The Asian-African Museum

KAA 128 Desember 2006 tepat ketika Braga Festival II Bandung di gelar, saya penasaran juga untuk datang melihat-lihat ada apa sih di Braga Festival kali ini. Hmmm ternyata ngak se-special yang ada di angan-angan saya (apakah pas saya kesana emang lagi break atau ekspektasi saya yang terlalu tinggi ke acara itu ???). Tapi ternyata di tengah-tengah kekecewaan saya(kecewa karena meleset dari perkiraan, sedangkan Braga Festivalnya sih cukup meriah) ternyata masih ada tempat yang bagi saya cukup ok untuk hunting gambar yaitu Museum KAA.

Dengan di bekali Nikon DSLR saya yg paling murah saya masuk ke Museum KAA di jalan Merdeka Bandung (pintu masuknya lewat jalan braga). Hmmm ternyata cukup sejuk ruangan yang ada di museum tersebut, dan kesejukan tersebut makin bertambah karena penjaga/pegawai museum yang bener-bener ramah banget walaupun saya ngak di pungut bayaran untuk masuk. Setelah saya meminta izin terlebih dahulu untuk mengambil gambar di museum, pegawai tersebut malah menerangkan ke saya sejarah benda2 yang ada di museum. Btw saya selalu minta izin terlebih dahulu untuk ambil gambar karena pengalaman di beberapa tempat kalau ngak minta izin malah di satroni oleh satpam hehe. Saya kurang tahu apakah satpam nya yang pengen dihargai atau apa soalnya kejadian ketika saya jalan-jalan di Ciwalk, saya di satroni oleh satpam karena ngak boleh ambil gambar (padahal orang2 yang berkeliaran ambil gambar pake kamera pocket di diemin aja).

Hall MuseumDi kesempatan berikutnya saya jalan-jalan ke ciwalk sengaja saya ngomong dulu ke satpam untuk ambil gambar, dan ternyata satpam tersebut mengizinkan. Dan yang lucunya ketika ada satpam lain mau menyatroni saya, satpam yang pertama ngasih tau bahwa saya sudah bilang ke dia. Kesimpulan tidak ada ruginya untuk meminta izin dari pada di satroni dan ngak boleh ambil gambar (diluar apakah satpam tsb yg pengen di hargai atau gimana saya ngak peduli).

Back to Museum KAA, sembari jalan dan masuk ke hall tempat di adakannya Konferensi Asia Afrika, saya membayangkan begitu meriahnya dulu di hall ini karena begitu banyak negarawan yang hadir disini. Saya jadi merinding berdiri di tempat yang sangat bersejarah ini, ditambah lagi suasana yang memang agak-agak mistis (mungkin karena agak gelap dan sejuk kali).

GlobeUntuk fasilitas juga lumayan ok dari booklet yang tersebar di beberapa tempat, serta toiletnya pun jauh lebih bersih dan lebih manusiawi dari toilet terminal yang sudah jelek bayar lagi. Cuman sekedar saran mungkin di kasih papan untuk memberi tahu ke pengunjung dimana sih pintu masuknya dan di kasih keterangan ‘dibuka untuk umum’. Soalnya kalau dari jalan Asia-Afrika sendiri kesannya pintu masuknya itu ekslusif , tertutup dan di kunci. Itu membuat orang-orang yang akan masuk lewat jalan Asia-Afrika jadi segan untuk masuk. Sangat berbeda sekali dengan museum geologi pintunya itu bener bener terbuka dan orang pasti tahu dimana pintu masuknya.

Kamera JadulSatu lagi yang saya setuju dengan konsep baru Museum sebagai Museum Sahabat yang mudah-mudahan akan mendekatkan diri ke masyarakat. Dimana berdasarkan konsep tersebut akan dibangun cafe dan hotspot yang menurut saya amat-sangat-cocok sekali apabila di buat disana, karena suasana yang sejuk,santai dan akan membuat kita rileks karena akan sangat berbeda dengan cafe-cafe yang sudah ada.

Semoga dimasa yang akan datang akan lebih banyak lagi pengunjung yang datang ke Museum untuk lebih mengetahui (menghargai) sejarah bangsa ini …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *