Selamat datang di Pelabuhan Balohan Pulau Weh, Sabang

Teluk Balohan SabangPulau Weh Sabang yang secara administratif masuk wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam ini secara de facto bukan pulau paling barat dan utara Indonesia, tetapi sudah identik sebagai pulau dibagian paling barat dan utara Indonesia. Mirip dengan pulau Rote di Nusa Tenggara Timur yang menyandang nama sebagai pulau paling selatan Indonesia walau secara de facto masih ada pulau bernama Ndana yang berada disisi sebelah selatan pulau Rote. Bahkan lirik lagu perjuangan karya R. Surarjo yang berbunyi “Dari barat sampai ke timur, Berjajar pulau-pulau” pun atas rekomendasi presiden Soekarno diganti menjadi “Dari Sabang sampai Merauke, Berjajar pulau-pulau” . Tetapi istilah dari Sabang sampai Merauke sebenarnya dikeluarkan pertama kali oleh J. B. van Heutsz dengan memakai bahasa Belanda yaitu “Vom Sabang tet Merauke”. Istilah tersebut keluar setelah J. B. van Heutsz memproklamirkan kemenangan perang Aceh yang berlangsung dari tahun 1873 sampai 1904 sebagai bentuk hegemoni Belanda ketika mencengkram bumi Nusantara ini. Ditanggal 9 September 1997, wakil presiden yang kala itu dijabat oleh Tri Sutrisno meresmikan tugu Kilometer Nol disisi Barat Laut pulau ini tepatnya di Desa Iboih Ujong Ba’u Sabang, yang semakin menguatkan kalau pulau ini benar berada ditapal batas.

Teluk Balohan, Sabang

Teluk Balohan, Sabang

Sebelum tahun 1870 pelaut-pelaut Eropa biasa melewati selat sunda sebagai pintu masuk ke perairan Nusantara, karena jalur pelayaran yang mengharuskan semua kapal dari Eropa memutar memutari benua Afrika. Dari Afrika Selatan langsung menuju selat Sunda karena akan jauh lebih dekat dibanding harus melaut ke arah utara melalui selat Malaka. Tetapi ketika terusan suez dibuka ditahun 1870 posisi selat Malaka menjadi sangat penting, karena sekarang pintu masuk menuju perairan Nusantara bahkan perairan Asia Timur akan lebih dekat melalui selat Malaka. Selain itu jalur ini bisa melewati kota-kota pelabuhan sepanjang Timur Tengah sampai ke India. Ketika selat Malaka memainkan peranan yang lebih penting, pulau Weh menjadi suatu pulau yang sangat strategis bahkan lebih berperan penting dibandingkan Singapura. Melihat posisi yang strategis tersebut tak heran pada tahun 1881 pemerintah Hindia Belanda yang waktu itu sedang menguasai wilayah ini membangun pelabuhan pengisian air dan batubara yang biasa disebut Kolen Station. Selanjutnya pelabuhan Sabang ini semakin besar dan dijadikan tempat mensuplai komoditi export hasil bumi Nusantara ke Eropa. Sehingga di tahun 1895 pelabuhan Sabang menjadi pelabuhan bebas yang dikenal dengan nama Sabang Maatsscappij. Tahun 1942 ketika Sabang dikuasai Jepang, pelabuhan bebasnya ditutup. Jepang pun menjadikan Sabang sebagai basis pertahananya. Dan ini terlihat dengan bekas bungker-bungker dan benteng di sekeliling pulau Weh terutama sisi sebelah timur pulau. Ketika perang dunia ke II pelabuhan Sabang di bom oleh sekutu yang menyebabkan hancurnya pelabuhan penting ini. Sayang setelah perang dunia ke II, pelabuhan bebas Sabang berangsur-angsur berkurang perananya. Terlebih pelabuhan di Singapura yang terus membesar semakin menengelamkan peranan pelabuhan bebas Sabang. (Beberapa sumber sejarah yang ditulis diatas hasil rangkuman dari http://www.sabangkota.go.id/profil/sejarah/)

Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh

Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh

Pulau Weh, tidak terbayangkan sebelumnya kalau diakhir tahun ternyata susah untuk mencari penginapan dan sewa transport dipulau kecil yang bertipe stratovolcano ini. Semua hotel yang ada di list blog-blog atau dari tweet kicauan orang yang dicari diujung Barat Indonesia ini sudah full book oleh orang-orang yang akan merayakan liburan akhir tahun (walaupun kenyataannya yang penuh itu hanya daerah Iboih dan Anoi Hitam saja). Untuk mencari rental mobil di pulau yang sisi terpanjangnya kalau diukur pakai google map hanya +-20km ini juga sama susahnya. Surfing lewat layanan booking hotel online layaknya Agoda atau Asiaroom atau yang sejenisnya juga sama sekali tidak mendapatkan hasil. Tetapi hal ini terjawab sudah ternyata kebanyakan penginapan-penginapan terutama di Iboih tidak banyak yang menerima bookingan online, mereka lebih suka menerima tamu yang go show. Ketika membaca sepenggal berita dari media online lokal Aceh tentang penginapan di Sabang 80% sudah dibook untuk liburan akhir tahun 2013, membuat semuanya jadi malas untuk mempersiapkan perjalanan kali ini. Sempet berfikir untuk jalan saja tanpa ada itinerary, tanpa book penginapan atau juga tanpa transport yang jelas. Yang paling penting adalah sampai dulu di Aceh. Melakukan perjalanan yang serba mendadak untuk perjalanan sendiri tanpa itinerary bukan masalah karena sudah sering dilakukan, tetapi kali ini perjalanan tidak sendiri team travelling-nya lebih kumplit yang menginginkan segala sesuatunya berjalan dengan lancar . Enam hari tanpa ada rencana yang jelas akan membuat travelmate yang lain tidak nyaman, walaupun ujung-ujungnya tetap saja perjalanan tanpa itinerary serta tanpa kejelasan mau menginap dimana. Setelah googling sana sini serta pelototi tweet tentang Sabang dan pulau Weh-nya lebih teliti dan telepon puluhan nomor contact akhirnya dapet juga contact untuk transport selama di pulau Weh, walau penginapan tetap belum dapat.

Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh

Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh

Untuk menuju Sabang dari Banda Aceh harus melalui pelabuhan Ulee Lheue. Pagi ini kondisi pelabuhan Ulee Lheue terlihat sangat rapih, tetapi tidak dengan penanganan para penumpangnya. Tiket tidak hanya diperjual-belikan diloket penjualan saja. Tetapi ada juga orang-orang yang memperjual-belikan tiket diluar loket resmi. Penumpang yang mengantri tidak diinfokan kapan loket dibuka. Mereka mengantri tanpa ada kejelasan, untuk orang yang baru pertama kali menyebrang lewat Ulee Lheue pasti bingung, hanya bisa mengekor dibarisan paling belakang. Kekacauan berlanjut ketika tiket yang dijual oleh orang-orang diluar loket tiket resmi tidak disertai informasi nomor kursi. Selanjutnya bisa diprediksi, banyak penumpang kecewa karena nomor kursi menjadi tidak berlaku, siapa cepat dia dapet. Manajemen penjualan tiket di pelabuhan Ulee Lheue harus banyak belajar dari penjualan tiket di pelabuhan Tenau Kupang. Walaupun di Tenau secara fasilitas jauh lebih sederhana tetapi lebih tertib dan rapih.

Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh

Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh

Beruntung malam pertama menginap di Banda Aceh, penginapannya tidak terlalu jauh dari pelabuhan. Sehingga bisa datang lebih pagi untuk mengantri tiket. Tiket Express Bahari sudah ditangan, tiket dimasukan ke tas kamera. Ternyata bekas tiket ketika menyebrang dari Kupang ke Rote masih ada dalam tas kamera. Bentuk dan design tiket benar-benar sama cuma tertulis beda tujuan saja. Kelak saya akan merindukan tas dan kameranya, ini terakhir kalinya tas dan kamera tersebut menemani jalan-jalan setelah kurang lebih 9 tahun selalu ikut serta mendokumentasikan keindahan alam Indonesia. Karena selanjutnya tas, kamera dan lensanya (lensa yang baru berumur beberapa bulan) tersebut raib dicuri orang.

Gelas Duralex Kopi Saring Aceh

Gelas Duralex Kopi Saring Aceh

Pagi hari ini, aroma kopi saring Aceh untuk pertama kalinya tercium oleh hidung. Dari aromanya saya sudah bisa menebak kalau biji kopinya berasal dari seduhan biji kopi Robusta. Ketika rasa kopi sampai kelidah, lebih menguatkan tebakannya kalo biji Robusta berada dibelakang kenikmatan ini. Rasanya bold yang strong khas Robusta, wangi earthy yang dominan dan tingkat keasaman yang sangat rendah. Untuk pertama-kalinya seruputan kopi saring Aceh mengubah pola mengopi saya ketika jalan-jalan di Aceh. Kesetiap tempat makan yang dicoba, entah pagi , siang atau malam selalu disertai request “ada kopi saring ngak?” . Ada beberapa kedai kopi atau tempat makan yang ngak enak karena menggunakan gilingan kopi basi tapi secara keseluruhan, sebagian besar mengeluarkan aroma kopi yang nikmat dan sangat khas kopi saring Aceh. Seruputan kopi pertama kali tersebut dinikmati dipelabuhan Ulee Lheue ketika tiket sudah di tangan sambil menunggu kapal cepat yang akan menyeberang ke pelabuhan Balohan Sabang. Yang unik tentang kopi saring Aceh adalah gelasnya. Penyajian kopi dihampir sebagian besar kedai kopi Aceh sama yaitu memakai gelas Duralex. Walaupun ngak yakin mereknya benar Duralex tapi setidaknya gelasnya mirip dengan design gelas keluaran merk Duralex.

Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh

Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh

Baru saja menikmati sensasi kopi saring Aceh untuk pertama kalinya, panggilan buat menaiki kapal sudah diumumkan. Ini berarti gelas kedua yang dipesan harus segera diminum. Cuaca di pelabuhan Ulee Lheue sejenak sebelum berangkat masih terlihat sangat cerah, tetapi ketika melihat kearah pulau Weh berada, terlihat awan gelap menaungi pulau terbesar di kota Sabang tersebut. Setelah terjadi sedikit insiden kekacauan penumpang karena ulah penjual tiket yang bukan di loket resmi, Kapal Express Bahari akhirnya berlayar kearah utara menuju pelabuhan Balohan Sabang yang berada diteluk Balohan diselatan pulau Weh. Oh iya pulau Weh mempunyai dua teluk dalam yang sangat strategis untuk dijadikan pelabuhan alam yaitu pelabuhan Sabang di teluk Sabang sebelah utara pulau dan pelabuhan Balohan di teluk Balohan sebelah selatan pulau. Waktu terus berjalan, ketika kapal melaju diatas lautan sesekali saya mengecek keberadaan kapal ini dengan GPS. Terlihat baru setengah jalan yang terlalui. Kondisi kapal benar-benar penuh oleh penumpang. Beberapa penumpang tidak mendapatkan tempat duduk padahal dengan jelas ditiketnya sudah ada tertulis nomor kursi. Bahkan beberapa rombongan penumpang dengan kecewanya lebih memilih menununggu keberangkatan kapal berikutnya. Tips menaiki express bahari di Ulee Lheue (juga Balohan) , jangan terpaku dan santai saja setelah dapat tiket dan nomor kursi. Anda harus gesit memasuki kapal dengan cepat karena nomor kursi ditiket tidak ada pengaruhnya. Teriakan dan jeritan tangisan anak-anak kecil terus melengking silih berganti. Dua cangkir kopi Robusta yang memiliki kandungan caffeine lebih tinggi di banding Arabika, ditambah teriakan dan lengkingan anak-anak kecil tersebut sama sekali tidak mengganggu saya untuk memejamkan mata sebentar karena tahu perjalanan masih tersisa setengahnya.

Teluk Balohan Sabang

Teluk Balohan Sabang

Kondisi gelombang beberapa saat sebelum memasuki teluk Balohan sangat tenang, terlihat beberapa puncak gunung/bukit dipulau Weh yang menyembul keatas sedang tertutupi oleh awan hitam, dan salah satunya mungkin puncak gunung Jaboi. Tak berapa lama kapal cepat Express Bahari sudah bersandar di dock pelabuhan Balohan. Sebuah pelabuhan kecil yang bertitle “Pelabuhan Bebas” ini tidak semegah dan serapih pelabuhan Ulee Lheue di Banda Aceh. Walaupun pelabuhan Balohan menjadi pintu masuk ke kota Sabang dari Banda Aceh, tetapi pelabuhannya sendiri tidak terlalu ramai.

Kurang lebih satu jam waktu yang dibutuhkan untuk menyeberang dari pelabuhan Ulee Lheue Banda Aceh ke pelabuhan Balohan Sabang. Tas carrier yang berisi peralatan snorkeling dan baju salin buat keperluan lainnya selama perjalanan 6 hari sudah berada dipunggung. Dengan beban tas yang lumayan berat saya melangkah menginjakan kaki untuk pertama kalinya di pulau Weh. Cuaca dingin dan gerimis menyambut kedatangan kami. Awan mendung agak gelap masih menutupi langit Sabang sehingga sinar matahari tidak total menerangi langit Sabang. Suasana yang benar-benar emosional bagi saya pribadi. Perasaan untuk bersyukur ini rasanya sama ketika kaki ini berdiri di ujung selatan pulau Rote sambil menatap Pulau Ndana di pantai Boa. Kepuasan yang sama ketika menatap jejeran pulau Tidore, Maitara, Ternate dan Hiri diatas tanah Halmahera. Juga perasaan excited yang sama ketika melayang dipermukaan laut Bunaken. Atau keharuan yang sama ketika bisa berenang dengan pari Manta di Derawan. Yah tempat-tempat yang saya sebutkan diatas dikunjungi bukan karena keindahan alam atau tempat wisatanya. Dikunjungi dengan tujuan untuk merealisasikan mimpi yang sudah tertanam semenjak kecil. Mimpi seorang anak yang sangat maniak melototin peta. Mimpi seorang anak yang lebih memilih menjelajah lewat buku atlas dunia dibanding bermain bola dengan teman sebayanya.

Pelabuhan Bebas Balohgan, Sabang

Pelabuhan Bebas Balohgan, Sabang

Berapa saat keluar dari dermaga, telepon berdering. Suara supir kenalan di Sabang sudah berada di ujung speaker telepon untuk sekedar menginformasikan kalau dia sudah siap ditempat parkir guna menemani perjalanan kami selama di Sabang. Selanjutnya explore pulau Weh pun dimulai dari sini ketika kaki terus melangkah keluar dari dermaga pelabuhan Balohan.

Tempat wisata di Sabang seperti Iboih, Gapang, Anoi Hitam atau yang lain benar-benar menjadi bumbu pelengkap saja, karena sejujurnya sudah merasa sangat bersyukur dan puas ketika berdiri di Ujung Dermaga pelabuhan Balohan sambil menatap ke lautan bebas. Walaupun sudah terpendam selama puluhan tahun, akhirnya kesampaian juga angan-angan untuk berdiri diatas tanah pulau Weh Sabang.

Teluk Balohan, Sabang

Teluk Balohan, Sabang

Masih dengan suasana emosional, dalam hati berujar kediri sendiri : “Selamat datang di Pelabuhan Balohan Sabang”.

  1. Melihat foto foto perjalanan anda,jadi ingin pulang ke Sabang.Saya lahir di sana,tp sudah 27 thn tempat itu saya tinggalkan.semoga dalam waktu dekat,saya bisa membawa putra saya mengunjungi surga itu.Thank You

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *