Sindang Barang & Ujung Genteng , 13 tahun yang lalu (1998)

Oktober 1998, kurang lebih 13 tahun yang lalu , petualangan yang memakan waktu 4 hari 3 malam menjadikan suatu pengalaman yang tidak terlupakan dan sangat melelahkan, perjalanan dari Bandung menuju Sindang Barang (Cianjur selatan) dan di teruskan ke Ujung Genteng (Sukabumi selatan), off-road menyusuri pantai yang jalannya tidak menentu tanpa menginap di penginapan satu malam pun. Puncak emosi saya dan temen2 keluar karena tekanan perjalanan yang lebih dari cukup untuk mendidihkan adrenalin kita semua :D. Berempat –Saya,Wisnu,Pepey sama Donny– kami berpetualang keliling Cianjur & Sukabumi selatan dengan menggunakan Mobil SUV Toyoya Land Cruiser + peralatan camera SLR Nikon-nya Wisnu. Dari sini sebenarnya ketertarikan terhadap kamera mulai menghinggapi saya tetapi apa daya 13 tahun yang lalu kamera SLR (Film) merupakan barang yang langka dan super mahal apalagi ketika harus cetak photo beuuuuuuuu. Karena sekitar 13 tahun yang lalu D-SLR belum benar2 booming, saya hanya bisa melihat keanehan2 bentuk dari peralatan kamera tersebut tanpa berani untuk mencoba.

Day 1,
Perjalanan di mulai dari Bandung menuju Sindang Barang. Selepas Cianjur kami menuju Sukanegara dan istirahat buat makan siang, jalan kecil berkelak-kelok yg lumayan sepi melepas perjalanan kami kearah selatan Cianjur. Beberapa saat menjelang Sindangbarang seingat saya saat itu ada beberapa air terjun mini di pinggir jalan utama. Dan banyak pengendara motor yang mencuci motor di pinggir jalan karena air bersih yang melimpah.
Belasan menit setelah adzan maghrib berkumandang , kami akhirnya sampai di Sindangbarang. Kondisi yang gelap tidak memungkinkan kami untuk menikmati suasana sekitar. Akhirnya setelah sholat maghrib dan istirahat sebentar di Masjid Sindangbarang, kami keluar dari keramaian pusat Sindangbarang yang sebenarnya sepi ke tempat yang lebih sepi hehe. Kami menuju arah timur Sindangbarang mencari lokasi pinggir pantai yang sepi. Setelah menemukan lokasi yg sepi akhirnya mobil pun di parkir. Dan yang sama sekali tidak bisa saya ingat ketika itu adalah cara kami beristirahat buat tidur. Benar2 diluar jangkauan memory 13 tahun saya, apakah tidur di dalam mobil atau menggelandang di luar mobil, karena waktu itu kami sama sekali tidak membawa tenda.
Ketika istirahat tengah malam saya mendengar ada rombongan yg lumayan berisik yg juga beristirahat di lokasi yang sama. Karena saking ngantuk dan capenya sepertinya saat itu saya sama sekali tidak mempedulikan kehadiran rombongan tersebut.


Day 2
Pagi hari setelah beristirahat yang cukup, kami berkeliling melihat suasana pantai, karakteristik khas ombak pantai selatan pulau jawa sangat terlihat dengan jelas, gulungan ombak yang super besar tanpa henti menghantam bibir pantai yang berpasir tebal agak hitam. Dan ternyata rombongan yg berisik tersebut, rombongan dari anak2 salah satu SMA/SMK di Sukanegara Cianjur yg sedang berlibur. Dan yg membuat saya takjub dalam satu mobil sepertinya ada sekitar 15 orang, tidak heran berisiknya membahana kemana2 dan keributan pasar kaget di tiap minggu pagi yang ada di Cipadung kalah berisik hehe.

Setelah melihat2 lokasi dan melihat posisi kendaraan tempat kami parkir, saya sendiri agak pesimis kalau mobil tersebut bisa keluar dari lokasi saat itu, dan ternyata pesimistis saya tersebut terbukti, kami tidak bisa keluar dari pantai menuju jalan utama karena terjebak di lokasi yg lumayan sulit. Saya ngak ingat kenapa malamnya tersebut kita memilih tempat lokasi parkir mobil yg one way saja (bisa masuk tapi akan terjebak ngak bisa keluar) atau emang pas paginya jalan2 turun ke pantai menjebakan diri di tumpukan pasir hehe.
Tapi akhirnya keberisikan anak2 ABG SMA tersebut memberikan manfaat buat kami dan saya pribadi benar2 berterimakasih atas pertolongan mereka. Dengan pertolongan belasan anak2 ABG tersebut akhirnya Landcruiser yg segede gaban pun bisa keluar dari lokasi yg sulit dengan cara di dorong. Karena ketika kami bertiga mendorong, sepertinya mobil tersebut dengan congkaknya tetap bertahan padahal sang supir sudah menginjakan kakinya di pedal gas yg sangat dalam, dan yg terjadi ban mobil tersebut hanya berputar di tempat tanpa beranjak satu kakipun hehe.
Setelah itu wisnu temen saya sang photografer membayar anak2 ABG tsb dengan beberapa klik-an shutter speed dari kamera Nikon-nya dan berjanji akan mencetak photo rame2 tsb dan di kirim ke alamat sekolah yg mereka kasih.

Setelah lepas dari perangkap pasir pantai Sindangbarang perjalanan dilanjutkan kearah barat menuju Ujunggenteng. Dengan berbekal peta kabupaten sukabumi yg benar2 tidak akurat (untuk jalan2 yg bukan jalan utama) kami tetap gerasak gerusuk mencari jalan dan akhirnya kami putuskan lewat Agrabinta menuju Tegal Buleud lalu Surade.
Dan kondisi jalan menuju Agrabinta benar2 ancur dan bukan jalan aspal yg rusak tetapi jalan tanah yg berlumpur karena kondisi sedang musim hujan.
Beberapa kali kami terjebak di kubangan lumpur tsb, tetapi masih bisa di handle oleh kami.
Sempat terfikirkan apakah perjalanan terus dilanjutkan lewat Agrabinta atau muter balik lagi ke arah Sindangbarang dan kalo muter balik terasa jauh banget dan juga malas melewati ranjau-ranjau lumpur yang dengan susah payah telah kita lewati. Tetapi kalo diteruskan pun kondisi jalan semakin offroad dan keriting walopun kami memakai mobil yg di peruntukan buat kondisi jalan seperti itu, tetapi apapun tetap ada batasnya. Alam bukan untuk di taklukan tetapi untuk di hormati, kitalah yang harus beradaptasi dengan alam.


Tidak terasa sore hari kami sudah melalui Agrabinta, dan berdasarkan peta Tegalbuleud-pun tinggal beberapa KM lagi. Tetapi kondisi jalan semakin tidak membaik, mungkin karena kita takabur terlalu percaya dengan kemampuan teknologi Toyota Land Cruiser, akhirnya alam memberikan pelajaran gratis yang amat sangat berharga. Ditengah hutan/perkebunan yang sangat sepi, kami pun terjebak untuk yg kesekian kalinya dan kali ini benar2 terjebak dan tidak berkutik, teknologi mobil mewah kami sama sekali tidak bisa memberikan solusi buat keluar dari kubangan lumpur yang lumayan dalam. Emosi mulai naik dan walaupun tidak secara langsung kami saling salah menyalahkan tetapi secara tensi emosi sudah menuju kearah saling menyalahkan. Ditengah suasana sekitar yang sangat sepi dan suasana semakin gelap serta diliputi kebingungan di campur kalut dan tidak tahu apa yang harus dilakukan, saya tetap memilih menggali lumpur tersebut dengan tangan kosong dan mengisi kekosongan lumpur tersebut dengan batu2 yg ada disekitar situ. Usaha tersebut benar2 tidak ada hasilnya, tetapi difikiran saya lebih baik terus berusaha dibanding diam dan membiarkan emosi menguasai dan menutupi fikiran positif kita.

Hari mulai menggelap, semua usaha yang kami lakukan sia-sia. Tetapi ditengah-tengah rasa frustasi tersebut ternyata masih ada secercah harapan karena ternyata ada orang yang lewat dan berhenti ngobrol sama kami, semakin lama orang yang lewat semakin banyak, dan ternyata jam itu emang bertepatan dengan jam orang2 perkebunan balik ke rumah. Rombongan pekerja kebun semakin banyak dan berhenti sekedar untuk menonton kekonyolan orang2 kota yang merasa sok untuk menaklukan kerasnya jalan perkebunan disitu. Kami berempat serasa menjadi ‘topeng monyet’ yang selalu mengadakan dagelan di perempatan jalan. Dan hiburan ‘topeng-monyet’ gratis tersebut seolah2 pas menghibur pekerja kebun yang sudah kelelahan seharian bekerja.

Tetapi saya amat sangat respect banget ke orang yang di tuakan/di hormati di antara orang2 tsb. Walaupun masih dengan nada menyalahkan kami karena merusak jalan desa yang emang dulunya ancur semakin ancur ngak karuan, tetapi masih dengan tanpa pamrih mengajak orang2 sekitar tersebut membantu kami untuk mendorong mobil. Jadilah hiburan buat penduduk setempat menjadi lengkap dengan aktivitas dorong mendorong mobil. Akhirnya kami putuskan untuk balik badan karena menurut info jalan di depan akan semakin ancur. Dan si bapak yang lumayan di hormati disitu dan saya lupa namanya mengajak kami berempat menginap di rumah dia. Kami pun di jamu dengan lagi2 tanpa pamrih dan yang membuat kami menjadi amat sangat tidak enak adalah ketika si bapak mempersiapkan kamar buat kami. Setelah 2 hari perjalanan yang lumayan cape dikasih tempat tidur yang empuk langsung nyungseb tanpa mempedulikan kejadian yang telah di lewati hehe.

Kami benar2 berterima kasih ke bapak yang saya lupa namanya hehe, bisa anda bayangkan kami berempat yang merusak jalan desa masih sempat di tolong oleh penduduk untuk keluar dari jebakan lumpur, setelah keluar dari jebakan terus dijamu di rumah dia dan dipersiapkan kamar yang benar2 bersih dan kami tidak tahu ‘penghuni’ kamar yang asli di usir kemana hehehe.
Kami pun tidak bisa meminta lebih dari apa yang telah si bapak berikan buat kami, dan yang menjadi pertanyaan besar adalah apakah orang2 kota (atau KAMI) kalau melihat ada orang daerah kesulitan di kota akan melakukan hal yang sama dengan si bapak tadi ?????

Agra Binta merupakan daerah hutan Jati yang sepi+angker dan kalau ngak salah ada perkebunan Teh juga deh (CMIIW soalnya lupa-lupa ingat). Daerah ini mungkin lebih parah di banding Sindang Barang. Seharian penuh menelusuri daerah ini bener-bener munguras adrenalin. Sepanjang perjalanan mobil kita selalu nyangkut di lumpur dikarenakan jalan hancur walaupun kita pake SUV, itu benar-benar moment yang menakutkan, ditambah pikiran saya di penuhi hal-hal yang negatif entah itu perampok atau apalah.

Day 3
Setelah berterima kasih kepada tuan rumah pagi harinya perjalanan balik badan di lanjutkan.
Karena perjalanan lewat Agra-Binta ke Tegal Buleud ngak berhasil, perjalanan di putar balik melalui Jampang Kulon ke Surade baru ke Ujung Genteng, dan nama daerah Tegal Buleud menjadi momok yang menakutkan buat kami hehe. Dan perjalanan terus di lanjutkan ketika mau sampai di daerah Jampang Kulon, ada moment yg tidak mengenakan. Ada ‘oknum’ preman kampung yang menabrak mobil kita dari belakang, sudah tahu dia yang salah tapi malah dia yang marah-marah. Tadinya kita agak2 emosi juga, cuman berhubung ini di tempat orang dan kita pake mobil yang cukup mewah (untuk ukuran saya) dan pasukan cuman 4 orang, akhirnya kita ngalah agak muter balik (soalnya dia mengancam akan mengumpulkan orang sekampung), tapi ketika kita muter balik kita ketemu orang sana yang baik banget, nanya kita kenapa muter balik, setelah kita jelaskan permasalahannya dan emang kita ngak salah lalu orang tersebut di temani 1 orang lagi malah ‘mengawal’ kita sampai surade.. orang2 disana sebenarnya sudah muak dengan preman kampung tadi …hmm ternyata masih lebih banyak orang yang baik dari pada oknum premannya. Dan ini lagi2 menambah respect saya terhadap orang2 di sana.


Selepas Surade tujuan akhir Ujung Genteng sudah di depan mata, jalan yang selama ini kami lewati offroad habis, ketika lepas dari Surade pas di perkebunan Kelapa kondisi jalan benar2 mulus kala itu. Akhirnya kami sampai di Ujung genteng selepas maghrib. Setalah tanya sana sini menanyakan kondisi jalan ke daerah penangkaran penyu di pantai Pangumbahan akhirnya sekitar jam 9 atau 10 malam kami menyewa 1 tukang ojeg sebagai guide dan navigator menuju Pangumbahan. Malam hari kala itu di daerah ujung genteng masih belum terjamah listrik, perjalanan ke Pangumbahan benar2 offroad lagi dan mengingatkan saya ke kejadian di Tegal Buleud, malah suasana lebih gelap dan jalan benar2 tidak terlihat karena yang terlihat hanya genangan air saja, untunglah navigator yg kita sewa cukup menguasai jalur menuju Pangumbahan.

Tahun 1998 sepanjang daerah Ujung Genteng ke Pangumbahan benar2 sepi dan tidak banyak penginapan seperti sekarang, malah di daerah Cibuaya (kala itu seingat saya) kami masih bisa bermain2 di muara sungai dan tidak ada satupun bangunan penginapan yang berdiri

Kami benar2 beruntung ketika sampai Pengumbahan ada penyu yang lagi mendarat dan sedang bertelor, penjaga penangkaran mewanti2 kami untuk tidak menyalakan senter kecuali kalo penyu sudah bertelor. Setelah melihat kondisi penyu yang sedang bertelor, membuat saya iba hehe. Dia meneteskan banyak air mata dan setelah bertelor dia dengan susah payah menutupi lubang yang berisi cikal bakal penyu2 yang akan menjelajah lautan. Dan momen tersebut benar2 moment yang amat sangat berharga buat saya, kalo itu untuk pertama kalinya saya melihat penyu liar yang sedang bertelor dan kembali lagi menuju lautan lepas. Setelah cukup puas melihat proses perkembangbiakan penyu akhirnya kami balik ke Ujung Genteng untuk beristirahat, dan lagi2 kami pun tidur menggelandang di warung tenda yang dulu ada di sekitar pantai.

Ketika itu ada 2 rombongan yang jumlah totalnya tidak lebih dari 10 orang yang sedang melihat penyu bertelor. Kami tuh rombongan kedua yang datang sedangkan rombongan pertama sudah nongkrong di dekat penyu, dan kondisi sama sekali gelap karena tidak di perbolehkan menyalakan senter. Nah kombinasi rasa penasaran temen saya untuk melihat penyu yang sangat tinggi di tambah kondisi gelap gulita menciptakan suasana yang amat sangat kocak. Sepanjang perjalanan dia menanyakan terus ke penjaga penangkaran dimana penyunya. Dan setelah sampai di tempat penyu bertelor lagi2 karena suasana yg gelap maka penyu hanya samar2 terlihat. Dan disinilah kekonyolan berikutnya terjadi… mungkin dia mendengar suara2 bergerak di depan dia dengan nada penasaran dia menunjuk sekitar beberapa centimeter ke kepala orang2 rombongan pertama yang lagi jongkok dan sambil bertanya ke penjaga penangkaran seperti ini “Pak kalo ini apa yah”, kontan saya langsung ketawa tetapi masih saya tahan karena takut mengganggu proses perkembangbiakan penyu hehe, dan yang lebih konyol penjaga penangkaran tersebut menjawab dengan serius “Kalo Itu mah Orang Kang” .. hahahahahahahaha.

Day 4

Pagi hari setelah mengelandang di warung tenda, kondisi badan sudah tidak karuan apalagi bau badannya karena terakhir mandi kala itu di tegal buleud. Posisi baju yang menempel di tubuh masing2 sudah tidak jelas identitasnya. Heri memakai Baju saya, sedangkan saya sendiri memakai bajunya wisnu hahaha. Lega, seru, puas itulah perasaan yang ada, akhirnya tujuan yang di tuju tercapai sudah. Sekitar jam 9 atau 10 pagi kami pun memutuskan untuk menyudahi petualangan kali ini. Dan jalan yang di tempuh untuk jalur pulang kali ini mengambil jalan raya yang selama ini di pakai sebagai akses ke Ujung Genteng. Setelah selama 3 hari melewati jalan2 offroad yang tidak karuan, melewati jalan beraspal membuat perjalanan sangat nyaman hehe. Ujung Genteng, Surade, Jampang Kulon tidak terasa sudah terlewati, dan pertigaan Kiaradua yang memecah jalan yang menuju Pelabuhan Ratu atau Sukabumi di depan mata. Kami akhirnya memilih jalur sebelah kanan ke arah Sukabumi. Setelah masuk ke jalur utama jalan raya sukabumi-pelabuhan tepatnya daerah Cikembar semuanya berteriak akhirnya sampai juga di peradaban yang cukup ramai hehe. Dan akhirnya perjalanan pun diakhiri karena selepas Sukabumi tidak begitu lama akhirnya sampai kembali ke Bandung.

Photo2 jadul di ambil dari hasil scan hehehehe

Cerita perjalanan ini membuat saya ingin kembali ke Ujung Genteng, akhirnya setelah 13 tahun menunggu untuk menjenguk suasana Ujung Genteng terkini tercapai juga. Jum’at malam tanggal 1 Juli 2011 dengan amat sangat mendadak perjalanan napak tilas Ujung Genteng pun terlaksana walaopun dengan kondisi yang amat sangat nyaman karena bukan berpetualangan offroad seperti 13 tahun yang lalu. Dan cerita perjalanan Ujung Genteng terkini pun akan berlanjut ….. to be continued (13 Tahun Kemudian)

  1. mantabh..he3..
    jd nostalgia 15 thn lalu..ke agrabinta, cma sy pke mtr…jd msh bs didorong & diangkat…ha3..
    sdgkn k ujunggnteng sh…bpk prnh tgs 4 thn di jampangkulon,(sdkt) familiar..

    nice articles..:)

  2. Gun… ternyata saya nggak ada di foto ya..15 th lalu…ya..

    poor me… ya.. begitulah mahasiswa kere dimasa itu.. mesti menghitung uang saku cukup tidak sampai bulan depan..

    tapi teman2 hebat semua.. sipp..
    sekali lagi saya kehilangan moment ini..

    thanks. Gun

    • @Sani : sama2 Pak Dosen 😉 … tapi kebalik kayaknya San .. Sani kayaknya dah terbiasa dan banyak belajar hidup nge-kost dan mandiri semenjak kuliah hehe ..kalo saya telat .. taunya harus mandiri pas kerja hehe jadi agak kaget, btw. tapi dulu sih seinget saya pas jalan tuh uang ketika berangkat dan pulang masih utuh hehe … sepertinya di subsidi oleh Wisnu … jadi malu nih hehe

  3. luar biasa….saya pertama kali ke ujung genteng tahun 2010 dan masih sangat indah. Kecuali memang sudah sangat ramai. Foto-fotonya nostalgic sekali.

  4. mantap, vx80 nya standar banget, makanya ketika stuck harus di sodok rame2 oleh manusia, mestinya bisa lolos sendiri dg 4wd plus tools recovery ( kalo ada )

    nggak apa2, yg demikian malah natural, i like it that vx stock one

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *