Masjid Agung Banten lama

Pesona cerita kejayaan dan kemakmuran kerajaan Banten tempo doeloe membuat penasaran saya, dan rasa penasaran tersebut membuat mobil yang lagi melaju kencang di Tol Jakarta Merak ke arah Jakarta tiba-tiba keluar pintu tol mengarah ke lokasi Banten lama. Dan sebenarnya titik Banten lama tersebut dah lama saya tandain di GPS saya. Akhirnya GPS lah yang menuntun mobil tersebut mengarah ke Banten lama.  Cerita-cerita heroik tentang Sultan Banten tersebut menambah penasaran perjalanan ini, dan dibenak saya nanti saya akan melihat peninggalan kerajaan Banten yang amat sangat megah karena memang sudah tersohor pada saat itu.

Perjalanan keluar dari pintu tol yang ada tulisan ‘Banten Lama’ langsung menemui jalan yang tidak begitu besar dan dikiri kanan masih terlihat sawah-sawah yang hijau. Dan dalam hati saya woow wajar saja dulu kerajaan Banten sangat makmur karena emang sawah hijau yang terhampar luas apalagi pada jaman kerajaan Banten masih berdiri saya pikir akan lebih hijau lagi. Semakin mendekat ke aran Banten lama, sawah sawah tersebut mulai menghilang dan di gantikan dengan rumah-rumah penduduk. Dan ketika sampai di lokasi Banten Lama …. OH MY GOD ……. rasa penasaran yang tinggi tentang keagungan Banten lama benar-benar lenyap tidak berbekas, yang ada adalah rasa menyesal dan ingin keluar dari tempat itu secepat mungkin dan saya benar-benar TIDAK MEREKOMENDASIKAN tempat ini untuk jadi tujuan wisata yang bersejarah kalau tidak untuk menunaikan ibadah sholat di masjid Agungnya. Saya hanya bisa mendeskripsikan lokasi Banten lama tersebut dengan kata-kata seperti ini : KUMUH, SUMPEK, CROWDED, KOTOR & BERANTAKAN … sekali lagi NOT RECOMMENDED.

Dan ternyata saya tidak perlu panjang lebar mendeskripsikan kondisi tersebut karena beberapa sumber sudah mendeskripsikan dengan tepat seperti di bawah ini :

Walau hanya tersisa reruntuhan, situs Surosowan sebetulnya masih cukup menarik sebagai salah satu obyek wisata arkeologis. Namun bila melihat kondisi sekarang ini, kami hanya bisa mengelus dada. Di sekeliling kompleks situs dipenubi pedagang kaki lima. Para pedagang ini membuka kios-kios sempit, menjajakan aneka barang bagi pengunjung Masjid Agung Banten Lama. Sampah pun berceceran di mana-mana.
Sumber : Sinar Harapan

Kutipannya Deddy Gumelar aka Mi’ing Bagito di banten.go.id :
Saat kunjungan tersebut, Bapak Miing meninjau Museum Kepurbakalaan Banten lama dan melihat keadaan sekitar bangunan Surosowan dan Masjid Agung Banten. Melihat kondisi kumuh Banten Lama, Bapak Miing mengaku sangat kecewa. “Bagaimana bisa, bangunan dan benda peninggalan sejarah ditelantarkan begitu saja oleh pemerintah daerah. Jika para sultan Banten masih hidup, mungkin akan marah,” tandasnya. Menurut Bapak Miing, Komisi X DPR pernah meminta Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Bapak Jero Wacik untuk merestorasi Banten Lama. Permintaan tersebut disetujui Bapak Jero Wacik dan meminta DPR untuk membicarakan lebih lanjut dengan Gubernur Banten Ibu Ratu Atut Chosiyah.
Sumber : Banten.go.id

Saya tadi sore ke banten lama. Sekedar untuk jalan2. Ya Allah, saya betul2 malu melihat Banten lama. Banten lama tidak ubahnya komplek kumuh di pinggiran sungai di jakarta dan tempat pembuangan sampah: kumuh, jorok,
menjijikan, ruwet.

Sumber : milis WongBanten

Terakhir saya hanya bisa berdoa mudah-mudahan lokasi Banten lama yang amat bersejarah tersebut dapat di benahi tanpa saling tuduh dan lempar tanggung jawab … sehingga kita semua dapat belajar dari apa yang telah di lakukan oleh pendahulu2 kita … Amiiiin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *