Lawang Sewu dan Sam Poo Kong, Semarang

Lawang Sewu, SemarangJalan-jalan kali ini sebenarnya bukan sengaja untuk jalan-jalan karena bukan tipe saya untuk jalan ke kota-kota besar seperti Semarang hehe. Jadi kalo untuk ‘sengaja’ jalan dengan destinasi kota besar seperti Semarang dapat di pastikan tidak akan pernah terjadi hehe. Bukan berarti saya tidak menyukai Semarang tetapi saya kurang menyukai trip ke keramaian kota. Dan kali ini emang kebetulan lagi menghadiri acara pernikahan anaknya sepupu saya yang ada di Semarang. Dengan lumayan mendadak .. beberapa hari sebelum berangkat saya survei tiket pesawat dan dapet tiket Lion Air, berikutnya saya cari hotel yang dekat dengan gedung tempat resepsi buat sekalian tempat menginap rombongan yang datang dari Bandung, karena selain saya sendiri yang berangkat dari Jakarta ada juga yg berangkat dari Bandung. Akhirnya portal booking hotel Agoda benar2 bisa di andalkan dalam pencarian hotel murah, setelah ngubek-ngubek Agoda dan mencari letak hotel yang dekat dengan gedung resepsi, akhirnya booking hotel di hotel Horison Simpang Lima Semarang, yang ternyata hotelnya itu benar-benar cocok buat hotel yang melakukan perjalanan dinas karena berada di pusat kota dan dekat dengan mall dll, tetapi bukan hotel yang cocok di pakai buat beristirahat tenang wkwkw karena pas malam minggu suasana gemuruh panggung di simpang lima lumayan (atau sangat) mengganggu karena dengan mudahnya masuk ke kamar hotel tanpa di undang 🙁 . Setelah itu barulah buka peta daerah Semarang, untuk melihat tempat-tempat yang bisa di kunjungi dalam waktu yang singkat sekitar pusat kota Semarang.

Sebenarnya acara resepsi pernikahan dilakukan pada hari minggu pagi, tetapi saya berangkat sabtu siang setelah mendarat di Bandara Ahmad Yani – Semarang. Dan yang amat sangat menggelikan di bandara semarang ini adalah masalah taxi yang di tembak tanpa menggunakan Argo wakkkkkkkk, please deh hari gini di kota besar menggunakan taxi resmi bandara dengan ongkos di ‘tembak’ wakkkk benar benar mengingatkan saya akan bandara kesayangan Husein Sastranegara xixixixi. Saya tidak tahu apakah ada aturan yang melarang taxi yang tidak menggukanan argo ??? kalau emang tidak ada larangan berarti emang haknya txi tsb dengan menembak harga. Tetapi kalo ada aturannya yang melarang taxi tanpa argo hmmm sepertinya pihak yang berkompeten disini berkesan membiarkan dan benar2 tutup mata tidak pernah kasih solusi untuk memperbaiki kelakuan buruk ini.

Setelah diantar oleh taxi tembak menuju Hotel Horison, hal berikutnya yg saya lakukan adalah menuju kolam renang buat rileks wkwkw, kemanapun saya pergi selalu ada celanan renang dan kacamata renang hehe. Dan dalam pemilihan hotel pun yg utama adalah ada kolam renang xixixi. Ngak peduli jelek atau bagus yang penting ada kolam renang. Tetapi kali ini saya kurang beruntung, walaupun Hotelnya ok dan pelayanannya pun ok tetapi kondisi kolam renangnya itu looo ..menggenaskan karena imutttttt banget … saking imutnya saya bisa menahan satu kali napas untuk berenang dari ujung ke ujung wkwkwkwk. Ini sangat berbeda sekali dengan hotel Horison yang ada di Bandung yang merupakan langganan saya kalau berenang. Karena di Horison bandung kolam renang nya pun kayaknya ukuran olympic. Salah satu saya memilih horison Semarang karena masih berasumsi dia pun mempunyai kolam besar seperti Horison Bandung .. dan asumsi saya ternyata salah besar hahaha.

Berenang di kolam yang imut sampai sore lumayan menyegarkan juga dan akhirnya harus naik karena langit yg sudah mulai gelap. Dan kejadian yg ngak asik juga terjadi dimana suara gemuruh panggung malam minggu di simpang lima seakan-akan menusuk telinga saya dan sampai saat itu saya berasumsi saya benar-benar salah memilih “lokasi” hotel yang berada di pusat kota. Hotel ini saya rekomendasikan buat perjalanan dinas karena dekat dengan semuanya selain pelayanan dan kebersihannya. Tetapi buat yang berwisata untuk mencari ketenangan kayaknya pilih yang jauh dari pusat kota deh, apalagi kalau menginap di malam minggu.

Lawang Sewu, Semarang Lawang Sewu, Semarang
Lawang Sewu, Semarang Lawang Sewu, Semarang

Esok paginya habis bergelut dengan gangguan suara panggung di malam hari, rombongan dari Bandung sampai juga, dan setelah menunggu rombongan dari Bandung pada mandi dan ganti baju sehabis perjalanan darat yang lumayan panjang akhirnya langsung cabut ke gedung resepsi. Pulang dari resepsi langsung menuju Lawang Sewu , dan ketika di Lawang Sewu lucu juga melihat dress code yang di pakai karena sepertinya cuman rombongan kami aja yg jalan2 kesitu pakai batik dengan sepatu kulitnya wkwkwk. Yang lebih lucu ketika memasuki lorong bawah tanah itu kami harus berganti sepatu, yaitu memakai sepatu boot yang lumayan tinggi hehe. Perbaduan celana bahan + batik di tambah sepatu boot yang tinggi keren juga wkwkwkwk.

Lawang Sewu, Semarang Lawang Sewu, Semarang Lawang Sewu, Semarang
Lawang Sewu, Semarang

Lawang Sewu merupakan sebuah gedung di Semarang, Jawa Tengah yang merupakan kantor dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Dibangun pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Terletak di bundaran Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelminaplein.
Masyarakat setempat menyebutnya Lawang Sewu (Seribu Pintu) dikarenakan bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak. Kenyataannya, pintu yang ada tidak sampai seribu. Bangunan ini memiliki banyak jendela yang tinggi dan lebar, sehingga masyarakat sering menganggapnya sebagai pintu (lawang).
Bangunan kuno dan megah berlantai dua ini setelah kemerdekaan dipakai sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan Jawa Tengah. Pada masa perjuangan gedung ini memiliki catatan sejarah tersendiri yaitu ketika berlangsung peristiwa Pertempuran lima hari di Semarang (14 Oktober – 19 Oktober 1945). Gedung tua ini menjadi lokasi pertempuran yang hebat antara pemuda AMKA atau Angkatan Muda Kereta Api melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang.
Sumber : Wikipedia

Menyusuri lorong-lorong bawah tanah yg pernah di pakai buat acara uji nyali di tv lumayan membuat bulu kuduk merinding hehe, tetapi bukan merinding karena hal-hal yg mistik tapi saya lebih merinding karena cerita sejarah di balik lorong gelap tersebut. Dulu lorong-lorong ini dijaman penjajahan di pakai buat penjara bawah tanah dan tidak kebayang bagaimana keadaan orang-orang yang di penjara disini, apalagi ketika semua lampu senter yg ada di matikan untuk merasakan kondisi bawah tanah sebenarnya seperti apa, suasananya gelap gulita sampai saya ngak bisa melihat jari tangan sendiri. Ada penjara jongkok yang ruangannya hanya muat untuk jongkok karena tidak bisa buat berdiri. Dan juga ada penjara berdiri tetapi penuh sesak karena kurang dari 1 meter persegi di isi buat beberapa orang.

Kuil Sam Poo Kong, Semarang Kuil Sam Poo Kong, Semarang

Kuil Sam Poo Kong atau Gedong Batu adalah sebuah kuil Tionghoa yang terletak di daerah Simongan, Semarang, Indonesia. Tempat ini konon dulunya adalah tempat persinggahan Laksamana Cheng Ho, seorang penjelajah asal Tiongkok yang beragama Islam.
Klenteng Sam Poo Kong terkenal hingga ke mancanegara, bahkan kabarnya merupakan tempat yang telah ditetapkan oleh pemerintah Tiongkok sebagai tujuan wisata bagi pelancong asal Tiongkok. Uniknya tujuan wisata ini kebanyakan oleh warga muslim Tiongkok dan/atau bernuansa budaya Islam, bukan nuansa budaya Tiongkok yang lekat dengan dupa dan lilin. Hal ini disebabkan warga muslim Tiongkok dari propinsi Yunnan sangat akrab dan mengenal baik serta menyakini bahwa Laksamana Cheng Ho sebagai panglima perang utusan Tiongkok keturunan Persia memiliki latar belakang Islam.
Sumber : Wikipedia.

Akhirnya acara keliling lorong bawah tanah kelar juga dan tujuan berikutnya adalah Kuil Sam Poo Kong yang berjarak tidak jauh dari Lawang Sewu. Karena waktu yang sudah sore juga sy tidak berlama-lama di Sam Poo Kong. Setelah itu balik ke hotel untuk istirahat, karena senin esok harinya saya harus balik ke Jakarta pake flight pagi untuk langsung kerja. Sedangkan rombongan yang dari Bandung melanjutkan perjalanan yang masih panjang ke Rembang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *