[Sepeda] Trek Cigending – Palintang

Palintang, Desa Cipanjalu Kecamatan Cilengkrang hanya berjarak 7.8 KM dari jalan raya Ujung Berung Bandung. Dengan jarak tersebut kita sudah bisa merasakan suasana pedesaan yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Jejeran rumah-rumah panggung menambah ke khas-an suasana desa yang menyatu dengan alam. Sebuah desa yang berdiri di ketinggian kurang lebih 1441 meter di atas permukaan laut membuat udara sekitar desa ini sejuk di tambah gunung/bukit yang memunggungi desa tersebut selalu di selimuti oleh kabut membuat suasana pemandangan alam sekitar semakin redup dan seakan-akan membuat segala sesuatunya berjalan semakin melambat, semua beban pikiran seakan-akan tertarik oleh kabut sekitar dan menguap bersamaan dengan waktu.

Berjalan sedikit keatas keluar dari desa Palintang ada lapangan yang lumayan luas yang di apit oleh pegunungan Palasari dan Manglayang, suasana hutan yang masih hijau memunggungi lapangan tersebut dan ke arah selatan melihat kebawah terlihat jejeran atap rumah desa palintang dan semakin kebawah ke arah selatan di kejauhan terlihat suasana kota yang berada di cekungan Bandung. Beberapa penduduk desa yang sudah lumayan berumur terlihat berjalan dengan perlahan-lahan tetapi pasti melintasi lapangan ini sambil menggendong gundukan rumput di punggungnya. Dan sangat lah tepat karena keindahan suasana alam sekitar nya itu, menjadikan lapangan ini sebagai tempat buat sekedar menarik napas para nggoweser yang kecapaian dan juga tempat bercengkrama dengan nggoweser lainnya.


Sabtu pagi 7 Januari 2012, kami bertiga berangkat dari daerah Cipadung dekat bunderan Cibiru kearah Alun-alun Ujungberung. Setelah 800 meter turun dari jalan ds.Cipadung ke jalan raya AH.Nasution, suasana jalan raya yg lumayan dipenuhi angkot dan bis membuat nggowes di jalan ini tidak menyenangkan :D. Tapi untunglah jalan raya yg harus di lalui hanya sekitar 2.7 KM saja, karena sekitar 3.5 KM dari posisi start, kami sudah sampai di sekitar alun-alun Ujungberung. Memasuki jalan Cigending jalanan sudah mulai menanjak dan sekitar 1.5KM dari alun alun Ujungberung sampailah di pertigaan antara Cinangka dan Tanjakan Panjang, kita ambil jalan Tanjakan Panjang. Dan seperti namanya tanjakan disini bener2 puannnjangggg. Dan setelah melewati kampung Tanjakan Puaaaaanjang tsb sambil ngos-ngosan dan beberapa kali istirahat akhirnya sampai di pertigaan jalan Palalangon Wetan, tepatnya 4.8 KM dari alun2 Ujungberung.

Tepat 6 KM dari alun2 UB, kami istirahat lumayan lama di warung pinggir jalan, dan setelah ngobrol sama ngooweser yang lain juga, ternyata di lapangan Palintang para tentara lagi ngadain upacara. Dan entah upacara apa, menurut nggoweser yg sudah sampe ke lapangan katanya tidak bisa di lewati karena masih upacara. Tapi beberapa saat kemudian belasan truk dan kendaraan kecil yang di tumpangi tentara muncul dari arah atas, yang menandakan kalau upacaranya sudah selesai. Akhirnya nggowes kami lanjutkan kembali walopun dengan kondisi betis yg semakin mengeras hehe.


Dan akhirnya di jarak 7.8 KM dari Ujungberung atau 11.3 dari awal posisi start, kami sampai juga di SD Palintang sebagai penanda kalau kami sudah sampai di kampung Palintang. Masih ada beberapa tentara sisa upacara di Palintang. Dengan sapaan ramah para tentara tsb mengajak untuk sekedar beristirahat dan mampir makan di warung dekat SD Palintang. Tetapi kami harus menolak karena kalo kebanyakan beristirahat di warung yang ada perut kami akan berat hehe. Dengan terlebih dahulu melewati tanjakan extrim untuk keluar dari kampung Palintang tersebut akhirnya 1 KM dari SD Palintang tadi kami sampai juga di lapangan tempat para nggoweser berkumpul.


Agak sedikit takjub setelah melihat pemandangan sekitar di lapangan Palintang ini. Karena lapangan di punggungi oleh pegunungan yang ditutupi kabut, dan ada jalan kecil yg nanjak berkelok-kelok menuju pegunungan Palasari. Dan di arah sebaliknya atap perkampungan Palintang dan kota Bandung di kejauhan terlihat dengan jelas. Semoga keindahan dan keasrian hutan,gunung di sekitar palintang tetap terjaga dengan baik, karena sangat terasa sekali udara disini yang sangat sejuk dan segar bebas dari polusi. Setelah beberapa saat menikmati keindahan Palintang, akhirnya karena waktu sudah makin siang kami akhirnya turun kembali dengan rasa puas tersendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *