Pangalengan, dulu & sekarang

Komplek radio malabarDalam rangka mengantar temen dari Jakarta jalan2 ke daerah Bandung dan yang pasti saya tidak akan pernah mengajak temen2 saya tuk jalan2 di sekitar factory outlet hehe :D, kecuali kalo mereka yang minta. Secara default saya akan mengajak mereka ketempat2 yg agak jauh dari hiruk pikuk kota antara lain Bandung Selatan.
Jum’at malem 5 Feb 2010 jam 16.00 saya dah cabut ke Gambir sedangkan temen2 sy pake kereta yang jam 18.30, dan sudah menjadi kebiasaan rumah saya di Bandung menjadi penginapan sementara tuk menampung temen2 sy yang dari luar kota. Sepertinya semakin sering rumah saya di jadikan ‘penginapan’, kalo di komersilkan akan lumayan nih hehe.

Sabtu pagi 6 Feb 2010 jam 6.00 pagi sudah siap2 menuju daerah Bandung selatan tepatnya Pangalengan tuk melihat tempat2 bersejarah di jaman Belanda. Tetapi ketika sampai di Bale Endah baru ngeh sekarang puncaknya musim hujan dan daerah Bale Endah lagi banjir tinggi2nya, setelah putar sana sini akhirnya kami mutar lewat kopo.
Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Gunung Puntang, saya selalu ingat tempat ini ketika ‘ngerjai anak2 kuliah yang baru masuk‘. Tapi dulu tidak pernah ngeh kalau tempat saya dirikan tenda tuh tempat yang benar-benar bersejarah. Dimana disitu pernah berdiri dengan megahnya stasiun radio yang fenomenal.

Pada masa Pemerintahan Hindia Belanda (1917-1929), oleh Dr. Ir. C.J. de Groot, kawasan lembah Gunung Puntang dijadikan lokasi pemasangan pemancar untuk berhubungan langsung dengan pemerintah di negeri Belanda yang jaraknya ribuan kilometer. Stasiun Pemancar Radio Malabar pada saat itu merupakan stasiun radio yang sangat fenomenal karena antena yang digunakan untuk memancarkan sinyal radio memiliki panjang 2 km lebih. Antena tersebut terentang antara Gunung Malabar dan Halimun dengan ketinggian dari dasar lembah mencapai 500 meter. Sulit dibayangkan bagaimana cara mereka membangun dengan teknologi pada masa itu.

Hebatnya lagi, berdasarkan penelitian, Dr. Ir. C.J. de Groot memilih lembah Gunung Puntang dengan ketinggian 1.300 mdpl karena dianggap sebagai tempat yang sangat pas dan ideal. Selain lokasinya yang sangat tersembunyi, juga arah propagasi struktur antena dengan koordinat global positioning system (GPS) S007.111433-E107. 602583 tersebut memang menuju negara kincir angin.

Uniknya lagi, stasiun ini murni pemancar, sedangkan penerimanya ada di Padalarang yang jaraknya sekitar 15 km dan di Rancaekek (18 km). Untuk mengatasi energi listrik, dibangun PLTA di Dago, PLTU di Dayeuhkolot, dan PLTA di Pangalengan, lengkap dengan jaringan distribusinya untuk memenuhi kebutuhan pemancar
Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com



Yang tersisa cuman bekas kolamnya saja

Radio Malabar dulu dan sekarang


Goa Belanda di gunung puntang

Tempat kedua yang kami kunjungi adalah PLTA lamajan yang berdiri dengan kokoh tahun 1920 dan masih berfungsi sampai saat ini. Pertama kali melihat pipa pesat kuningnya yang jelas terlihat di googleearth membuat saya penasaran tuk melihat dengan mata kepala sendiri ditambah dengan rel roli kereta yang super curam membuat tempat ini menarik.


Pipa pesat PLTA Lamajan Dulu dan sekarang

Sehabis dari PLTA Lamajan berhubung perut sudah keroncongan kami menuju Situ Cileunca tuk makan siang.

Sekedar saran saja orang2 yang jualan makanan di situ cileunca (setidaknya warung tempat saya makan) benar2 tidak ber prikemanusian dan saya ‘TIDAK MENYARANKAN ANDA UNTUK MAKAN DI WARUNG2 SITU CILEUNCA’ bayangkan saya bertiga makan ikan mujaer 2 ekor dan tiap orang 1 mangkok soto ayam + kerupuk diganjar dengan harga yang super lurus 150 RIBU RUPIAH.. dan KEJADIAN INI BENAR2 TERJADI .. sampe sekarang pun saya tetap ngak rela bukan karena uangnya tapi perlakuan ngambil kesempatan dalam kesempitannya itu, mereka sepertinya mengambil keuntungan dengan tidak memikirkan bisnis pariwisata situ cileunca kedepannya, mereka hanya memikirkan keuntungan saat itu juga tidak berfikir kalo pengunjung akan ‘KAPOK’ tuk makan disitu dan yang lebih parah orang2 kapok tuk datang kembali ke Situ Cileunca karena benar benar menjadi BAD PROMOTION yang akan tersebar dari mulut ke mulut. Mungkin ini bisa jadi bahan masukan buat orang2 yang mengelola wisata situ cileunca. BTW bisa di bandingkan ketika kami makan di BMC yang notabene nya restaurant ternama di Bandung dengan makan lebih banyak dan lebih enak ditambah Yoghurt dan kevirnya yang terkenal itu tidak sampai 150 ribu rupiah.

Selepas situ Cileunca kami menuju bekas rumah bosscha dan sayang karena rumah tersebut lagi di renovasi karena akibat gempa 2009 dan di sekitar halamanya pun masih berdiri tenda2 para pengungsi gempa. Selepas dari rumah bosscha kami mampir ke makam Boschaa terlebih dahulu setelah itu keliling kebun teh dan mampir juga ke Pabrik Teh Malabar.


Rumah Bosscha dulu dan sekarang

Berhubung matahari yang semakin gelap kami putuskan tuk balik ke rumah saya dan makan malam di daerah Dago di Lisung Cafe. Jam 12 malem barulah nyampe kerumah lalu istirahat karena besok paginya harus segera keliling lagi dan tujuannya Bandung Utara.

Photo dulu bersumber dari :
http://http://home.luna.nl/~arjan-muil/radio/history/malabar/malabar1.html
http://www.kit.nl/

Link lainnya :
Malabar-Pangalengan-Againnnnnnnn !!!!!
Malabar-Pangalengan
Malabar
It took almost 12 year

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *