyantai tidak terlalu seperti orang yang baru pertama kali ke Jailolo. Tetapi ketika duduk, orang disebalah langsung nanya ‘Mas dari Mana ? Dan mau ke mana di Jailolonya ?’ … hanya bisa bilang ‘Saya dari Bandung dan ke Jailolo entah mau kemana’. Dia agak ngernyitkan dahi mungkin difikirnya ini orang ngapain jauh2 ke Jailolo dari Bandung kalau ngak tau mau ngapain di Jailolo. Akhirnya kami ngobrol ngaler ngidul tentang Ternate. Mungkin karena dia orang Ternate , jadi sayangnya orang ini sama sekali tidak informatif ketika ditanya2 tentang Jailolo. Malah sepertinya saya lebih tau tentang Jailolo di banding dia sendiri karena di Jailolo dia hanya tahu rumah adiknya saja yang kebetulan menikah sama orang Jailolo. Kebetulan cuaca lumayan cerah dan gelombang laut yang lumayan tenang sehingga kurang dari satu jam akhirnya teluk Jailolo sudah ada di dpan mata. Ketika merapat ke pelabuhan dan melihat sekeliling keadaan pelabuhan, Hmmmm sepi sekali tidak banyak orang yg berlalu lalang layaknya pelabuhan2 besar di pulau Jawa. Tukang ojek hanya ada beberapa orang yang dengan secepat kilat menghilang habis di pakai penumpang yang baru turun dari speedboat.

Dan sesaat ketika sampai di pelabuhan Jailolo, tidak tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya hahaha. Dalam benak hanya bisa berfikir ‘hmmmm bused deh ngapain yah .. jauh2 jalan beribu2 kilometer dan sampai tujuan bengong ngak tahu apa yang akan dilakukan hahahaha’ , secara belum sempat banyak survei tentang Jailolo jadi sama sekali buta lokasi-lokasi mana di Jailolo yang patut di kunjungi.

Teluk JailoloTeluk JailoloTeluk Jailolo

Lagi asik-asiknya bengong mau ngapain, ada ojek dari luar dermaga yang habis nganter penumpang menghampiri dan menawarkan jasa ojeknya. Hanya bisa mengiyakan saja dan naik ke atas motornya, lagi2 ketika dia tanya mau kemana, cuman bisa senyum dan bilang kedia jalan-jalan sekitar Jailolo saja. Dia balik tanya ‘iya jalan-jalanya ke arah mana’ dan hanya bilang ‘Terserah bapak aja deh bawa kemana… kalo bisa ketempat2 wisata yg dikunjungi orang’. Seperti orang yang bingung bapak tukang ojek membawa ojek ke arah Pantai Air Panas, habis sampai di lokasi saya bilang ke si bapak “berapa ongkosnya ?”. Sejenak si Bapak agak lama menjawab dia cuma bilang “ya sudah saya anter mas keliling sekitar Jailolo dulu deh nanti saya anterin balik lagi ke dermaga Jailolo” akhirnya jadilah si bapak tukang ojek jadi temen seharian di Jailolo yang merangkap sebagai supir dan guide hahaha.

Pantai Air Panas, Jailolo Pantai Air Panas, Jailolo
Pantai Air Panas, Jailolo Pantai Air Panas, Jailolo
Pantai Air Panas, Jailolo

Ketika pertama kali melihat Pantai Air Panas yang ada di sekitar Bobanehena sebelah barat pelabuhan Jailolo ini, tidak terlalu istimewa dan tidak terlalu terkesan. Suasana sangat sepi yang ada hanya 3 orang anak kecil yang sedang mandi di Pantai. Tetapi ketika tahu kalau disini ada mata air panas yang keluar langsung dari sumber air panas bawah tanah, maka jadi penasaran. Turun lah ke pantai dan ketika berada di sumber mata air panas tersebut langsung berendam di pantai yang sangat sepi ini. Ketika menikmati rendaman air panas sambil melihat sekeliling barulah sadar kalau keadaan alam sekeliling yang tentram ini benar benar keren. Ada bebatuan hitam yg seperti yang ada di Batu Angus tersebar di beberapa titik membuat pemandangan disini semakin unik, dikejauhan jejeran pulau Tidore, Maitara, Ternate terlihat sangat indah. Dari kesan pertama kali melihat pantai yang biasa-biasa berubah 180 derajat menjadi luar biasa.

Dan disinilah nikmatnya kalau menjelajah suatu tempat sendirian, waktu dan tempat semua suka-suka sendiri. Ketika merasa menikmati suatu tempat maka akan berlama-lama lah disitu hahaha.

Bahkan saya cukup lama berendam disini seakan-akan tidak mau keluar dari pantai haha. Dari kejauhan bapak tukang ojek hanya senyum2 saja melihat kelakuan saya yg benar2 norak abis serasa pantai ini milik sendiri hahaha. Kondisi air pantai yang jernih membuat semakin betah disini. Apakah pantai ini yang biasa disebut orang pantai Galau ? hmm tidak tahu, yang pasti anda akan galau melihat keindahan alamnya haha.

Akhirnya setelah kulit tangan sangat berkeriput, langsung naik dari pantai. Selanjutnya bilang ke bapak tukang ojek untuk coba menyusuri pesisir pantai terus kearah barat sekitar Jailolo ini. Laju motor melaju ke arah barat, hanya beberapa saat di atas ojek di kejauhan sudah terlihat ada pantai dan ketika kroscek di GoogleMap ternyata pantai ini berbentuk teluk kecil yang berada di teluk Jailolo, jadilah lokasi ini teluk di dalam teluk hehe. Ojek terus melaju mendekati teluk kecil ini, sesampainya di jalan menuju pantai terlihat dermaga yang sangat sepi, rapih, bersih, tentram dan damai, lokasi ini dinamakan daerah Payo. Lagi-lagi langsung jatuh cinta melihat keadaan sekililingnya yang damai seolah-olah detik-detik waktu berjalan sangat pelan. Di dermaga yang sepi tersebut ada sebuah kapal yang akan berangkat ke Ternate, setelah lihat ternyata kapal tersebut mengangkut sapi-sapi yang jumlahnya lebih dari 2 ekor. Cukup unik juga gimana caranya memasukan sapi ke dalam kapal, dimana sapi-sapi tersebut di cemplungkan ke pantai terlebih dahulu setelah itu baru dia digiring supaya naik ke kapal dengan instingnya. Atau bisa jadi secara tidak sengaja sapinya kecemplung ke laut, karena ketika pertama datang sapinya sudah berada di air hehe. Sepertinya kapal ini lebih ke kapal cargo bukan kapal penumpang umumnya karena lebih banyak muatan barang di banding orang. Di ujung dermaga yang ke arah daratan terdapat rumah yang ada plang bertulisan “kepala desa”, ngobrol dengan 3 orang ibu2 dan 2 orang bapak2 yang duduk2 diteras rumah tersebut. Pertanyaan semuanya bener-bener seragam yaitu dari mana dan lagi ngapain di Jailolo. Lagi-lagi mereka agak terkejut dengan jawaban saya, yang emang iseng jalan ke Jailolo. Tetapi orang-orang disini sangat informatif sekali, mereka cerita tentang Jailolo dan tempat-tempat di Halmahera yg bisa di kunjungi. Dari sini juga dapat informasi kalau terus jalan ke arah barat akan menemui ujung jalan aspal. Di rumah ini juga cukup lama ngaso di teras hehe, dengan diselingi poto-poto keadaan sekitar. Rumah ini juga ideal banget buat merenung karena berada tepat di ujung dermaga yg kearah daratan. Jadi ketika sampai di dermaga dan menuju daratan, rumah inilah rumah pertama yang akan anda lewati. Rumahnya sebenarnya rumah panggung yang berdiri diatas pantai, ketika duduk2 di samping teras rumah ini, kembali suasana damai sekitarnya membikin aura tersendiri. Suasana semakin sepi ketika 5 orang yang tadi ada di teras rumah , yang juga merupakan penumpang kapal yg berangkat menuju Ternate pamit ke saya.

Dermaga Payo di Jailolo Dermaga Payo di Jailolo
Dermaga Payo di Jailolo Dermaga Payo di Jailolo
Dermaga Payo Jailolo

Ketika melihat jam sudah menunjukan jam 12.30, keluar dari dermaga Payo ini karena harus mencari masjid buat Shalat Jumat, yang ternyata kalo ngak salah ingat jumatan disini sekitar jam 12.30. Akhirnya sebelum jumatan request ke bapak tukang ojek untuk melihat ujung jalan aspal ini sampai mana, memang tidak terlalu jauh sudah terlihat ujung jalan tersebut dan jalan tersebut selanjutnya jalan tanah yang menuju perkebunan. Akhirnya balik lagi karena harus melaksanakan shalat jumat. Sehabis jumatan minta diantar keliling kota Jailolo-nya, ternyata kotanya kecil banget hehe cuma beberapa menit sudah bisa di kelilingi. Karena takut terlalu sore buat balik ke Ternate akhirnya balik ke pelabuhan Jailolo jam 2 siang. Dari sini mennunggu sekitar 30 menitan baru speedboat jalan ke arah Ternate.

Dimana lagi bisa menumukan sumber mata air panas yang langsung bertemu dengan air pantai,
dimana lagi bisa menemukan pantai yang sepi dan tentram sambil berendam di air pantai yang hangat,
dimana lagi bisa berendam dan berenang norak-norakan tanpa ada orang yang melihat,
dimana lagi bisa melihat air pantai yang sangat jernih,
dimana lagi bisa melihat suasana dermaga yang sangat tentram, damai seakan-akan waktu berjalan sangat lambat.
Sepertinya semua itu hanya gambaran suasana pantai idaman yang ada di khayalan saya saja.
Hmmmmmm ternyata itu bukan cuma khayalan, semua itu ada di Jailolo.

Jam 3 sore lebih speedboat sampai di pelabuhan Dufa-dufa Ternate, lagi-lagi disini transportasi bener-benar asik, tanpa banyak buang waktu bilang ke tukang ojek untuk mengantar ke Floridas Cafe, Yup pengen balik lagi ke tempat itu buat makan siang yang telatttt karena belum sempet makan di Jailolo hehe. Sampai di Floridas Cafe ternyata menu makananya banyak yang habis, akhirnya pesen apa adanya saja karena tujuan utama kesini buat menikmati keindahan Maitara dan Tidore-nya. Sehabis santai menikmati pemandangan Maitara dan Tidore akhirnya diputuskan buat istirahat dan sebelum istirahat mampir ke Jatiland mall buat beli kartu perdana Telkomsel, karena harus online dan research tempat berikutnya yaitu Manado dan sekitarnya dan ngak bisa mengandalkan sinyal XL di Ternate yang benar2 mati kutu buat internet, jangan sampai kejadian seperti di Jailolo yang ngak tahu apa-apa terulang.

Akhirnya dari Floridas Cafe naik angkot dengan pede-nya, karena tahu banget ngak akan nyasar di Ternate :p, tak lama kemudian angkot tersebut ternyata emang melintas di depan Jatiland Mall Ternate. Setelah beli SIM card dan mau balik ke Losmen, melirik koq ada Excelso cafe disini hehe, hmm sebagai maniak kopi pait espresso, godaan untuk ngopi tak tertahankan, akhirnya mampir ngopi terlebih dahulu dan memesan double shot espresso sebelum balik ke Losmen ketika matahari sudah mulai meredup hehe. Ketika ngopi sepertinya badan yang kumel ini menjadi pusat perhatian kaum ‘Jetset’ Ternate yang sedang ngerumpi disini juga, secara mereka yang bergaya rambut seperti boy band korea berpakaian perlente bersih dari ujung kepala sampai ujung kaki sedang ramai bersosialisasi sambil memainkan gadgetnya, tiba-tiba disebelah meja mereka datang seseorang yang kumal memakai topi kucel bekas bercak2 air laut yang dipakai terbalik, kaos yang belum di ganti selama 2 hari, lengan yang dibalut mandset dengan tulisan Bianchi (yup mandset sepeda ini selalu menempel ketika jalan kelaut hehe) dan celana PDL serta sepatu trekking yang sudah lusuh sambil menenteng-nenteng tas perlengkapan snorkeling yang sudah tidak berbentuk pula haha. Tapi dunia serasa milik pribadi dan saya tidak menghiraukan mereka, lebih baik menikmati kopi sambil sedikit tiduran diatas sofa cafe yang empuk dan panjang ini :p. Sampai di Losmen sebelum tidur research tentang Manado, Bunaken, Tomohon, Tondano dan Bitung. Ternyata baru mendapatkan kontak person buat perahu ke Bunaken di jam 9 malem, padahal pesen buat esok harinya hehe. Mendapatkan koneksi internet emang segalanya hehehe setelah cukup puas researchnya istirahat karena esok harinya pakai flight jam 8 pagi ke Manado.

Bersambung …

Tips Perjalanan Jailolo :

  • Untuk pesawat anda harus menuju Ternate terlebih dahulu , ada beberapa pesawat yang bisa langsung ke Ternate dari Jakarta diantaranya XpressAir, LionAir dan Sriwijaya Air.
  • Pelabuhan Dufa-dufa Ternate buat penyebrangan ke Jailolo (ongkos Rp.50.000). Speedboat berangkat kalau sudah penuh.

Link lainnya di seri Traveling Alone :

  1. Travelling Alone #Day 1 : Ternate, Maluku Utara
  2. Travelling Alone #Day 2 : Jailolo, Halmahera Barat
  3. Travelling Alone #Day 3 : Taman Laut Bunaken, Manado
  4. Travelling Alone #Day 4 : Tomohon, Tondano dan Bitung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *