NTT II : Rote Ndao, di ujung selatan Republik Indonesia

Dokumentasi perjalanan ke Nusa Tenggara TimurSerasa berada di negeri yang asing karena segala sesuatunya berbeda dengan tempat dimana saya tinggal yaitu pulau Jawa. Kultur, bahasa atau kebiasaan-kebiasaan dan detail-detail lainya yang membuat tempat ini serasa berbeda. Vegetasi dan landscape daratanya semakin menambah keasingan tempat ini. Jejeran pohon lontar dan jenis pohon-pohon yang baru pertama kali saya lihat menghiasi pemandangan sepanjang jalan. Suasana hijau silih berganti dengan suasana yang coklat ketika memasuki daerah yang tandus. Di benak ini, ketandusan pulau pun tetap menyimpan keindahan yang tak pernah saya lihat. Terlebih ketika melihat hijaunya padang pengembalaan yang berisi kuda, kambing dan babi dekat sumber air di tengah suasana yang kering. Pagar-pagar rumah terbuat dari bongkahan batu karang yang ditumpuk tanpa memakai perekat mengelilingi rumah yang beratapkan daun alang-alang. Pagar batu ini mengingatkan ke pagar batu yang sama di pantai Lemo-lemo, Bulukumba Sulawesi Selatan. Yang membedakan dengan Lemo-lemo, di sini pagar batu tersebut menjadi pagar halaman rumah yang sangat cantik, sedangkan pagar batu karang di Lemo-lemo dipakai untuk membatasi areal bidang tanah luas entah itu kebun atau tanah kosong. Di beberapa lokasi, batu-batu karang tersebut diganti dengan ranting-ranting pohon yang sudah kering. Jejeran ranting, pohon yang mengering, rumah panggung dari kayu yang beratapkan alang-alang serta tanah sekitarnya semuanya membentuk satu warna yaitu warna tanah merah yg agak coklat. Itu membuat semuanya sangat serasi, dari kesederhanaan ternyata bisa menjadikan karya seni yang sempurna.Semuanya semakin sempurna tatkala mengetahui kalau orang-orang di sini merupakan salah satu orang-orang teramah yang pernah dijumpai ketika jalan-jalan di pelosok negeri. Walau mimpi ini sudah tertanam semenjak kecil, tetapi tidak pernah berfikir untuk semendadak ini bisa berjalan di ujung selatan republik Indonesia. Hanya bisa bersyukur satu mimpi ketempat-tempat di ujung Indonesia terkabulkan.

Dokumentasi perjalanan ke Nusa Tenggara TimurDokumentasi perjalanan ke Nusa Tenggara Timur

Rote Ndao nama tempatnya, merupakan kabupaten paling selatan di Indonesia. Kabupaten yang masuk wilayah provinsi Nusa Tenggara Timur ini terdiri dari beberapa pulau. Nama Rote-Ndao sendiri terdiri dari dua kata yang berasal dari nama pulau yang paling terkenal di wilayah ini yaitu pulau Rote dan Ndao. Ibu kota kabupatennya ada di kota Ba’a yang terletak di pulau Rote, pulau yang paling besar di kabupaten Rote-Ndao. Seperti yang ada ditulisan sebelumnya di sini, bahwa tujuan utama jalan ke Kupang sebenarnya karena penasaran ingin menyebrang dan melihat suasana pulau di ujung selatan republik ini seperti apa, selain melihat desa nelayan Nemberala tentunya. Pintu masuk pulau Rote yang paling memungkinkan adalah kota Kupang , ibu kota Nusa Tenggara Timur.

Minggu 13 Oct 2013, hari kedua di NTT kali ini tidak sendiri. Satu orang temen yangg travel junkie juga menyusul dari Jakarta ke Kupang setelah dikomporin dengan poto Goa Kristal yang diambil di hari pertama. Masih dengan mengandalkan Rius teman baru saya di Kupang sebagai “seksi” transport, saya menjemput temen dari Jakarta yang bakal mendarat di bandara El-Tari sekitar pukul 6.30 WITA. Jadwal kedatangan pesawat yang tepat membuat segalanya sesuai dengan rencana. Pukul 7.00 WITA langsung meluncur ke pelabuhan Tenau, Kupang . Dari Kupang untuk menuju pulau Rote ada dua pilihan pelabuhan yaitu pelabuhan Bolok dan pelabuhan Tenau. Tidak melalui pelabuhan Bolok karena dari Bolok kapalnya bukan kapal cepat tetapi memakai Ferry yang menghamburkan waktu cukup lama dibanding memakai kapal cepat pelabuhan Tenau. Terlebih setelah tahu kalau kapal ferry tidak berlabuh di kota Ba’a tetapi di pelabuhan baru yang jaraknya cukup jauh dari kota Ba’a.

Dokumentasi perjalanan ke Nusa Tenggara TimurDokumentasi perjalanan ke Nusa Tenggara Timur

Suasana pagi masih menyelimuti Kupang sehingga jalanan masih sepi. Hanya membutuhkan waktu kurang dari 30 menit sudah sampai di Pelabuhan Tenau. Karena masih pagi, kali ini pemandangan pantai sekitar Kupang dan pelabuhan Tenau tidak sebiru kemaren ketika jalan ke Goa Kristal, walau keindahannya tetap tidak bisa disembunyikan. Antrian orang sudah banyak di depan loket pintu masuk buat membeli tiket. Bergegas dengan segera menuju loket dan mengekor di antrian paling belakang. Kali ini Rius hanya mengantar sampai pelabuhan Tenau, tak lupa pesan kedia untuk menjemput esok hari sekitar pukul 12.00 siang. Nona manis penjaga loket menanyakan mau duduk di seat nomor berapa. Sepertinya Nona itu menggap saya sudah sering jalan ke Rote, karena sebagian besar yang beli tiket memilih tempat duduk favorit. Hanya bilang yang deket jendela tanpa bilang di posisi tengah belakang atau depan. Yang terjadi memang dikasih dipinggir jendela tetapi dengan posisi kursi paling belakang, yang kursinya sudah fix tidak bisa disenderkan lagi kebelakang ahhhhhhh. Satu tiket kapal cepat Express Bahari sudah ditangan setelah ditebus dengan uang Rp.150.000.

Dokumentasi perjalanan ke Nusa Tenggara TimurDokumentasi perjalanan ke Nusa Tenggara Timur
Dokumentasi perjalanan ke Nusa Tenggara Timur

Diruang tunggu pelabuhan banyak rombongan bule sedang merapikan papan seluncur bawaanya. Yah .. mereka jauh-jauh ke tempat terpencil di Indonesia hanya untuk menikmati gulungan ombak Nemberala yang sangat terkenal dimata para surfer luar negeri. Mata menyapu semua sudut ruang tunggu, hmmm kali ini sepertinya traveler seperti saya bisa di hitung dengan jari. Masih kalah jumlah sama bule-bule surfer yang hendak long stay di Nemberala. Bosan menunggu di ruang tunggu, pindah menunggu di luar dan duduk di jejeran kursi yang menghadap pelabuhan sambil menikmati suguhan atraktif bocak-bocah pelabuhan Tenau yang bolak balik terjun dari dermaga. Saya sendiri mungkin tidak akan berani meloncat dari dermaga yang cukup tinggi tersebut. Tetapi bocah-bocah tersebut dengan rileksnya meloncat sambil bersenda gurau, setelah itu berenang di air yang cukup jernih ketepian dermaga hanya untuk naik dan meloncat lagi.

Dokumentasi perjalanan ke Nusa Tenggara TimurDokumentasi perjalanan ke Nusa Tenggara Timur
Dokumentasi perjalanan ke Nusa Tenggara TimurDokumentasi perjalanan ke Nusa Tenggara Timur

9:00 wita, pintu gerbang dibuka,bule-bule sibuk mangangkut barang bawaan papan surfing buat di simpan di kapal. Para penumpang mengantri melewati dermaga menuju kapal Expres Bahari. Penumpang sebagian besar orang lokal Kupang yg hendak berkunjung ke Rote, atau orang-orang Rote yang bekerja di Kupang yang akan berlibur ke kampung halamannya karena pas long weekend. Memasuki kapal udara kerasa sangat panas dan sumpek, tetapi ketika memasuki kabin penumpang udara agak sedikit segar karena ber AC. Kursi tempat duduk mirip dengan kursi pesawat kelas ekonomi yang sangat berdempetan. Tetapi yg paling ngak suka adalah lokasi tempat duduk dimana kebagian dipaling belakang. Duduk dipaling belakang benar2 serba salah, senderan kursi ngak bisa ditekuk kebelakang. AC yg menghembus keras tepat dibelakang kepala juga menjadi problem tersendiri. Sekitar 30 menit menunggu didalam kapal sebelum berangkat. 9:30 wita kapal langsung meluncur dengan tujuan pelabuhan Ba’a.

Hamparan laut biru di selat yg akan dilewati kapal sangat tenang. Selat Semau namanya, selat yang memisahkan pulau Timor yang ada di sebalah kiri dan pulau Semau yang ada disebelah kanan ini memang lagi bersahabat. Hmmm koq ngak merasakan gocangan gelombang sekecil apapun, berbeda dengan reputasi di media kalau laut menuju pulau Rote itu sangat berbahaya. Kapal dengan mulus terus melaju dan ketika memasuki area selat Pukuafu, selat yang memisahkan pulau Timor dan pulau Rote barulah gelombang mulai terasa. Tetapi untungnya sekarang bukan musim gelombang tinggi tetapi dalam kondisi cuaca tenang gelombang disini sangat kerasa. Reputasi selat Pukuafu memang sangat mengerikan, untuk melihat sepak terjang selat ini anda bisa googling dengan keyword ‘Selat Pukuafu’ dan anda bisa menilai sendiri gimana kedasyatannya. Lepas dari sulat Pukuafu, kapal sudah berada di sebelah utara pulau Rote. Gelombang kembali tenang, pantai-pantai berpasir putih di pesisir pulau Rote terlihat sangat indah. Beberapa saat sebelum berlabuh di pelabuhan Ba’a, terlihat batu yang menjulang tinggi di sisi kiri kapal. Yah itulah batu Termanu, salah satu kawasan wisata andalan kota Ba’a. Cuma bisa berjanji kelak akan sempatkan melihat batu ini sebelum kembali ke Kupang .

Dokumentasi perjalanan ke Nusa Tenggara Timur
Dokumentasi perjalanan ke Nusa Tenggara TimurDokumentasi perjalanan ke Nusa Tenggara Timur

11:30 wita, Express Bahari berlabuh di pelabuhan Ba’a, pulau Rote. Akhirnya impian buat berdiri di pulau paling selatan Indonesia (walau secara de facto pulau Rote bukan paling selatan!!) terkabulkan . Gembolan tas keril besar yang berisi fin, masker, baju dan perlengkepan lainnya sudah berada di atas punggung. Masih belum tahu transport apa yang akan dipakai guna menuju desa nelayan Nemberala yang berada di Barat daya pulau Rote. Walau lebih mahal, karena berpacu dengan waktu ojek dipilih supaya lebih flexible di banding naik Bemo (sebutan Angkot disini). Pilihan ojek dikarenakan lebih cepet dan flexible terbukti dijalan. Terlihat banyak bemo yang ngetem di pinggir jalan untuk menunggu penumpang. Tetapi keuntungan yang sangat kerasa ketika pakai jasa ojek, adalah bisa minta berhenti kapan saja buat mengabadikan landscape pulau Rote yang spektakuler.

Kota Ba’a sangat kecil. Hanya hitungan menit naik ojek, keramaian kota langsung berganti dengan keheningan jalan mulus sepi yang dikiri kanannya selalu di jumpai pohon lontar. Vegetasi disini benar-benar jarang saya lihat, bahkan beberapa jenis pohon baru pertama kali saya lihat disini. Beberapa bentuk pohon disini ada yang seperti pohon bonsai tetapi dengan ukuran yang besar. Berhenti sebentar disalah satu rumah yang terkenal dengan nama rumah Raja. Cuma sayangnya orang-orang Rote sendiri sepertinya kurang mengetahui sejarah asal muasalnya rumah tersebut. Supir ojek yang ditanya sejarah rumah Raja tersebut hanya berucap ‘Aduh saya baru anak kemarin sore, ngak tau sejarah Raja disini’. Miris sekali mendengarnya, tatkala saya orang yang sangat ingin mengetahui sejarah asul usul suatu daerah, tetapi orang lokalnya sendiri kurang konsen terhadap sejarahnya. Jadilah saya hanya mengetahui rumah ini dengan nama rumah raja, entah itu raja sungguhan atau raja-rajaan .. tidak tahu.

Dokumentasi perjalanan ke Nusa Tenggara TimurDokumentasi perjalanan ke Nusa Tenggara Timur
Dokumentasi perjalanan ke Nusa Tenggara TimurDokumentasi perjalanan ke Nusa Tenggara Timur

Kondisi jalan menuju Nemberala sangat mulus dan sangat sepi. Tepat siang bolong berada dikawasan tandus khas pulau Rote. Berhenti sebentar hanya untuk menikmati dan mendokumentasikan keindahan alam yg tandus ini. Tak peduli posisi matahari yg tepat di atas kepala, saya benar-benar mengagumi ketandusan wilayah ini. Bahkan di tengah ketandusan, pulau ini masih bisa menampilkan landscape yang sungguh indah. Kawasan tandus silih berganti dengan kawasan hijau, dan kembali mata dimanjakan oleh pemandangan yang sangat jarang saya lihat ketika berada disumber air yang membentuk danau. Sumber air tersebut di batasi oleh jejeran pohon-pohon besar yang bentuknya aneh. Ada lapangan luas yang hijau diantara jejeran pohon dengan jalan raya. Yah lapangan luas tersebut menjadi padang pengembalaan buat hewan ternak warga sekitar. Kuda-kuda dilepas dengan bebasnya, kambing-kambing berlarian kesana kemari, sapi-sapi duduk lesehan sambil memamah biak dan babi-babi sedang berkubang memainkan lumpur-lumpur dibawah pohon besar. Itulah gambaran padang pengembalaan yang hijau ini.

Dokumentasi perjalanan ke Nusa Tenggara TimurDokumentasi perjalanan ke Nusa Tenggara Timur
Dokumentasi perjalanan ke Nusa Tenggara TimurDokumentasi perjalanan ke Nusa Tenggara Timur

Beberapa KM sebelum memasuki kawasan desa nelayan Nemberala, kondisi jalan rusak. Rumah-rumah penduduk sudah mulai bermunculan. Ada gerbang melengkung yang harusnya bertuliskan “Selamat Datang di Obyek Wisata Nemberala” tetapi beberapa hurufnya sudah mulai hilang. Semakin dekat dengan Nemberala, pohon lontar sudah menghilang dan digantikan dengan pohon Kelapa yang daunnya lebar dan sangat hijau. Berbeda dengan daerah pantai di Kupang atau daerah Rote yang lain yang didominasi oleh pohon lontar , disini agak lain karena pohon kelapa lah yang mendominasi. Sampai juga ditempat yang terkenal dimata orang-orang bule dibanding orang Indonesia sendiri.

Resmilah saya berdiri di kawasan paling selatan Indonesia, Nemberala. Suatu tempat di ujung selatan pulau Rote, yang merupakan pulau di ujung selatan Republik Indonesia.

Bersambung ke NTT III : Nemberala, Desa nelayan yang mendunia.

Seri perjalanan NTT

  1. Gun… sering jalan2 ke tempat2 tsb dan ketemu dg orang yang berbeda dengan kita akan mengubah cara pandangan kita akan segala hal…
    Indonesia ternyata luas banget… dan mungkin kurang jika pun dikunjungin dalam setahun..
    photonya keren2…Gun.. sipp..

    Saya sebenarnya di tahun 2005 pernah mau diajak tinggal dikupang dan kerja ke timor leste sama temen org sana..tapi belum kesampaian. Dan dengan membaca perjalanan gunawan ini.. kepikir kenapa nggak dari dulu ke sana…heheeee…..

    sekali lagi Gun… Nice Story…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *