Pulau Maratua, Ubur-Ubur di Kakaban dan Pari Manta di Sangalaki

Ubur ubur totol Kakaban / Mastigias PapuaPulau Maratua, Kakaban dan Sangalaki adalah pulau-pulau yang cukup banyak di kunjungi di kepulauan Derawan selain pulau Derawan-nya sendiri. Di kepulauan Derawan kabupaten Berau, pulau Maratua merupakan pulau terbesar yang berbentuk seperti tapal kuda. Di Maratua yang berada sebelah timur pulau Derawan ada beberapa Dive resort berkelas internasional dan sangat terkenal karena keindahan taman lautnya. Sekitar 8 s/d 10 KM sebelah barat daya pulau Maratua ada pulau yang terkenal karena ubur-uburnya yaitu pulau Kakaban. Pulau Kakaban sendiri terbentuk dari atol yang naik ke permukanaan laut karena pergerakan lempeng bumi. Oleh karena itu di tengahnya terdapat danau yang berasal dari air laut yang terperangkap. Karena kehidupan di danau tersebut berasal dari laut dan telah terisolasi jutaan tahun maka beberapa makhluk hidup penghuni danau tersebut berevolusi dan menjadi cukup unik. Di dunia hanya ada dua lokasi seperti ini, yaitu di pulau Kakaban dan di Republik Palau. Makhluk hidup disini konon “berevolusi” setelah terjebak jutaan tahun di danau yang berasal dari air laut. Karena ketiadaan pemangsa ubur-ubur, maka ubur-ubur di danau Kakaban jadi berlimpah ruah dan kemampuan menyengatnya juga hilang. Kurang lebih 13 KM sebelah barat agak keselatan dikit dari pulau Kakaban ada pulau Sangalaki yang terkenal karena di perairan sekitarnya dijadikan lahan buat Manta Ray atau Pari Manta mencari plankton. Selain terkenal karena Manta Ray-nya pulau Sangalaki juga terkenal karena tempat bertelurnya penyu-penyu di daerah sini.

Dermaga Pulau KakabanDermaga Pulau Kakaban
Dermaga Pulau KakabanDermaga Pulau Kakaban

Melanjutkan cerita sebelumnya di Kepulauan Derawan, Berau – Kalimantan timur, setelah istirahat yg cukup di Derawan Cottages, pagi hari jam 5 sudah bangun untuk jalan2 ambil gambar sunrise, tetapi sayang turun hujan yg lumayan deras di sertai petir. Hujan masih terus berlangsung sampe jam 6.30 pagi walopun cuman rintik-rintik kecil. Setelah sarapan pagi sama nasi putih+telor ceplok —yah sekali lagi cuma nasi putih di tambah telor ceplok di penginapan sekelas cottages yg cukup bagus—, cuaca mendung dan sedikit gerimis masih ada. Agak sayang juga melihat cuaca seperti ini, disisi lain jalan dengan kondisi cuaca mendung di laut sebenarnya amat sangat nyaman karena tidak panas, tetapi efeknya adalah ke poto2 hasil dokumentasi yg pucat dan kurang menarik. Setelah menunggu lama cuaca tetap tidak mendukung, akhirnya jam 8.30 dengan cuaca mendung dan gelombang lumayan tinggi kami pun tetap melaju ke pulau Maratua.

Sebenarnya dibutuhkan sekitar 45 menit dari pulau Derawan menuju pulau Maratua, tetapi karena gelombang yg kurang bersahabat butuh waktu 1 jam lebih untuk mencapai salah satu resort milik warga negara Malaysia yg ada di Maratua. Itupun ngak bisa turun melihat resort karena kami bukan tamu di resort tsb. Di perjalanan kami di ikuti sama kumpulan lumba-lumba yg terlihat lumayan banyak disisi kiri dan kanan speedboat. Setelah sampai di Maratua dan tidak bisa berlabuh di salah satu resort karena bukan tamu resort, akhirnya speedboat ditambatkan mengambang terapung-apung dan itu membuat mual perut saya padahal belum sampai hitungan menit perahu terapung-apung. Untuk mengurangi efek mabuk di ombang-ambing di speedboat, akhirnya saya cepat-cepat pasang mask+snorkel dan fin buat nyebur ke laut . Sy sama sekali tidak menikmati suasana di Maratua, yg ada sy berjuang menghilangkan rasa mual karena mabok laut dengan cara tiduran tengkurap kadang juga terlentang diatas laut. Dan tiduran sambil menggunakan snorkel buat bernafas benar-benar membantu memulihkan kondisi rasa mual yang ada. Cuma tiap beberapa menit saya harus cek posisi karena saya benar-benar mengambang tanpa mengendalikan posisi tubuh dan tubuh terbawa kesana kemari tak tentu arah tergantung suka-sukanya arus air laut. Sy tak peduli dan ngeh kalo temen saya iseng ambil gambar saya ketika tiduran hehe. Sampe2 sy lupa mengecek posisi tubuh dan lumayan kaget ternyata saya sudah lumayan jauh dari speedboat.

Danau Kakaban Danau Kakaban

Setelah mati gaya di Maratua akhirnya perjalanan dilanjutkan menuju pulau Kakaban yang terkenal dengan danau kakaban yg dipenuhi Ùbur-ubur yang tidak beracun. Dalam kondisi speedboat berjalan, kondisi tubuh kembali normal dan segar, tetapi lagi-lagi dalah hitungan detik ketika speedboat berhenti di dermaga pulau Kakaban kondisi mual pun langsung terasa. Tanpa menyia-nyiakan waktu karena saking mualnya saya langsung ambil peralatan snorkeling dan naik kedermaga. Anehnya dalam hitungan detik juga setelah naik kedermaga langsung segar kembali.

Danau Kakaban, adalah air laut yang terperangkap di Pulau Kakaban, ditambah dengan air dari dalam tanah dan air hujan sejak 2 juta tahun lalu. Danau Kakaban merupakan danau prasejarah yaitu zaman peralihan Holosin. Luasnya sekitar 5 km², berdinding karang terjal setinggi 50 meter, yang mengakibatkan air laut yang terperangkap tidak lagi bisa keluar, menjadi danau. Secara administratif, Danau Kakaban termasuk wilayah Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Karena perubahan dan evolusi yang cukup lama oleh air hujan dan air tanah, air danau ini kemudian menjadi lebih tawar dibandingkan laut yang ada di sekitarnya. Perubahan ini berdampak juga pada adaptasi fauna laut yang ada di dalam danau itu. Ubur-ubur misalnya, karena terbatasnya makanan, akhirnya beradaptasi dengan melakukan simbiose mutualistis dengan algae. Algae adalah penghasil makanan dan harus memasak makanan dengan bantuan sinar matahari. sumber : www.wikipedia.org

Berenang dengan Ubur-ubur KakabanBerenang dengan Ubur-ubur Kakaban
Berenang dengan Ubur-ubur KakabanBerenang dengan Ubur-ubur Kakaban

Kondisi dermaga pulau Kakaban cukup tinggi, untungnya air laut masih pasang jadi tidak perlu berjalan kaki menuju dermaga. Speedboat berlabuh di samping dermaga dan kondisi ini berbeda ketika kita pulang, dimana air laut sudah mulai surut dan sayang banget harus jalan kaki melewati coral yg cukup jauh untuk mencapai speedboat. Melihat vegetasi sekitar pulau Kakaban membuat merinding bulu kuduk saya, masih lebat dan asri, saking lebatnya ada kesan angker ato spooky gitu. Apalagi ketika sy memasuki areal hutannya untuk menuju danau Kakabannya dan menaiki tangga ke arah rimbunan pohon-pohon suasana angker terasa banget. Lumayan tinggi kami menaiki tangga buat ke arah danau Kakaban tetapi tidak terlalu jauh dan sebentar sudah sampai di danau Kakaban. Sebenarnya tujuan utama saya ke kepulauan Derawan itu ada dua, yaitu berenang dengan Manta Ray di pulau Sangalaki dan berenang di kumpulan ubur-ubur danau Kakaban. Satu tujuan utama berenang dengan ubur-ubur sudah terpenuhi setelah tanpa menunggu lama pasang peralatan snorkeling saya menjadi orang pertama diantara temen2 saya yang menyemplung ke danau hehe.

Ubur ubur totol Kakaban / Mastigias Papua dan Ubur ubur bulan / Aurelia auritaUbur ubur totol Kakaban / Mastigias Papua

Cukup takjub juga karena saking banyaknya ubur-ubur, seakan-akan saya berenang di es cendol yang berisi ubur-ubur. Dipinggir danau visibility amat jelek mungkin karena banyak yg berenang di pinggir danau, akhirnya sy sendiri sama 2 orang temen saya agak berenang jauh ke tengah. Dan ternyata semakin ketengah visibility agak lumayan ok walopun secara keseluruhan visibility di danau Kakaban emang agak sedikit keruh. Karena berenang disini merupakan tujuan utama saya jauh-jauh jalan ke Derawan, saya benar-benar menikmati dengan sangat asik dan berenang sambil mengamati pergerakan ubur-ubur disini. Melihat ke dasar danau yang agak berwarna hijau auranya angker juga walopun temen saya bilang suasananya peacefull wkwkwk.
Memegang ubur-ubur disini serasa memegang nutrijel hehe kenyal-kenyal dan lembut gitu. Sebenarnya ada 4 jenis ubur-ubur di danau kakaban ini tetapi ketika saya berenang disini hanya melihat 2 jenis ubur-ubur saja, yang saya lihat yaitu ubur-ubur totol atau bahasa ilmiahnya Mastigias papua yang paling banyak di danau serta ubur-ubur bulan atau Aurelia aurita tetapi sangat jarang terlihat.

Setelah sangat puas karena 1 tujuan utama berenang dengan ubur-ubur Kakaban sudah terpenuhi, akhirnya saya naik dan tidak terasa posisi matahari sudah ada di atas kepala. Suasana mendung yang membuat suhu tidak terlalu panas sehingga saya agak sedikit lupa waktu, kalau tidak diingatkan oleh kondisi perut yang minta diisi hehe. Akhirnya saya balik lagi kembali menaiki tangga melewati rimbunan pohon-pohon untuk mencapai dermaga pulau Kakaban demi sebungkus nasi kotak.

Ubur ubur totol Kakaban / Mastigias PapuaUbur ubur totol Kakaban / Mastigias PapuaUbur ubur totol Kakaban / Mastigias Papua

Empat jenis ubur-ubur di danau Kakaban :

  • Mastigias papua atau ubur-ubur totol yang paling banyak saya lihat di Kakaban
  • Aurelia aurita atau ubur-ubur bulan yaitu ubur-ubur paling besar di Kakaban
  • Cassiopeia ornata : Karakteristik ubur-ubur ini sangat unik karena lebih banyak berdiam diri dengan posisi terbalik menghadap keatas membiarkan tentakelnya yang penuh alga simbion mendapatkan banyak sinar matahari untuk fotosintesis.
  • Tripedalia cytophora

Sumber :
Warta Oseanografi, vol XXII, No.4, October-Desember 2008, Halaman 37.
Mengenal ubur-ubur oleh Trimaningsih, Teknisi Bidang Dinamika Laut, Puslit Oseanografi – LIPI .

Setelah makan siang ternyata air laut sudah surut, terumbu karang yang sebelumnya terendam air laut sekarang sudah bersentuhan dengan udara. Saya pun harus berjalan agak jauh dari ujung dermaga menuju speedboat. Setelah mendapat info dari guide kalau di pinggir pantai pulau Kakaban ada drop-off yang sangat dalam jadi penasaran juga ingin melihatnya. Sebelum lanjut menuju pulau Sangalaki, saya turun sebentar dan berenang melihat drop-off tersebut dan ternyata ngeri juga karena dari sisi terumbu karang yg dangkal tiba-tiba ada palung laut yg sangat dalam yg kesannya tidak berujung yg berwarna biru gelap. Benar-benar takjub melihat kedalaman dasar laut tersebut karena dari posisi pantai yg sangat dangkal tiba-tiba jatoh ke sisi laut yg tak berujung.

Setelah puas melihat drop-off pulau Kakaban, karena sudah melewati tengah hari, pulau berikutnya yang di tuju adalah Sangalaki. Dan pulau Sangalaki merupakan tujuan kedua saya ketika jalan di kepulauan Derawan. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah melihat dengan mata kepala sendiri sebesar apa sih Pari Manta atau Manta Ray yg terkenal itu. Untuk itu saya banyak membaca referensi tentang Manta Ray yang semuanya mengatakan kalau Manta Ray itu walopun gedenya segede gaban tapi bener-bener harmless alias tidak berbahaya. Setelah membaca beberapa referensi tersebut akhirnya saya mengebu-gebu juga penasaran ingin berenang dengan Manta Ray. Beberapa saat sebelum sampai ke pulau Sangalaki, speedboat yang kami tumpangi berjalan dengan pelan bahkan beberapa saat mesin di matikan karena kata nakoda kalo Manta Ray tidak akan mendekat kalau mendengar suara berisik. Sayapun berdiri di ujung speedboat untuk melihat apakah ada Manta Ray yang berkeliaran atau tidak. Cukup lama mata memandang dan menyapu perairan sekitar pulau Sangalaki tetapi tidak ada seekor Manta pun yang menyembul ke permukaan air, sampai akhirnya nakoda berteriak memberi tahu di kejauhan ada Manta.

Pari Manta di Pulau SangalakiMencari Pari Manta di Pulau Sangalaki

Pulau Sangalaki mempunyai luas 15,9 hektare, terletak di Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Memiliki satuan morfologi dataran pantai yang datar. Pulau ini memiliki lagon dangkal berdasar pasir dan ditumbuhi oleh karang dan lamun.
Pantai pasir memiliki lebar 12-15 meter dengan kelerengan antara 6°-11° dengan material penyusun pantai berupa fragmen karang dan dominan berukuran butir pasir kasar. Di perairan sekitarnya terdapat taman laut dan terkenal sebagai wisata selam (diving). Terdapat beraneka ragam biota laut di sini, yang terkenal adalah ikan pari manta.
Ikan pari manta biasa berkelompok di perairan pulau ini dan dapat berkumpul hingga 20 ekor pari pada saat terang bulan. Mereka menuju ke pulau ini untuk mencari makan berupa bermacam-macam jenis plankton yang banyak terdapat di perairan ini. Sumber : www.wikipedia.org

Seneng juga melihat manta dari atas speedboat, dia berenang dengan anggun-nya dan yg membuat saya diam terpaku adalah size-nya itu gileee gede banget. Setelah melihat Manta dari atas speedboat akhirnya saya turun berenang ke laut untuk melihat dari jarak dekat, tetapi ketika saya turun dan melihat-lihat di dalam air, Mantanya sudah tidak terlihat. Cukup lama juga saya snorkeling keliling perairan Sangalaki demi melihat Manta. Dan ketika saya memasuki arus yg membuat muka saya gatal dan bibir saya seperti ditusuk-tusuk sama jarum kecil, saya tahu berarti di tempat saya berenang, terdapat banyak plankton dan ketika membaca referensi tentang Manta Ray ternyata makanan utama Manta tuh ikan-ikan kecil dan Plankton. Ngak sia-sia saya banyak membaca referensi tentang Manta Ray, setelah tahu air dimana saya berenang banyak plankton (ditandai dengan gatal2 di muka hehe) saya tetap diam disitu walopun muka dan kaki saya amat sangat gatal sekali dan lumayan agak sakit apalagi pas di bibir seperti di tusuk-tusuk jarum gitu sama plankton. Dan ternyata tidak lama kemudian ada sosok hitam segede selimut terbang dengan anggunya mengarah ke badan saya bukan hanya satu .. dua .. tiga dan ternyata lumayan banyak. Terpana, diam dan takjub sampai beberapa saat kemudian barulah saya sadar untuk mengejar Manta tersebut guna di ambil gambar dan video untuk dokumentasi. Lumayan lama saya membuntuti manta tersebut dan mereka berenang seperti terbang dengan lambat dan anggun sehingga saya masih bisa mengejar mereka. Kalau tidak peduli posisi speedboat ada dimana sepertinya saya akan seharian terus membuntuti Manta tersebut sampai puas sampai batre atau memory card di camera yg saya pegang habis hehe. Tetapi berhubung posisi saya sama rombongan yg lain sudah terlalu jauh akhirnya dengan berat hati shoting video Manta-nya saya matiin dan saya harus berenang kembali ke speedboat yg sudah lumayan jauh.

Manta Ray at Pulau Sangalaki Manta Ray at Pulau Sangalaki
Pari Manta di Pulau SangalakiPari Manta di Pulau Sangalaki

Walopun setelah baca-baca referensi kalo Manta Ray itu tidak berbahaya, tetapi ketika pertama kali melihat makhluk hitam gede tersebut lumayan bikin deg-degan .. apalagi ketika membuntutinya tiba tiba dia berbalik arah … dan lubang mulut yang menganga besar seakan-akan mau menalen badan saya hahaha (lebay mode on).. tetapi lagi-lagi saya dikejutkan oleh prilaku Manta , dia sendiri yang lebih takut melihat saya wkwkwkwk … akhirnya setelah agak ‘sedikit’ tahu sifatnya saya berani mengejar lebih dekat sampai mencoba menyentuh tubuhnya. Ini suatu pengalaman yang tak terlupakan dan 2 tujuan utama saya main ke Derawan sudah terpenuhi.

Setelah amat sangat puas 2 cita-cita saya terlaksanakan yaitu berenang dengan ubur-ubur kakaban dan Manta ray .. dan karena hari sudah mulai sore akhirnya kami semua kembali ke pulau Derawan. Dan setelah dapat info juga dari guide kalo di dekat dermaga Derawan Cottage ada kerang raksasa alias Kima yang bergenus Tridacna, penasaran juga ingin melihat seperti apa. akhirnya lagi-lagi sebelum masuk dermaga saya turun karena penasaran ingin melihat Kima .. yg ternyata lagi-lagi itu kerang terbesar yg pernah saya lihat wkwkwk.

Tridacna is a genus of large and gigantic saltwater clams, marine bivalve mollusks in the subfamily Tridacninae, the giant clams. They have heavy shells, fluted with 4–6 folds. Mantle is brightly coloured. They inhabit shallow waters of coral reefs in warm seas of the Indo-Pacific region. These clams are popular in marine aquaria, and in some areas, such as the Tulo, Calamba City, Laguna (Bahay nina Lourdes at Isabel kasama pa si Audrey) in Philippines, members of the genus are farmed for the marine aquarium trade. They live in symbiosis with photosynthetic algae (zooxanthellae). Some species are used as seafood. sumber : www.wikipedia.org

Setelah sebentar melihat Kima, karena kecapean akhirnya saya bilas badan saya dan bersihkan semua peralatan snorkeling saya setelah itu langsung deh istirahat menunggu makan malam. Dan setelah makan malam jalan-jalan sebentar di perkampungan Derawan lalu langsung tidur pulas hehehe. Dan besok merupakan hari terakhir sy jalan di kep.derawan karena harus segera balik ke Jakarta dengan mengambil flight sore hari dari bandara Juwata tarakan.

Bersambung : Bekantan di Hutan Mangrove Pulau Tarakan

Lihat posting sebelumnya di : Kepulauan Derawan, Berau – Kalimantan timur

  1. wahhh ceritanya seru, sayang kamu berenang di kakaban pakai fin ya. lain kali kalau ke kakavan jangan dipakai fin nya karen bisa melukai bahkan membunuh ubur ubur

    thanks

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *