Jelajah pulau Weh, Sabang

Jelajah pulau Weh, SabangTidak butuh waktu yang lama untuk jelajah pulau Weh dengan menyusuri jalan raya pinggiran pulaunya. Seluruh pulau akan bisa dikelilingi dalam satu hari. Tak usah risau akan tersesat, apalagi memikirkan masalah kemacetan seperti di Jakarta. Benar-benar kondisi jalan yang sangat ideal bagi warga Jakarta. Tapi semuanya harus dengan satu syarat , yaitu memakai kendaraan sendiri, karena sepertinya saya sama sekali tidak melihat kendaraan umum. Overall kondisi jalan-jalan utama di pulau Weh sangat baik dan mulus. Ada beberapa titik yang rusak parah karena guyuran hujan yang tak henti-hentinya ketika saya disana, tetapi persentasenya sangat kecil. Mungkin karena jumlah kendaraan sedikit sehingga jalan-jalan utama di pulau Weh terawat dan mulus. Tetapi karena jumlah kendaraan yang melintas tidak banyak menyimpan sisi negatif tersendiri. Saya pernah menyingkirkan bebatuan yang menghalangi jalan raya akibat longsor. Dan dilihat dari kondisinya sepertinya longsoran tersebut sudah berumur lebih dari 8 jam, mungkin terjadi malam hari ketika hujan deras malanda kawasan ini. Batuan yang menghalangi jalan tersebut masih ada ditengah, dan akan menghalangi laju setiap kendaraan kecuali motor. Ini berarti dalam hitungan 8 jam sama sekali tidak ada satupun kendaraan yang lewat sini, termasuk motor bahkan pejalan kaki. Ini terbukti karena tidak terlihat ada bekas jejak ban motor atau kaki sama sekali. Karena tidak ada yang melewati tempat tersebut maka pihak terkaitpun dijamin tidak akan pernah tahu kalau dititik tersebut terdapat longsoran bebatuan yang menutupi jalan. Tak terbayangkan kalau longsoran tersebut menimpa seseorang dan harus menunggu belasan jam untuk ditemukan.

Bekas longsoran

Bekas longsoran

Pagi hari kami sudah siap-siap untuk jelajah pinggiran jalan pulau Weh dengan arah yang berlawanan dengan jarum jam. Start dan finish akan dimulai di Iboih, lokasi yang kami jadikan base camp selama 4 hari di Sabang. Dihari ketiga di Sabang ini merupakan waktu yang sangat pas buat dimanfaatkan untuk menjelajahi pulau Weh, karena esok harinya berencana kembali ke Banda Aceh dengan memakai kapal dipagi hari.

Pantai Lhong Angen
Dari Iboih tempat pertama yang dituju adalah pantai Lhong Angen. Pantai yang sepertinya private milik salah satu dive resort di pulau Weh, yaitu Pade Dive Resort. Setelah terlalu sering melihat penginapan seadanya disekitar Iboih, pertama kali melihat bangunan Pade Dive Resort langsung bilang Wowww. Yah akhirnya bisa juga melihat penginapan mewah selama di Sabang. Bangunannya sangat bersih dan terawat. Begitu pula kebersihan disekitar resort sampai kepantainya benar-benar juara. Disini terdapat beberapa bungker bekas peninggalan perang dunia kedua. Bagi anda yang punya kantong tebal, bolehlah mencoba untuk menginap disini. Entah karena terlalu pagi atau memang suasananya sepi, saya tidak melihat satupun tamu resort atau pengunjung yang sedang menikmati pantai. Pantai ini menghadap kearah barat dan akan sangat cocok untuk dijadikan tempat menunggu sunset.

Pade Dive Resort, Pantai Lhong Angen

Pade Dive Resort, Pantai Lhong Angen

Pade Dive Resort, Pantai Lhong Angen

Pade Dive Resort, Pantai Lhong Angen

Goa Sarang
Tidak jauh dari Lhong Angen mengarah keselatan terdapat Goa Sarang. Kami hanya melihat lokasi goa sarang dari ketinggian dibahu jalan raya. Sehingga bentuk goanya sama sekali tidak terlihat. Kontur jalan naik turun dengan kondisi jalan yang lumayan bagus. Dari sini perjalanan dilanjutkan menuju Pantai Pasir Putih.

Goa Sarang

Goa Sarang

Pantai Pasir Putih
Dari Goa sarang masih terus mengarah keselatan. Kondisi jalan dibeberapa titik lumayan curam. Waktu perjalanan dari Goa Sarang ke Pantai Pasir Putihlah terdapat beberapa longsoran yang besar ataupun kecil. Longsoran ini sepertinya terjadi tengah malam ketika hujan sangat deras mengguyur pulau Weh. Tetapi dari tengah malam sampe pagi ini sama sekali ngak ada kendaraan yang melewati jalan ini. Terlihat dari tidak adanya jejak kaki ataupun ban motor apalagi mobil. Karena kalau mobil dipastikan tidak bisa lewat karena harus meminggirkan beberapa batu yang menghalangi jalannya. Memasuki kawasan pasir putih dengan cuaca mendung. Suasana lagi-lagi sepi tidak ada satupun pengunjung kecuali kami. Sepertinya lokasi pantai ini juga sangat cocok untuk dijadikan tempat menikmati Sunset karena menghadap ke arah barat. Suasana pantainya asik sepi dan terlihat belum ada aktifitas nelayan. Disini tidak terlihat ada fasilitas wisata yang mewah, semuanya serba alami. Hanya hamparan pasir putih indah dibalik perkampungan nelayan yang bersahaja dan belum ternodai oleh industri pariwisata.

Pantai Pasir Putih

Pantai Pasir Putih

Pemandian Air Panas Keuneukai
Tidak jauh dari Pantai Pasir Putih masih mengarah kearah selatan agak timur atau kearah tenggara akan ditemukan Pemandian Air Panas Keuneukai. Tidak seperti ditempat lain kalau pemandian air panas biasanya ada diwilayah pegunungan, disini pemandiannya tepat dipinggir pantai. Mengingatkan saya akan sumber air panas di Jailolo, Halmahera Barat.

Pemandian Air Panas Keuneukai

Pemandian Air Panas Keuneukai

Jaboi Volcano
Dari pemandian air panas, sekarang kendaraan mengarah kearah gunung Jaboi dan menjauhi pantai. Tapi ketika sampai di pertigaan menuju kawah bang Midi kasih tau untuk masuk kesini sekitar 1-2 jam berjalan kaki, kami pun mengurungan niat untuk melihat kawah putih di gunung Jaboi. Diurungkan karena mungkin akan memakan waktu 4 jam hanya untuk melihat kawahnya. Sedangkan posisi matahari, sekarang sudah mulai merangkak naik mau menuju keatas kepala, dan mengunjungi wilayah Anoi Hitam di timur pulau yang menjadi tujuan utama takut tidak tercapai.

Menuju gunung Jaboi

Menuju gunung Jaboi

Teluk Balohan
Dari gunung Jaboi, kendaraan lanjut mengarah ke Pelabuhan Balohan. Tetapi kali ini tidak mampir dipelabuhan. Mobil langsung mengarah ke Anoi Hitam. Diperjalanan dari Balohan ke Anoi Hitam akan melewati jalanan yang meliuk-liuk dan menanjak yang curam. Setelah sampai dipuncak bukit saya sarankan anda berhenti dan turun dari mobil kemudian melihat kearah belakang. Anda akan dikasih bonus pemandangan teluk Balohan dari atas beserta jalan yang meliuk-liuknya yang merupakan pemandangan yang sangat spektakuler. Sayang kondisi cuaca masih mendung, photo-photo pemandangan indah ini kurang maksimal.

Teluk Balohan, Sabang

Teluk Balohan, Sabang

Anoi Hitam
Meninggalkan pemandangan teluk Balohan dari belakang, sekarang kendaraan mengarah ke Anoi Hitam. Tidak seperti tempat-tempat sebelumnya yang sangat sepi, di pantai Anoi Hitam pengunjung lumayan ramai, walaupun definisi ramainya bukan definisi ramai tempat wisata di pulau Jawa. Mungkin sesuai dengan namanya Anoi Hitam pasir disini berwarna hitam. Pasir pantai di Anoi Hitam mirip seperti pasir-pasir pantai yang ada di pulau Ternate, apakah karena pulau ini pulau vulcanik seperti halnya pulau Ternate sehingga pasir pantainya lebih banyak berwarna hitam. Pantainya menghadap kearah Timur, karena sekarang kami berada disisi timur pulau Weh. Di Anoi Hitam banyak terdapat bungker dan benteng-benteng bekas peninggalan perang dunia kedua.

Anoi Hitam

Anoi Hitam

Japaness Fortress
Japaness Fortress atau Benteng Jepang berada dikawasan Anoi Hitam. Bentengnya mirip sekali dengan benteng-benteng digames Medal of Honor, dimana benteng tersebut berada diketinggian dan ada lubang buat menembakan senjata kearah pantai. Ternyata sekarang saya berdiri diatas benteng dengan suasana benteng persis dengan games Medal of Honor. Disekitar Anoi hitam ini benar-benar dijadikan basis pertahanan Jepang ketika perang dunia kedua, karena banyak sekali peninggalan bunker-bunker atau lorong-lorong buat perlindungan ketika perang.

Japaness Fortress

Japaness Fortress

Japaness Fortress

Japaness Fortress

Pantai Sumur Tiga
Dari Anoi hitam disisi timur pulau, sekarang mengarah kearah utara menuju Pantai Sumur Tiga. Berbeda dengan pasir di Anoi Hitam, di Sumur Tiga warna pasir pantainya putih. Terlihat gelombang ombak disini agak besar. Jejeran pohon kelapanya mengingatkan saya sama pemandangan jejeran pohon kelapa di Nemberala pulau Rote. Didaerah ini kami mengunjungi dua resort yang cukup terkenal disini yaitu Casa Nemo dan Fredies Santai Sumur Tiga. Ternyata jejeran penginapan-penginapan disisi timur pulau Weh jauh lebih bagus dan modern dibanding di Iboih.

Pantai Sumur Tiga

Pantai Sumur Tiga

Casa Nemo
Jalan masuk menuju Casa Nemo tidak menjanjikan suasana yang ok. Tetapi begitu melangkah memasuki pintu gerbangnya barulah terlihat semuanya tertata dengan rapih. Posisinya berada diatas tanah yang berkontur, sehingga harus turun lumayan curam untuk melihat kebih lanjut. Bungalow bungalownya terbuat dari kayu dan berbentuk panggung dengan tiang yang tinggi. Kondisi bungalow terlihat sangat terawat, begitu pula dengan keindahan tamannya yang hijau dan rapih. Posisi Casa Nemo langsung menghadap pantai Sumur Tiga yang tidak terlalu ramai. Di panggir pantai ada tempat makan seperti Bar terbuka yang beralasan dari papan kayu. Sepertinya kalau nongkrong disini lumayan mengasikan. Kalau saja tahu kondisi di Sumur Tiga tahu bagus, harusnya base camp selama di Sabang dibagi dua, Iboih dan Sumur Tiga masing masing 2 hari.

Casa Nemo

Casa Nemo

Fredies Santai Sumur Tiga
Hanya beberapa menit dari Casa Nemo ke arah utara dan masih di sekitar Sumur Tiga terdapat penginapan yang tak kalah asik dibanding Casa Nemo, yaitu Fredies Santai. Walaupun bungalow-bungalownya tidak sebagus di Casa Nemo, tetapi view pantainya sama sama keren. Kami memutuskan untuk makan siang yang telat disini. Suasana resto-nya ada di ketinggian dengan konsep outdoor sehingga dapat menikmati pemandangan kepantainya dengan leluasa. Menu makanannya tidak terlalu istimewa tetapi tidak mengecewakan juga. Pengunjung yang lagi makan siang pun tidak terlalu banyak, malah lebih banyak wisatawan luar. Cukup lama kami menikmati suasana keindahan pantai Sumur Tiga ini diatas resto Fredies Santai. Tetapi waktu yang membatasi harus lanjut kearah pusat kota Sabang.

Fredies Santai Sumur Tiga

Fredies Santai Sumur Tiga

Pantai Kasih
Di ujung utara kota Sabang terdapat pantai berpasir putih yaitu pantai kasih. Lagi-lagi pantainya sangat sepi hanya ada warga sekitar yang sedang main air dipantai. Karena tidak terlalu menikmati dipantai kasih ini selanjutnya di sore hari ini mencoba lokasi kuliner Sabang yang terkenal yaitu Sabang Fair.

Pantai Kasih

Pantai Kasih

Sabang Fair
Sabang Fair berada diteluk Sabang yang menghadap kearah barat. Disini baru terlihat ramai oleh pengunjung. Beberapa warung-warung yang berjejer di pinggir pantai tertata dengan rapih karena telah disediakan tempat. Ada beberapa bekas meriam dijadikan tugu untuk menghias suasana di taman Sabang Fair. Sore hari nongkrong dipinggir pantai sekitar Sabang Fair benar-benar mengasikan. Yang saya salut semuanya masih terlihat terawat untuk ukuran tempat wisata seperti di Indonesia, walaupun untuk masalah sampah tetap saja ada. Beberapa anak-anak muda dan keluarga-keluarga muda terlihat duduk dipinggir pantai menikmati suasana sore di Sabang Fair. Di Manado ada Bulevard, di Makasar ada Losari, di Ternate ada Swearing, di Kupang ada Tedis, di Aceh ada Ulee Lheue dan kalau di Sabang ada Sabang Fair.

Sabang Fair

Sabang Fair

Sabang Hill
Tak lengkap sepertinya datang ke Sabang tanpa melihat pemandangan teluk Sabang dari ketinggian. Di Sabang Hill lah tempat tertinggi di kota Sabang untuk melihat pemandangan teluk Sabang. Sabang Hill sebenarnya bukan tempat wisata umum karena tempatnya berada dikawasan hotel yang bernama Hotel Sabang Hill. Walaupun cuaca sore ini masih tetap mendung tetapi view kearah laut di teluk Sabang benar-benar keren. Sayang selama seharian matahari enggan memunculkan diri.

Sabang Hill

Sabang Hill

Bakpia Sabang
Turun dari Sabang Hill menuju tempat oleh-oleh Bapia Sabang yang terkenal. Sebenarnya saya sama sekali tidak berniat membeli oleh-oleh makanan, tapi melihat yang lain pada beli, akhirnya ikutan beli juga walaupun ngak banyak.

Pia Sabang

Pia Sabang

Piyoh
Nahh lebih baik saya membeli oleh-oleh seperti kaos untuk kenang-kenangan. Dan Kaos Piyohlah yang paling terkenal di Sabang. Sebelumnya sudah melihat kaos-kaos ditoko souvenir kota Sabang tetapi sama sekali tidak tertarik sama kualitas yang dijajakan. Tetapi ketika melihat kualitas kaos Piyoh, saya sudah menduga kalau kaos ini pasti didatangkan dari Bandung, seperti toko souvenir yang menjual kaos-kaos bagus di Ambon sebagian besar disupply dari Bandung. Setelah bertanya ke yang punya toko benar saja kalau kaos ini didatangkan dari Bandung. Piyoh menutup jalan-jalan terakhir di Sabang, dengan suasana sudah mulai menggelap kembali menuju Iboih untuk istirahat dan esok pagi harus sudah stand by dipelabuhan Balohan buat kembali balik ke Banda Aceh.

Piyoh

Piyoh

Sebenarnya ada beberapa wisata favorit di Sabang selain yang saya sebutkan diatas, tetapi itu sudah saya tulis di catatan perjalanan Sabang sebelumnya yaitu :

Tugu Nol Kilometer, Danau Aneuk Laot, Gapang dan Air Terjun Pria Laot sudah saya tulis disini.
Lalu pengalaman aneh bermain air di Iboih dan pulau Rubiah ada disini.

Kecuali Iboih, semua spot yang kami kunjungi sangat sepi, bahkan dibeberapa spot tidak terdapat pengunjung lain. Jadi pulau Weh sangat cocok buat orang-orang yang lebih menyukai kesunyian dan menjauhi tempat-tempat yang ramai. Bahkan Iboih yang paling ramai pun tidak akan sebanding ramainya dengan pengunjung Ancol.

Saatnya beristirahat untuk malam terakhir di Sabang, karena esok hari kami sudah harus kembali ke Banda Aceh.

    • @Alfi : luas pulaunya ngak jauh beda sama di Ternate, kecil tapi banyak spot2 yang Ok hehe… tapi di Ternate jauh lebih ramai. Benteng Tolukko di Ternate lebih “fotogenik” buat di poto :p

  1. Kak, saya suka sekali sama blog ini. Terakhir kali buka 2015 belum ada update kembali di 2017 juga masih belum ada postingan baru. Kemana aja kak..? kok tidak nulis-nulis lagi..?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *