Kintamani, Besakih & Jimbaran

Kintamani Kintamani merupakan salah satu sisi Bali yang belum sempet saya kunjungi. Landscape Kintamani ini berlatar belakang danau Batur dan gunung Batur yang bernuansa pegunungan, mungkin mirip sama daerah Bedugul walaupun secara acara kali ini benar2 mengecewakan … Perjalanan yang lumayan jauh mencapai anti klimaks di tujuan, yang tidak ada aktifitas sama sekali. Datang makan lalu kembali lagi … benar2 menyia2kan perjalan panjang yg cukup menguras fisik. Dan kejadian ini benar-benar mengulang kejadian ketika perjalanan ke Pantai Lovina … datang makan dan balik lagi … benar2 ngak banget … seolah2 perjalanan panjang yang melelahkan itu hanya bertujuan untuk makan siang 🙁 .
Tetapi kejadian itu terselamatkan dengan jalan2 di Besakih .. begitu pula ketika jalan ke Lovina yang terselamatkan di Air Terjun Gitgit … kalo di air terjun Gitgit.. bak anak kecil kami (bukan saya hehe) bergelantungan di atas seutas tali sambil teriak2 tanpa beban .. padahal secara lokasi dan tempat amat sangat tidak menarik hehe. Dan ketika di Besakih kami pun pecicilan seperti anak kecil, bahkan satu tas berisi peralatan kamera lengkap temen saya sempat tertingal di Besakih paling atas hehe sebelum dengan paniknya mencari kesana kemari.

BesakihBesakih

Kalau cuaca mendukung sebetulnya pemandangan gunung batur itu bisa jadi lebih indah dari gambar2 yang saya ambil, karena ketika saya tiba diiringi dengan cuaca mendung dan di sambut rintik2 hujan. Melihat keadaan gunung Batur jadi ingat ketika melihat gunung Merapi sebelum meletus yang seperti nasi tumpeng tanpa ada banyak vegetasinya, sekilas seperti tumpukan batu dan pasir yang membentuk gunung. Bedanya di gunung batur warnanya agak hitam (atau karena mendung ???) sedangkan ketika di Merapi lebih terang tidak hitam. Tapi sayang lokasi idaman saya, desa Trunyan dan menyebrangi danau Batur tidak bisa terlaksana. Jangan kan turun ke danau Batur, menikmati indahnya gunung batur aja cuman beberapa saat .. setelah makan (walopun lapar tapi ngak terlalu berselera) langsung balik lagi.

Ketika perjalanan pulang pemandangan sisi barat daya danau batur yang begitu indah seperti memaksa saya untuk mengikrarkan janji supaya mengunjungi tenpat itu di lain waktu kalau mengunjungi Bali lagi. Dan perjalanan panjang naik turun gunung di lanjutkan lagi … kali ini tujuannya adalah Pura Besakih. Kondisi jalan yang sempit dan naik turun membuat perjalanan agak melambat. Beberapa saat sampai Besakih ternyata harus di lanjutkan dengan jalan kaki hehe. Dan kembali kami pun pecicilan kesana kemari seperti anak kecil. Dan sampai di atas banyak galeri seni yang jual lukisan, tapi tetap secara detail tidak ada yg menandingi detail lukisan ubud yang masih segar tergambar di otak saya. Hmmm Ubud tunggu waktu saja.. kalo ada rezeki lukisan pertama yang akan saya beli dari Bali pasti berasal dari Ubud.

BesakihBesakih
BesakihBesakih

Setelah lumayan cape ‘digangguin’ anak2 kecil yang memaksa jualan bunga buat di sematkan di telinga, akhirnya kami pun turun dari titik tertinggi Besakih. Dan tujuan di lanjutkan ke Jimbaran buat makan malam. Untuk yang kesekian kalinya setiap mau makan malam di Jimbaran saya lebih sibuk ambil poto kesana kemari hehehe. Dan suasana yg di ambil sebenarnya gitu-gitu juga ngak ada perubahan tapi tetap ngangenin walopun secara rasa makanannya biasa-biasa aja, malah menurut penilaian ‘subjectif’ saya seafood yang di jual di tempat2 jualan seafood di Bandung (yg notabene nya jauh dari laut) masih jauh lebih enak apalagi kepitingnya hmmm HDL sama Parit 9 juara deh (Parit 9 wajib coba yg lada hitam, soalnya cara masak bumbu lada hitamnya agak2 garing pake tepung dan berbeda dengan kebanyakan yang lebih ke kuah kental) .

Jimbaran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *