NTT III : Boa & Nemberala, Kampung Nelayan yang Mendunia

Dokumentasi perjalanan ke Nusa Tenggara TimurHallo Mister”, “Morning”, “Selamat Pagi” atau “How is your Day ?”, itulah kata-kata sapaan bersahabat yang selalu keluar dari mulut traveller luar negeri atau pun anak-anak kecil di pantai Nemberala setiap kali bertemu atau berpapasan. Tanpa memberikan kesempatan untuk menyapa lebih dulu, mereka selalu mendahului untuk menyapa. Ikatan keakraban sesama traveller semakin lekat tatkala berada di meja makan. Karena setiap kali makan kami selalu berada dalam satu meja serta berbagi makanan yg disediakan oleh ‘Mama’ yang punya penginapan. Kami pun makan selayaknya makan bareng keluarga dengan suasana kekeluargaan pula. Perkampungan nelayan Nemberala sangat tertata rapi, bersih dan bangunanya masih mempertahankan ke-khas-an daerah Rote-Ndao. Jalan aspal hitam yang masih mulus di kiri kananya berjejer pohon kelapa berdaun hijau segar dan lebar serta beberapa diantaranya tidak terlalu tinggi sehingga daun-daunnya tersebut masih bisa diraih oleh tangan. Rumah-rumahnya sebagian besar terbuat dari kayu dan bambu yang beratap daun alang-alang serta dikelilingi dengan pagar yang tersusun dari batu karang yang ditumpuk tanpa perekat. Tiap rumah berjejer dengan jarak tertentu serta tidak berdempetan satu sama lainnya. Ini sangat berbeda dengan pemandangan dibeberapa perkampungan nelayan yang pernah saya lihat yang biasa kumuh kotor juga bau amis, disini hal-hal yang jelek tersebut benar-benar menjauh. Potret perkampungan nelayan yang bersahaja dengan orang-orang yang sangat ramah ini lebih terkenal di mata orang-orang luar negeri yang maniak surfing dibanding orang Indonesia sendiri.

Tirosa

Ojek mengantar kesalah satu penginapan di Nemberala. Sayang harga sewa penginapan tersebut terlalu mahal, pencarian penginapan berlanjut ketempat lain yang lebih murah. Hotel Tirosa menjadi pilihan kali ini.  Memasuki hotel yang lebih tepat disebut losmen ini tidak seperti hotel kebanyakan. Anda tidak akan menemukan pegawai hotel karena hanya ada seorang ibu yang merangkap tukang masak, merangkap penerima tamu, menjadi care taker hotel yang juga pengasuh anak-anaknya yang masih kecil. Ibu tersebut hanya di bantu anak perempuannya yang masih berumur belia mungkin taksiran saya, anak yang paling besar masih dalam usia SMP sisanya mungkin dalam usia SD.  Suasana rumah khas desa nelayan Rote Ndao langsung menyambut ketika melangkah memasuki hotel. Di pulau Jawa kita sudah terbiasa melihat induk ayam berjalan bebas sambil diikuti oleh anak-anak ayam yang terus dipantau oleh induknya. Tetapi di Nemberala ayam tersebut diganti oleh babi-babi piaraan warga. Dimata ini, itu sesuatu yang sangat baru ketika melihat induk babi menggiring anak-anaknya berjalan bebas seperti halnya ayam di pulau Jawa. Suasana inilah yang menyambut ketika memasuki hotel Tirosa, dimana babi babi berkeliaran dengan sangat bebas. Bahkan baru kali ini melihat babi yang sangat besar  dengan mata kepala sendiri.  Memasuki kawasan hotel Tirosa dimana kamar-kamar hotelnya seperti cottage yang sederhana, dimana satu cottage itu isinya satu kamar yang terpisah satu sama lainnya.

Babi Nemberala

Ada yang berbeda ketika melangkah menuju kamar/cottage, semua penghuni yang terlihat bukan traveler lokal. Yah betul saya jadi satu-satunya tamu asal Indonesia yang menginap di Tirosa. Sisanya hmmm bule semua dan sebagian besar para peselancar yang menginap dalam hitungan minggu bahkan bulan. Makanya bule bule tersebut selalu mengernyitkan dahi setiap kali tahu kalau saya hanya menginap satu malam. Mungkin dipikirnya ngapain jauh-jauh datang ke tempat terpencil hanya untuk menginap satu malam. Sebenarnya memang sayang sekali kalau menginap satu malam, tapi apa daya situasi juga kondisi lah yang membatasinya. Tapi suatu saat berharap akan kembali lalu menginap disini lebih lama untuk menikmati serta explore Rote lebih lanjut. Sebelum memasuki kamar, jalan sebentar ke pantai karena kebetulan cottage-cottage di Tirosa ini punya akses langsung ke pantai dalam beberapa langkah saja. Halaman belakang hotel hanya dibatasi pagar khas pulau Rote yang terbuat dari tumpukan batu karang yang masih menyisakan lubang diantara tumpukannya.  Terlihat lumayan banyak peselancar peselancar dipantai yang sangat sepi ini  sedang mendayung dengan tanganya menuju gelombang Nemberala.

Nemberala

Tas kerir dibongkar lalu berganti baju dari kemeja planel kotak-kotak menjadi baju rush guard yang selalu setia menemani kalau jalan-jalan di laut. Begitupun celana jeans sudah berganti dengan celana pendek khas pantai. Pintu kamar pun di ketuk oleh anak perempuan yang memberitahukan kalau makan siang sudah siap. Oh iya penginapan-penginapan disini harganya sudah termasuk tiga kali makan yaitu : sarapan,  makan siang lalu makan malam. Karena dipastikan anda akan kesulitan atau bahkan tidak akan pernah menemukan warung makan sekitar Nemberala. Sangat kebetulan sekali karena terakhir makan ketika sarapan dengan nasi kuning yang sangat sedikit diatas kapal cepat ketika menuju Rote.

Kurang lebih pukul 13.00 WITA, menuju rumah Mama yang punya losmen. Di meja makan sudah menunggu  dua orang bule asal Slovenia yang tak lepas dari buku kamus Inggris-Indonesia. Sebenarnya orang-orang Slovenia tersebut satu kapal ketika berangkat dari Kupang. Karena ingat betul ketika mereka angkat-angkat papan surfing yg sangat besar. Kami makan siang layaknya sebuah keluarga dalam satu meja, ayam yang kami makan  berasal dari piring yang sama, begitu pula sayur sawi yang kami makan dari mangkuk yang sama. Dua menu sederhana itulah yang menamani nasi yang kami makan. Tetapi menu sederhana tersebut sudah lebih daru cukup untuk memenuhi kebutuhan makan siang , karena yang berkesan adalah kami makan sambil bertukar pikiran. Walaupun dihalangi oleh bahasa yang sangat berbeda, kami berbincang dengan akrabnya.

Nemberala

Tidak mau membuang-buang waktu buat explore Nemberala, langsung minta Mama buat cariin motor buat disewa setangah hari. Tak berapa kemudian anak perempuan Mama yang masih belia mengantarkan motornya ke kamar. Map seputar Nemberala telah dicopy keingatan di otak, karena hal tersebut akan sangat berguna ketika explore Nemberala. Oh ya tips buat gadgeter yang sering buka Google Map, bukalah terlebih dahulu GoogleMap tersebut ditempat yang sinyalnya kuat sebelum menuju lokasi-lokasi terpencil yang sinyalnya kurang. Karena GoogleMap akan meng-cache peta-peta yang pernah kita lihat sebelumnya. Sehingga ketika kita sampai ditempat yang benar-benar tidak ada sinyal, petanya sudah tersimpan. Nahh kalau ngak ada sinyal GPS juga ngak akan dapet dong ??. Tenang sinyal GPS kemungkinan besar akan anda dapatkan dimanapun anda berada karena sinyal GPS berbeda dengan sinyal telepon selular.

Walaupun tahu percis pasti akan dikasih motor bebek atau motor matic, tetapi tetap tersenyum sendiri ketika melihat motor yang ada dihadapanku ternyata motor bebek. Karena terbiasa sama motor vespa atau kopling, sejujurnya seumur hidup belum pernah mengendarai motor bebek sendiri sebagai sarana transportasi untuk menuju suatu tempat. Bahkan mengendarai motor matic pun baru dilakukan belakangan ini, itu pun dengan jam terbang tidak lebih dari setengah jam hahaha. Ketika bertanya arah memasukan gigi, anak perempuan yang bawa motorpun bingung dengan maksud pertanyaannya , dia hanya bisa tersenyum geli wkkkk. Ini patut di catat diingatan, untuk pertama kalinya mengendarai motor bebek untuk sarana transport, dilakukan di Nemberala suatu tempat yg tidak akan pernah terlintas di pikiran saya.

Aussie Rider

Motor diarahkan ke Selatan Nemberala, susana perkampungan nelayan semakin terasa. Pohon kelapa membuat suasana teduh, bentuk rumah-rumah semakin eksotis khas rumah pulau rote yang rapih serta bersih. Sebelumnya sempat berbincang sama orang Nemberala yang bekerja di Kupang ketika menunggu kapal di pelabuhan Tenau Kupang. Dia mendeskripsikan kalau Nemberala sekarang seperti kampung bule. Banyak bule-bule yang meyewa rumah dalam jangka panjang untuk di jadikan Villa atau pun rumah tempat berkumpulnya para peselancar. Dia pun menjelaskan sangat gampang sekali membedakan rumah-rumah yang sudah di sewa bule sama rumah yang masih punya warga Nemberala. Yang kelihatan adalah pagar halamanya. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, pagar halaman disini terbuat dari tumpukan batu karang satu lapis tanpa ada perekat, sehingga masih menyisakan lubang-lubang diantara tumpukannya. Tumpukan batu karang tersebut tidak permanen anda bisa memindahkan pagarnya untuk ditumpuk ulang. Berbeda dengan rumah atau villa yang sudah di sewa para bule, pagar halamanya terbuat dari batu yang ditumpuk memakai semen sehingga lebih tebal dan permanen tanpa menyisakan lubang atau rongga antar batu tersebut. Deskripsi seperti itulah yang terlihat ketika melintas di sepanjang jalan Nemberala. Tidak pernah membayangkan bakal banyak rumah-rumah villa yang bentuknya eksotis masih memperlihatkan ke khasan rumah di Nemberala, walupun beberapa rumah villa tersebut sudah menggunakan tembok.

Nemberala

Sepenjang jalan beberapa kali berpapasan sama bule yang menendarai motor. Ada yang sambil bawa papan surfing, ataupun bule-bule yang hanya menikmati keindahan pantai. Berhenti disalah satu pantai berpasir putih yang airnya jernih. Tidak ada warga yang berkeliaran disekitar sini , sehingga tidak mengetahui nama pantai ini apa. Hanya bisa lihat di peta kalau pantainya masih dekat dengan Nemberala. Jalan semakin naik turun, bukit yang sepertinya terbuat dari batu karang ada dihadapan mata. Ketika terus menaiki bukit tersebut, jalan semakin hancur. Karena ngak mau ambil resiko kalau terjadi apa-apa di tempat yang terpencil apalagi tidak ada siapa-siapa, motor memutar balik. Beberapa ratus meter setelah putar balik terdapat pantai putih membentuk teluk yang lumayan luas yang amat sangat spektakular, bisa jadi pasir putih serta pantai yang melengkung dengan gradasi warna air laut hijau tosca ini menjadi salah satu pantai terindah versi saya. Khas pantai-pantai pulau Rote disinipun tidak di jumpai siapa-siapa. Tetapi di kejauhan ada satu orang nelayan beserta tiga anaknya sedang menjaring ikan. Mendekatinya lalu bertanya pantai apakah ini, dia pun menjawab ini masih kawasan pantai Boa. “Wowwwww inikah yang dinamakan pantai Boa yang terkenal itu”, itulah keluar dari pikiran ketika sambil duduk menikmati keindahan pantai yang sangat sepi ini.

Pulau Ndana

Waktu kecil saya selalu memandangi atlas dengan cermat melihat ke ujung-ujung wilayah Indonesia. Pulau-pulau kecil yang ada di atlas pun selalu dipandangi dengan takjub. Kelas 4 SD sudah hapal yang kala itu ada 27 ibu kota provinsi di Indonesia. Pelajaran Geography apalagi ketika membahas peta selalu menjadi pelajaran favorit. Membuka lalu membolak balik buku atlas atau peta, membuat saya serasa berada di tempat itu. Sekarang bukan atlas yang dibuka, tetapi GoogleMap untuk melihat lebih tepat posisi sekarang berada. Ternyata sekarang berdiri tepat di ujung selatan pulau Rote. Apabila melihat ke arah selatan masih ada satu pulau yang secara de Facto merupakan pulau paling selatan Indonesia yaitu Pulau Ndana, walaupun untuk memudahkan dimata pelajaran selalu disebut pulau Rote yang paling selatan. Ini mimpi saya untuk berjalan jauh dan berdiri di ujung selatan indonesia, impian untuk mengunjungi pulau-pulau dan tempat-tempat di seluruh Indonesia yang sudah tertanam sejak kecil.

Boa

Tak lengkap rasanya mengunjungi suatu pantai kalau tidak berenang. Motor diparkiran disembarang tempat, karena tahu tidak akan ada orang yang bakal mencuri, baju salin buat berenang puin sudah berganti. Selain gangguan babi-babi yg berkeliaran di pinggir pantai, kita tidak perlu cemas untuk meletakan barang bawaan entah itu dompet atau pun gadget di pinggir pantai, karena di pantai Boa ini sejauh mata memandang pasir putihnya milik sendiri. Karena takut di acak-acak sama babi, ketika berenang ke tengah hanya sesekali melihat ke barang bawaan yang ditinggal tergeletak diatas bongkahan pohon pinggir pantai. Tak berapa lama seaorang Traveler dari Samarinda yang sebelumnya sempat ngobrol di kapal cepat, sudah berada di tepi pantai dengan diantar supir ojek. Kemudian dua orang bule yang berbikini memarkirkan motornya lalu berenang dilaut yang membiru.

Boa

Hari sudah agak sore, kali ini meninggalkan pantai Boa duluan karena takut langit semakin menggelap. Sampai di hotel salah satu bule Slovenia sudah berada di ujung lautan dengan papan surfing-nya. Tak berapa lama di ikuti oleh bule Selandia Baru yang sudah cukup berumur dengan membawa-bawa papan surfing menuju pantai. Sebelum terjun ke laut sempet berbincang sebentar sama orang Selandia Baru tersebut. Jalan-jalan menyusuri pantai Nemberala di sore menuju maghrib benar-benar mengasikan. Jejeran pohon kelapa dengan daun-daunya tertiup angin senja di balik langit yang memerah. Matahari pun semakin menyembunyikan diri.

Malam hari kami makan bareng sama bule Slovenia lagi, kali ini ada traveller dari Maumere yang bareng makan malam di meja yang sama. Disini baru tahu kalau bule tersebut benar-benar akan long stay di Nemberala. Ketika musim dingin di belahan bumi utara dia kerja sebagai instruktur ski di eropa. Ketika musim dingin di belahan bumi selatan dia bekeja sebagai instruktur ski di Australia. In beetwen mereka berlibur untuk berselancar di Indonesia.. ohhhh what a wonderful job.

Ternyata tempat-tempat terpencil seperti halnya di kawasan pantai Nemberala dan Boa di Pulau Rote atau Crystal Cave di Kupang itu adalah tempat bertemunya orang-orang yang satu visi, satu hobby dan satu pemikiran. Walaupun berbeda budaya juga bahasa, tanpa di jelaskan lebih jelas, mereka sudah tahu passionnya saya. Mereka pun tidak perlu bersusah payah menjelaskan sesuatu, saya sudah tahu maksudnya. Seperti halnya ketika berkumpul saat makan siang dan malam bersama orang-orang Slovenia atau berenang bersama orang Australia, Jerman dan Belgia. Di sini saya menjadi minoritas di negeri sendiri. Hari pertama di Kupang, saya satu-satunya orang Indonesia yang berenang di crystal cave bersama tiga orang bule. Disalah satu penginapan di Nemberala, saya satu-satunya orang Indonesia yang menginap di sini.

Nemberala

Malam hari sebelum tidur masih membayangkan suasana tadi sore. Sore itu itu peselancar tua, muda, laki atau perempuan lalu lalang kesana kemari. Begitu pula dengan hilir mudik warga yang kebanyakan ibu-ibu mencari-cari sesuatu di pinggir pantai, entah itu mencari kerang atau rumput laut. Pemandangan yang tidak akan terlupakan. Benar seperti kata temen dari Nemberala , sekarang disini suasana kampung bule bener-bener terasa. Suatu perkampungan nelayan di tapal batas selatan Indonesia yang lebih mendunia dibandingkan di negeri sendiri.

Seri perjalanan NTT

  1. Luuuuuaaaaar biasa..kerenx aq dah bisa bayangin meski tanpa foto2 yg dipublish.
    Coz aq jg benerx pengagum ntt.. dalm segala hal..tersuk aq tuangkan dalm kanvas lukisq.
    Sering aq bercerita n share indahx Ntt, jangankan di tempat wusatax sepanjang jalan d tepian pantai ajs duuuh gile Ntt..indah bngt..
    Sayangx meski srga itu d depan hidung aq belum diberi kesempatan menengok…entahlah..kapan ??
    Siapakah malaikat itu yg ajan bakal membawa kmbaki mnikmati idahx akam itu…
    Berharap n bediia smogamsih ada kesempata indah tuk meanjakan mara n hati lgi..
    Thank 4 ur

  2. Hello Mas Gun,
    Boleh tanay2 tentang Rote. Saya berencana ke Kupang Rote akhir tahun ini.
    Masih menyimpan nomor telepon penginapan Tirosa?
    Kalau ada boleh infornya.
    Trimkisih

  3. Hello Mas Gun,

    Nama saya Riri, saya ada rencana ke Kupang Rote akhir tahun ini.
    Saya agak kesulitan menemukan contact number Hotel Tirosa, Nembelara.
    Kalau mas Gun masih ada info nya boleh dishare ke saya. Terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *