Lembang & Tangkuban Perahu, Bandung Utara

Observatorium BosschaBandung Utara menjadi tujuan hari kedua dalam rangka jalan2 mengantar temen dari jakarta, Minggu 6 Feb 2010, tepatnya Lembang, Tangkuban Perahu dan pulang lewat Dago Bengkok.  Dengan kondisi mata yang masih pada ngantuk jadwal berangkat jam 6 pagi agak meleset menjadi jam 7 pagi hehe.  Spot pertama yang akan dikunjungi adalah spot favorit saya dari jaman SD yaitu Observatorium Bosscha alias tempat peneropongan bintang di lembang salah satu hasil karya Bosscha dengan lensa carl zeiss nya yang konon lensa terbesar dan tercanggih di dunia pada saat itu. Saya salut dengan pengelolanya yang masih mempertahankan arsitektur rumah2 sekitarnya yang berarsitek seperti rumah2 tradisional jerman dengan kayu silang menyilangnya.  Selain mempertahankan arsitektur aslinya juga kebersihan dan penataan tamannya yang benar-benar terawat. Berada disini serasa berada di negri entah berantah mungkin karena terbiasa kondisi kotor wilayah  sekitarnya ketika memasuki areal yang bersih dan indah ini menjadikan suasana yang berbeda.

Observatorium Bosscha merupakan salah satu tempat peneropongan bintang tertua di Indonesia. Observatorium Bosscha berlokasi di Lembang, Jawa Barat, sekitar 15 km di bagian utara Kota Bandung dengan koordinat geografis 107° 36′ Bujur Timur dan 6° 49′ Lintang Selatan. Tempat ini berdiri di atas tanah seluas 6 hektar, dan berada pada ketinggian 1310 meter di atas permukaan laut atau pada ketinggian 630 m dari plato Bandung. Kode observatorium Persatuan Astronomi Internasional untuk observatorium Bosscha adalah 299.
Observatorium Bosscha (dahulu bernama Bosscha Sterrenwacht) dibangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda. Pada rapat pertama NISV, diputuskan akan dibangun sebuah observatorium di Indonesia demi memajukan Ilmu Astronomi di Hindia Belanda. Dan di dalam rapat itulah, Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang tuan tanah di perkebunan teh Malabar, bersedia menjadi penyandang dana utama dan berjanji akan memberikan bantuan pembelian teropong bintang. Sebagai penghargaan atas jasa K.A.R. Bosscha dalam pembangunan observatorium ini, maka nama Bosscha diabadikan sebagai nama observatorium ini.
Pembangunan observatorium ini sendiri menghabiskan waktu kurang lebih 5 tahun sejak tahun 1923 sampai dengan tahun 1928.
Sumber : wikipedia.org

Observatorium BosschaTangkuban Perahu
Observatorium Bosscha & Pohon di Kawah Ratu Tangkuban Perahu

Setelah dari Observatorium Bosscha berikutnya adalah Tangkuban Perahu. Setelah lama tidak berkunjung ke kawah ratu tangkuban perahu, ternyata baru saya sadari kalau kerajinan hiasan seperti gelang yang dari manik2 di situ lebih bagus dan lebih rapih di banding dengan kerajinan di Belitung walaupun designya sama.

Dan yang membuat saya sadar juga ternyata koleksi batu2 alam yang di jajakan di sekitar tangkuban perahu lebih bagus, lebih bervariasi dan lebih terawat dibanding dengan batu2 yang ada di museum geologi Bandung. Berada di tempat pengrajin batu alam terebut serasa di museum geologi dan lebih bagus hehe. Satu lagi yang berbeda di tangkuban perahu sekarang adalah banyaknya wisatawan Malaysia yang berkunjung kesitu, mungkin dikarenakan adanya akses pesawat oleh Airasia dari Kualalumpur ke Bandung yg membuat wisatawan Malaysia banyak berkunjung ke Bandung. Dan ada 2 tempat yang menjadi magnet bagi wisatawan Malaysia yaitu Tangkuban Perahu dan Pasar Baru.

Tangkuban PerahuTangkuban Perahu
Tangkuban PerahuTangkuban Perahu
Tangkuban Perahu

Selepas Tangkuban Perahu lalu ke Maribaya, dan masih tetap dengan kondisi kotornya, Maribaya masih tetap ramai oleh pengunjung, padahal kalau kondisi lebih bersih akan lebih asik lagi. Karena hari sudah mulai siang dan temen2 harus segera balik ke Jakarta maka dari Maribaya balik ke Bandung lewat Dago Bengkok dikarenakan kalau lewat jalur yang biasa dihari minggu akan di jamin macet. Dan masih dengan jalan yang sempit naik turun, jalur Lembang – Bandung lewat Dago Bengkok tetap menjadi jalur favorit saya karena pemandangan yang indah dan anti macetnya, walaupun dengan kondisi jalan yang tidak sebagus jalur Lembang lewat setiabudi.


Curug Omas, Maribaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *