Ambon III : Natsepa, Tulehu, Waai & Liang

Dokumentasi perjalanan ke Nusa Tenggara TimurSebelah barat jazirah Leihitu sudah dikelilingi di hari pertama. Hari berikutnya giliran jazirah Leitimur dan kota Ambonya yang dikunjungi. Tinggal bagian timur pulau Ambon yaitu daerah Salahutu yang akan dinikmati keindahannya. Nama Salahutu diotak ini masih terlalu asing dibanding nama Natsepa, Liang, Tulehu atau pun Waai. Salahutu seakan-akan tersisihkan oleh nama Natsepa yang sudah menjadi wisata andalan pulau Ambon. Tertendang oleh nama negeri Tulehu yang kondang sebagai sumber bibit-bibit pemain sepakbola Indonesia selain wisata air panasnya. Tertutup oleh nama belut raksasa Morea di desa Waai yang sudah terlalu kondang sampai keluar pulau. Bahkan nama Salahutu seakan-akan tenggelam oleh birunya air laut pantai Liang di negeri Liang yang berpasir putih. Padahal tempat-tempat yang disebutkan tersebut adalah suatu negeri atau desa yang ada di wilayah kecamatan Salahutu. Bahkan nama tempat tersebut sudah kadung terkenal dan identik dengan wisata “kota” Ambon. Padahal secara administrasi kecamatan Salahutu yang membawahi negeri-negeri tersebut masuk kabupaten Maluku Tengah. Karena berloka di pulau Ambon lah yang membuat tempat-tempat tersebut identik sama Ambon.

Sengaja dipilih hari senin untuk mengunjungi Natsepa, Tulehu, Waai dan Liang. Karena Natsepa dan Liang sepertinya akan sangat ramai kalau berkujung di hari libur. Mengarah kearah timur pulau Ambon, jalanan masih kosong karena masih pagi. Melewati Natsepa kali ini diskip, karena sebenarnya sudah mampir ke Natsepa ketika sore hari dihari pertama ketika pulang sehabis keliling Leihitu sebelum istirahat di kota Ambon. Tujuan utama untuk mampir ke Natsepa saat itu karena rujak Natsepanya yang fenomenal. Hampir semua teman yang pernah ke Ambon mewanti-wanti untuk tidak pernah melewatkan rujak Natsepa. Ok demi menghormati teman-teman yang telah merekomendasikan rujak ini, kali ini menurutinya. Ternyata rujaknya bener-bener maknyoss hahaha. Bumbu rujak yang dijejali ulekan kacang tanah yang masih kasar menutupi semua buahnya. Ketika buah nanas dioleskan ke bumbu tersebut dan disuapkan dimulut, wow rasanya benar-benar enak dan cocok dilidah. Bagi beberapa orang mungkin nanasnya sebenarnya agak terlalu matang sehingga terasa ada seperti rasa alkohol tetapi bukan busuk. Berhubung sangat maniak terhadap buah yang bernama Nanas, rasa semriwing seperti alkohol tersebut malah semakin enak. Setelah mencoba rujak di Santai Beach dan di pantai Liang ,ternyata benar kata banyak orang kalo bumbu rujak Natsepa memang beda. Yang paling asal adalah bumbu rujak di pantai Liang.

Rujak Natsepa

Habis sudah rujak yang porsinya sangat banyak itu, bahkan bumbu rujaknya tidak ada yang mengalahkan entah dari segi rasa ataupun segi kuantitasnya. Karena penasaran lanjut memasuki kawasan pantai putih Natsepa. Sore itu suasana Natsepa lumayan ramai, banyak anak-anak yang bermain di bibir pantai. Terlihat di sisi sebelah timur pantainya sangat sepi. Itu membuat saya tertarik untuk mencoba menikmati sisi sebelah timur yang lebih sepi. Ternyata ketika memasuki sisi timur dipungut tiket lagi, padahal ketika masuk kawasan Natsepa sudah dipungut. Ok mungkin ini merupakan kawasan wisata Natsepa yang berbeda pengelola, karena berbeda wilayah. Saya bertanya ke Ibu penjaga pintu masuk yang ini. Sebenarnya walaupun kecil dan tulisannya ngasal, tertulis di tembok kalo masuk kesini 2000 (ato 4000 lupa), bertanya memang hanya untuk memukai komunikasi dan bersosialisasi saja. Hadoh ternyata keramahan ini di salah gunakan. Si Ibu seperti melihat mangsa langsung bilang 10.000.. WTF !!!. Tetapi tetap saya kasih 2000 (ato 4000) karena orang lain juga terlihat bayar segitu. Inilah ciri-ciri tempat wisata yang sudah terkenal di Indonesia, banyak tukang TIPUnya. Ngak tau apa yang ada di otak si Ibu padahal sudah jelas terlihat angka yang harus dibayar. Dia harusnya tahu kalau ini hanya basa-basi membuka percakapan. Sudah gitu ngak ada tiketnya lagi. Oknum-oknum yang beginilah yang membuat orang malas berkunjung untuk kedua-kalinya.

Pantai putihnya tidak seramai pantai yang di sebelah barat, sepi dan hanya ada beberapa anak-anak perempuan yang bermain air. Saatnya buat narsis poto-poto sendiri di tempat seperti ini. Setelah beberapa jepretan … jreng jreng.. uppps ternyata salah. Ok di pantai tempatnya lebih sepi, tetapi pantai yang menghadap rimbunnya pohon yang rindang tersebut dihuni oleh banyak pemuda pemudi yang sedang mojok berduaan disana sini wkkk. Sepertinya pasangan-pasangan yang tersebar dibalik rimbunya pohon-pohon tersebut mendapatkan hiburan gratis berupa atraksi konyol saya hahaa.

Natsepa

Itulah pengalaman di Natsepa yang dikunjungi dua hari yang lalu. Kali ini tidak mampir di Natsepa, mobil terus mengarah ke timur Natsepa. Pelabuhan Tulehu terlewati, negeri Waai dilalui. Terlihat banyak motor yang membonceng orang dengan gembolan tas dari arah berlawanan yaitu arah pelabuhan Hunimua Liang. Kemungkinan besar kapal feri dari pulau Seram baru merapat ke pelabuhan. Beberapa ratus meter setelah pelabuhan Hunimua Liang barulah sampai di pantai Liang. Wisata pesisir Timur pulau Ambon dan pesisir jazirah Leitimur jauh lebih terkenal dan lebih superior di banding wisata di jazirah Leihitu. Pantai pantai disini lebih komersil, hampir semua spot wisata terdapat loket atau setidaknya di pungut biaya. Berbeda dengan wisata di pesisir Leihitu semuanya gratis dan alami kecuali ketika memasuki benteng Amsterdam itupun cuma isi buku tamu dan diminta sumbangan sukarela buat kebersihan.

clowhfish-liang

Tidak ada penjaga loket ketikia memasuki pintu masuk pantai Hunimua nama pantai yang selama ini kita kenal dengan pantai Liang. Apakah terlalu pagi atau karena sekarang hari senin yang membuat suasana pantai benar-benar sepi. Bahkan warung yang berjejer di sepanjang pantai Liang masih tutup. Pengunjung yang ada di pantai yang sangat panjang ini tidak lebih dari jumlah jari tangan. Duduk di salah satu shelter kosong yang berada dirimbunan pohon sepanjang pantai sambil menikmati keindahan pasir putih. Lagi-lagi sangat menyukai suasana sepi seperti ini.

Berdiri diujung dermaga untuk menikmati gradasi biru khas laut Indonesia, pemandangan yang spektakuler. Memandang kesebelah utara terdapat pulau Seram yang besar, memandang kesebelah tenggara terdapat pulau Haruku, dan didepan pulau Haruku terlihat Nusa Pombo pulau kecil yang akan menjadi tujuan utama datang ke pantai Liang. Sampai juga disalah satu tempat yang menjadi tujuan utama untuk datang ke pulau Ambon.

dermaga-liang

Pantau Namalatu dan pintu kota di kota Ambon tidak seindah dan sebagus pantai Liang, pasir putihnya lebih mirip santai beach tetapi santai beach terlalu pendek dibanding panjangnya pasir putih Liang. Bahkan pantai Natsepa yang yang sudah menjadi icon Ambon dimata saya masih tidak semenarik pantai Liang, diluar rujak Natsepa tentunya.

liang

Saat ini walaupun tergiur sama birunya air laut, masih bisa menahan diri untuk tidak snorkeling, karena nanti akan dilakukan di pulau Pombo. Berjalan disepanjang pantai panjang yang sepi ini sampai ke ujung pantai sebelah utara tepat berbatasan dengan pemukiman. Cuaca semakin panas matahari semakin meninggi, keringat mengucur dengan derasnya. Suasana pantai masih tetap sepi hanya nambah seorang traveller yang sedang asik jalan sendiri dengan santainya dan sesekali mendokumentasikan pemandangan sekitar kedalam kamera kecilnya. Terlihat speedboat kuning tidak bertuan disebelah dermaga pantai yang sepertinya menganggur. Berikutnya mencari siapa pemilik speedboat kuning itu. Setelah ketemu setuju untuk disewa sebagai sarana transportasi ke Pulau Pombo. Ulasan kekecewaan tentang pulau Pombo sudah ditulis sebelumnya disini. Tidak lama explore pulau Pombo karena dalam beberapa saat sudah kembali berada di pantai Liang. Dengan baju rush guard yang masih menempel, kembali bersnorkeling di pantai liang yang lagi pasang. Air laut yang sebelumnya masih berada jauh dibawah dermaga sekarang sudah naik lebih dari setengah tinggi dermaga. Kondisi gelombang pantai Liang terlihat membesar, tapi itu tidak menghentikan buat berenang karena tubuh ini lebih banyak menahan napas dikedalaman yang tenang dan damai dibanding di permukaan.

pantai-liangfish

Beberapa meter dari ujung dermaga terdapat terumbu karang yang jauh lebih bagus dibanding dengan terumbu karang yang ada di pulau Pombo. Walaupun tidak besar tetapi terumbu karang disini memikat banyak ikan-ikan kecil sekitarnya, sehingga pemandangannya sangat mencolok begitu melakukan duck dive dikedalaman sekitar lima meteran, karena begitu kepala berada dibawah untuk menukik kedalam sudah terlihat kerumunan ikan-ikan yang mengelilingi coral tersebut. Tadinya tidak terlalu berekspektasi bagus disini sehingga ketika berenang tidak membawa kamera underwater . Niat awal memang hanya untuk berenang-renang dan menikmati suasana pantai Liang. Tetapi ketika melakukan duck dive untuk pertama kalinya sudah terlihat terumbu yang lumayan ok. Akhirnya kembali berenang ketepian pantai hanya untuk mengambil kamera underwater dan balik lagi untuk mendokumentasikan keindahan ikan nemo (clown fish) dengan anemonnya yang sangat memikat. Berenang dan menemukan coral bagus serta lengkap dengan ikannya mengobati kekecewaan ketika snorkeling di Pulau Pombo. Kalau dari awal tahu gimana rusaknya coral di pulau Pombo dan indahnya bawah laut Liang, tidak akan pernah untuk menghamburkan uang buat menyewa speedboat.

Sambil istirahat sehabis snorkeling, satu piring rujak tak terasa sudah habis. Bumbu rujak di sini tidak senikmat di Natsepa, bahkan terkesan bumbu rujak paling asal selama jalan di Ambon.

Matahari mulai terik tempat berikutnya yang penasaran ingin diliat adalah negeri/desa Waai. Suatu tempat yang terkenal akan belut raksasanya. Sekilas tempatnya seperti perkampungan biasa, melewati kali atau selokan bersih yang lebarnya hanya beberapa meter saja yang diisi oleh warga yang sedang mencuci baju. Berjalan kearah sumber air barulah terlihat air yang jernih dan ikan-ikan yang super besar dekat dengan mata air. Ikan-ikan besar tersebut seperti tidak terganggu sama warga yang sedang mandi. Ataupun sebaliknya warga yang sedang mandi di kali yang bersih seperti tidak menghiraukan hilir mudik ikan yang besar-besar tersebut.

Seorang pawang belut yang masih anak-anak berumur belasan tahun membawa satu keresek telor. Dia memasukan telor tersebut diantara lubang pinggir kali. Keluarlah belut yang super besar yang lebih dikenal dengan nama Morea. Sepintas mirip dengan belut murai yang pernah terlihat di Karimunjawa, tetapi belut ini tidak seagresif belut murai. Bahkan terkesan sangat jinak, ketika belut keluar dari lubang persembunyian, orang-orang yang sedang mandi sama sekali tidak terusik. Padahal saya sudah heboh melihat belut yang sebesar paha orang itu. Belut satu persatu dipancing keluar dengan umpan telor, satu dua tiga dan ternyata banyak sekali belutnya, cukup beruntung melihat banyak belut yang keluar dari lubang persembunyiannya. Tips melihat Morea jangan dateng sore hari karena belutnya sudah kenyang makan telor dari pengunjung dipagi hari. Karena kalau sudah kenyang belutnya jarang keluar dari lubang hehe.

Waai

Kali ini pawang belia tersebut membawa pengunjung ke tempat warga yang sedang mencuci baju. Lebar kali tempat mencuci ini tidaklah lebar, panjangnya mungkin masih dalam belasan meter. Tetapi warga banyak sekali yang mencuci baju, mungkin karena beningnya air yang mengalir terus menerus sehingga di manfaatkan warga untuk mencuci baju. Lumayan kaget ternyata dialiran tempat warga mencuci baju yang penuh dengan detergen belut morea banyak tersebar. Warga yang mencuci baju dan belut morea seakan-akan berbagi tempat dan tidak saling menggangu. Dibawah cucian baju dipinggir kali terdapat banyak lubang Morea. Mereka sama sekali tidak terganggu sama kegiatan mencuci. Warga seakan-akan tidak menghiraukan belut yang super besar tersebut. Disini mencoba turun dan memegang belut tersebut, teksturnya licin seperti belut sawah tetapi ini lebih besar dan lebih lembut.

Ini pengalaman yang sangat baru, memegang besarnya Morea negeri Waai yang sudah kesohor di Indonesia. Dari negeri Waai destinasi selanjutnya adalah negeri Tulehu, suatu desa yang terkenal akan bibit pesepakbola nasional Indonesia. Chairil anwar, Imran Nahumaruri, Rizky Pelu, Ramdhani Lestaluhu, Hasyim Kippuw merupakan contoh pesepakbola nasional yang berasal daru Tulehu. Bahkan dinasti Nahumaruri, Lestaluhu dan Umarela sudah banyak berkontribusi dalam kancah sepakbola Indonesia.

Tak ada satu desa di Indonesia entah itu Jawa Timur, Jawa Barat ataupun Papua yang bisa mewakili provinsi dan langsung juara. Cuma ada di desa Tulehu, suatu desa yang terkenal dengan sambanya Indonesia. Dimana tradisi dan Budaya sepakbola di Tulehu sangatlah kental, bahkan bayi yang masih berumur dalam hitungan bulan sudah diolesi oleh rumput lapangan sepakbola. Kali ini tidak akan melihat talenta-talenta pesepakbola muda Tulehu, tetapi ingin mengunjungi suatu tempat di Tulehu yang terkenal karena air panas alaminya. Air panas disini tidak berbau belerang seperti halnya sumber mata air panas pegunungan yang berbau belerang.

Beberapa pohon sagu terlewati sebelum memasuki kawasan air panas alami ini. Semuanya serba sederhana, sepertinya tempat pemandaian air panas ini dikelola oleh warga secara pribadi. Sumber air panas yang mengalir ke sungai kecil hanya dibendung seadanya. Kedua ujung sungai yang dibendung tersebut hanya dibatasi oleh spanduk salah satu operator seluler Indonesia, panjangnya pun hanya belasan meter. Air dari sumber air panas tersebut bercampur dengan air sungai yang jernih dan dingin. Tetapi karena sumber air panas yang banyak maka airnya lebih terasa panas dibanding hangat. Penasaran untuk merasakan dan mencium bau air langsung dari mata air panasnya, dan sama sekali tidak berbau belerang. Airnya seperti air dari pemanas kamar mandi tetapi keluar dari lubang bawah tanah. Tempat berendam air panas ini seadanya, dan ini membuat semuanya serba alami. Pohon-pohon sagu yang berjejer di pinggir sungai, sama sekali tidak terpengaruh oleh aliran air panas yang mengalir mengenai batang dan akarnya. Air yang mengalir sangat jernih dan dibawah aliran tersebut banyak batu batu kecil yang biasa dipakai untuk bahan batu sikat.

Ada apa dibalik spanduk yang membatasi tempat pemandian tersebut, saya membuka tirai spanduknya. Dibalik spanduk tersebut suasana terasa sangat angker, aliran air lebih hangat dan sangat bersih. Suasana agak sedikit remang remang karena dipenuhi pohon yang besar dan diantaranya ada beberapa pohon sagu. Wajarlah pengelola menutupi ujung sungai tersebut dengan spanduk. Kaki melangkah terus memasuki area yang sama sekali tidak dilirik pengunjung lain, dan aura mistis atau angker benar-benar terasa. Ketika kembali menuju tempat pemandian, dikagetkan oleh sesuatu yang dengan tiba-tiba keluar dari lubang dipinggir sungai.

Ternyata mahluk tersebut adalah species belut Morea yang sama dengan belut yang ada di Waai. Terkejut, kaget dan juga senang melihat mahluk yang jarang saya lihat berada di habitat alaminya. Kelihatan belutnya masih muda dan tidak sebesar yang di Waai, tetapi yang membuat heran, belut tersebut bisa hidup di aliran air yang hangat. Dengan cepat saya naik keatas menuju tas yang saya simpan, untuk mengambil kamera underwater. Kembali balik ketempat belut itu berada, dan belut itu benar-benar jinak menghampiri kamera underwater. Beberapa saat langsung terlena untuk mempermainkan kamera tepat didepan belut tersebut.

Tulehu

Air panas Tulehu dengan kejutan belut Morea-nya menutup perjalanan tiga hari keliling pulau Ambon. Saya menemui suatu tempat yang sangat berkesan padahal saya sama sekali tidak berekspektasi tinggi itu terjadi ketika hari pertama keliling Jazirah Leihitu. Sebaliknya kecewa ketika melihat tragisnya sampah dan terumbu karang di Nusa Pombo karena ekspektasi yang terlalu tinggi. Banyak hal-hal yang bisa diambil pelajarannya dari perjalanan kali ini, termasuk melihat suasana Ambon yang sudah sangat baik dan kondusif walaupun luka trauma kerusuhan masih terlihat.

Semoga suasana Ambon yang damai seperti ini akan selalu terjaga selamanya.

Catatan Perjalanan Ambon lainnya :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *