Jalan-jalan di Sumatera Barat #1

Istano Basa PagaruyungJam 8.30 pagi waktu setempat roda pesawat Airbus dari maskapai penerbangan Mandala Air mendarat di Bandara International Minangkabau di Sumateta Barat dengan ditemani cuaca yang kurang bersahabat. Langit mendung yang di ikuti hujan yang lumayan deras menyambut kedatangan saya untuk pertama kalinya di bumi Minangkabau. Tapi untungnya cuaca yang kurang bersahabat tersebut tidak berlangsung lama, karena selang beberapa saat sehabis mengambil bagasi dan menuju keluar bandara hujan reda, yg ada tinggal gerimis kecil. Hal pertama yang dilakukan ketika keluar dari bandara adalah mengontak supir rental yang sudah dibooking beberapa hari sebelum berangkat ke Padang. Dodi sang supir yang akan menemani selama perjalanan di Sumateta barat ini, langsung memasukan tas travel buat kebutuhan selama 4 hari yangg isinya lebih banyak perlengkapan hobby diantaranya fin, snorkel, peralatan kamera dan baju rushguard buat snorkeling. Sedangkan baju salin sendiri hanya membawa 1 celana pendek dan 2 kaos cadangan, diluar kaos+kemeja dan celana jeans yg di pakai.

Seperti yang sudah-sudah , Itenerary  pasti semuanya saya yangg atur sendiri. Kali ini sampai pemilihan hotel tempat menginapun saya yg pilihin. Jalan-jalan sekarang agak sedikit berbeda karena pilihan penginapan disisi budget yang tidak biasa, walo sebenarnya ngak terlalu dinikmati juga. Google map lah yang menentukan kapan dan dimana harus menginap selama 4 hari 3 malem perjalanan Sumbar. Tanpa pikir panjang malam pertama dipilih Nuansa Maninjau Resort di deket danau Maninjau yang menurut kantong harganya sebenarnya Over Price wkkk tapi yah kali ini ingin menikmati ‘lebih’ dari biasanya hehe. Untuk malem kedua dan ketiga setelah tawar menawar sama marketing Hotel akhirnya dapet menginap di HW Hotel Padang di jalan Hayam Wuruk. Sebenarnya pilihan hotel tersebut agak sedikit over budget, tapi berhubung travelmate yang lain pada setuju ya udah book aja hehe.
Dengan sangat PD ketika keluar dari bandara bilang ke supir untuk di antar ke Bukittinggi. Keliling Bukittinggi lalu lanjut menginap di Nuansa Maninjau Resort sekitar Maninjau. Supir bertanya apakah kami sebelumnya pernah ke Padang, jawabanya kompak ‘Belum’ haha. Overall rencana keliling di Sumbar ini sudah diatur sedemikian rupa sehingga rute jalan2nya ngak bolak balik ngabisin waktu. Hal pertama yang dilakukan ketika keluar dari pintu bandara adalah mencari makanan buat sarapan pagi, beberapa kilometer keluar dari bandara mampir terlebih dahulu di salah satu sudut warung makan biasa untuk mengisi kalori buat sumber tenaga. Perjalanan dilanjutkan dan rintik-rintik hujan kadang membesar kadang berhenti, yang pasti selama perjalanan ke Lembah Anai kondisi cuacanya seperti ini. Jalan luar kota dari bandara Minangkabau sampai Bukittinggi kondisinya secara umum bagus, tepat 3.4KM dari bandara sampai di perempatan kanan ke Padang dan kiri ke arah Padang Panjang dan terus Bukittinggi. Karena di hari pertama ini kami menginap di Nuansa Maninjau Resort sekitar Maninjau, otomatis kota Padang di skip dan mobil melaju lancar menuju arah Padang Panjang. Ketika memasuki Lembah Anai Kondisi aspal yang basah tetapi tidak becek, serta keadaan kiri kanan lembah yang hijau menghiasi perjalanan kali ini. Bekas rel kereta api di samping jalan juga ikut menghiasi keindahan landscape sekitar lembah anai. Sayang rel kereta api tersebut hanya tinggal kenangan karena sudah tidak ada lagi kereta api yang beroperasi di rel ini. Sekitar jam 10.30 waktu setempat tidak terasa kilometer sudah menunjukan angka 46km, tepat berada di Air Terjun Lembah Anai. Sayang ketika sampai di air terjun ini kondisi gerimis semakin membesar, tetapi itu tidak akan menghentikan buat turun menuju air terjun karena sudah diplanning perjalanan ini akan memakai jalan pulang dan pergi yang berbeda, untuk itu daripada menyesal tidak bisa ambil poto lebih baik sedikit berhujan2an hanya untuk memuaskan hati guna menikmati keindahan air terjun ini.

Air terjun lembah Anai ini tepat berada di pinggir jalan, jadi bisa anda bayangkan kalo banyak mobil yang berhenti atau memelanin mobil sebentar saja akan di klakson oleh kendaraan2 di belakang anda hehe, jadi lebih baik anda turun dan parkir di tempat yang di sediakan di banding memperlambat mobil yang hanya akan membuat kemacetan di belakang anda.

Air Terjun Lembah Anai Jam Gadang, Bukittinggi
Jembatan penghubung kebun binatang dan benteng Fort de Kock Museum rumahgadang di benteng Fort de Kock
Air Terjun Lembah Anai, Jam Gadang dan benteng Fort de Kock

Tak terasa selepas dari Lembah Anai sekitar 55km perjalanan, pusat kota Padang Panjang terlewati, tepatnya di pertigaan yang ke arah Singkarak sebelah kanan dan lurus ke Bukittinggi. Kami ambil arah Bukittinggi, beberapa kilometer keluar dari pertigaan tersebut kami mampir di pusat pengrajin pandai sikek Padang Panjang, walau secara kualitas barang2 yang di jual disini lumayan ok tetapi saya sendiri tidak membeli apa2 di sini. Sebelum memasuki Bukittinggi kemacetan sudah terlihat di depan mata. Alaaamaaaaaaakkkkk jauh-jauh jalan kesini hanya untuk menikmati kemacetan hadooooooohhh, ternyata Bukittinggi di long weekend katanya selalu muaaaceeeett. Untungnya selepas perempatan yang kearah Maninjau kemacetan mulai terurai tepatnya dikilometer 70 GPS. Memasuki Bukittinggi suasananya semakin ramai dan padet, mengingatkan akan kota Bogor. Tujuan utama ketika sampai Bukittinggi adalah ingin menikmati kuliner Bukittinggi yang terkenal enak2. Rumah makan Bebek Lado Ijo Mudo di sekitar Ngarai Sianok lah yang dituju. Tepat Jam 1 siang di kilometer 76, kami sampai di rumah makan tersebut. Ternyata emang makananya rekomended banget hahahaha entah karena memang enak atau laper karena sudah jam 1 atau kombinasi dua2nya yang pasti makan disini nikmat bangettt. Kurang lebih 1/2 jam menikmati hidangan kuliner Bukittinggi kembali kami keatas untuk sekedar menikmati keindahan alam Ngarai Sianok.
Sebelumnya hanya melihat di poto atau tv akhirnya kesampaian juga melihat keindahan ngarai sianok dengan mata kepala sendiri hehe. Puas menikmati keindahan ngarai sianok hal yang patut di kunjungi ketika di Bukittinggi ialah Jam Gadang, ternyata kondisi sekitar Jam Gadang ketika tanggal merah padatnya minta ampun. Selain terlalu ramai hal utama kenapa men-skip Jam Gadang di hari pertama adalah karena waktu yang sudah menunjukan angka 14.45 dan dengan berat hati kami skip melihat2 jam Gadang walo akan kami datangi kembali ketika esok hari di pagi ketika suasana jauh lebih sepi hehe.

Ngarai Sianok, Bukittinggi Ngarai Sianok, Bukittinggi
Ngarai Sianok, Bukittinggi Ngarai Sianok, Bukittinggi
Ngarai Sianok

Kali ini jalur yang di ambil supir ketika akan ke danau Maninjau diluar perkiraan, dia memakai jalan alternatif melewati ngarai sianok dan tidak kembali ke perempatan arah Padang Panjang keluar kota Bukittinggi, ternyata jalurnya memang lebih dekat berdasarkan peta GPS. Badan jalan yang lumayan kecil dengan kondisi jalan yang sepi serta kelak kelok tetapi di hiasi dinding ngarai di kanan jalan menambah eksotis jalur alternatif ini. Kurang lebih 9.7km dari rumah makan bebek lado ijo ngarai sianok ato total 86km dari Bandara menemui pertigaan dan menyambung ke jalan utama untuk menuju Danau Maninjau. Tetapi untuk menikmati keindahan Danau Maninjau yang lebih mantab kami naik menuju Puncak Lawang yang juga merupakan tempat olahraga dirgantara Paragliding. Tepat di kilometer 96 kami berada di ketinggian puncak Lawang mengarah ke bentangan alam danau Maninjau yang eksotis.

Danau Maninjau Danau Maninjau
Danau Maninjau

Hanya ada kata WOW ketika melihat keindahan Maninjau dari sini, tempat ini bener2 saya rekomendasikan sebagai gardu pandang untuk melihat genangan air yang maha luas dari ketinggian. Terkesima melihat pemandangan dan sangat betah sekali untuk berlama-lama disini, karena selain keindahan pemandangannya tetapi suasana sejuk yang bikin tambah malas buat cabut dari tempat ini. Tetapi karena waktu yang sudah menunjukan jam 16.30 dengan berat hati kami turun untuk check in, di kilometer 107 sampai juga di Hotel Nuansa Maninjau Resort. Sekilas hotelnya lumayan ok dan besar terus kondisi kamarnya lumayan bagus walo tidak bersih-bersih amat tetapi cukup bersih.
Karena maniak air walo badan masih lelah ngak tahan melihat kolam renang langsung nyeburrrrrr.. dan untuk pemanasan berenang di Pamutusan nanti di hari ketiga saya bolak-balik terus berenang sampai bener2 lelah. Ternyata hotel ini menyediakan kolam jacuzi hangat, sayang kalau harus di lewatkan, setelah berenang langsung berendam di kolam hangat jacuzi. Malam harinya kami makan malam di hotel karena paketnya sudah termasuk makan malem. Tetapi menu yang disediakan tidak seimbang dengan harga yang dikeluarkan :p , selain kurang variatif secara rasa juga biasa-biasa saja. Tetapi memang di hotel ini menang secara lokasi, di lokasi tempat makan bisa melihat ke arah danau dari kejauhan.

View Danau Maninjau dari Puncak Lawang View Danau Maninjau dari Puncak Lawang
 Danau Maninjau View Danau Maninjau dari Puncak Lawang
Danau Maninjau

Pagi hari harus sudah siap2 karena harus keliling, ketika sarapan melihat keluar jendela restaurant .. baru ngeh kalo Danau Maninjau di pagi hari dan di lihat dari ketinggian keren banget.. terlihat ada seperti kabut atau awan tipis tepat berada di atas permukaan danau …kerennnnn … biasa melihat gulungan awan tebal atau tipis di bawah kaki ketika di atas gunung sudah biasa.. tetapi ini melihat awan tipis berada di atas danau yang dekat banget sama permukaan danau benar benar keren, baru pertama kali saya melihat yang seperti ini.
Selesai sarapan jam 8 pagi lewat kami check out dan melanjutkan kembali ke Bukittinggi guna melihat2 jam Gadang dan juga benteng Fort de Kock. Kurang lebih jam 9 pagi kami sudah sampai di depan pintu gerbang benteng Fort de Kock yang sekarang menyatu dengan kebun binatang Bukittinggi.

Benteng ini didirikan oleh Kapten Bouer pada tahun 1825 pada masa Baron Hendrik Merkus de Kock sewaktu menjadi komandan Der Troepen dan Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda, karena itulah benteng ini terkenal dengan nama Benteng Fort De Kock. Benteng yang terletak di atas Bukit Jirek ini digunakan oleh Tentara Belanda sebagai kubu pertahanan dari gempuran rakyat Minangkabau terutama sejak meletusnya Perang Paderi pada tahun 1821-1837. Di sekitar benteng masih terdapat meriam-meriam kuno periode abad ke 19. Pada tahun-tahun selanjutnya, di sekitar benteng ini tumbuh sebuah kota yang juga bernama Fort de Kock, kini Bukittinggi.
Semasa pemerintahan Be­lan­da, Bukittinggi dijadikan sebagai salah satu pusat peme­rintahan, kota ini disebut sebagai Gemetelyk Resort pada tahun 1828. Selain itu, kota ini tak hanya dijadikan sebagai pusat peme­rintahan dan tempat pertahanan bagi pemerintah kolonial Belanda, namun juga dijadikan sebagai tempat peristirahatan para opsir Belanda yang berada di wilayah jajahannya.
Sumber : Wikipedia.com-May 2013

Selain karena kerimbunan taman dan pepohonanya yang cukup asri, tidak ada yg istimewa di taman wisata Fort de Kock ini, kebun binatangnya ngak terlalu banyak mengoleksi binatang, yang cukup ok hanya museum rumah gadang yang berada di tengah kebun binatang, itupun di koleksi museum didalamnya seperti kurang terawat. Jadi bentuk rumah gadang dan rasa penasaran seperti apa rumah gadang itu lah yang membuat ok dan penasaran. Oh mungkin satu yang membuat unik kebun binatang di Fort de Kock ini yaitu jembatan gantung yang menghubungkan benteng dengan kebun binatang yang melintas di jalan rayanya.

Sebentar kami mampir di Fort de Kock, tujuan berikutnya adalah jam gadang, karena rasa penasaran di hari sebelumnya yang terlalu ramai, di pagi hari ini menyempatkan diri untuk melihat jam gadang dari dekat hehe. Kondisi tower jam gadang disini terawat dengan sangat baik dan kondisi kebersihannya cukup bersih.

Jam Gadang adalah nama untuk menara jam yang terletak di pusat kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia. Menara jam ini memiliki jam dengan ukuran besar di empat sisinya sehingga dinamakan Jam Gadang, sebutan bahasa Minangkabau yang berarti “jam besar”. Jam Gadang memiliki denah dasar seluas 13 x 4 meter. Bagian dalam menara jam setinggi 26 meter ini terdiri dari beberapa tingkat, dengan tingkat teratas merupakan tempat penyimpanan bandul. Bandul tersebut sempat patah hingga harus diganti akibat gempa pada tahun 2007.
Terdapat 4 jam dengan diameter masing-masing 80 cm pada Jam Gadang. Jam tersebut didatangkan langsung dari Rotterdam, Belanda melalui pelabuhan Teluk Bayur dan digerakkan secara mekanik oleh mesin yang hanya dibuat 2 unit di dunia, yaitu Jam Gadang itu sendiri dan Big Ben di London, Inggris. Mesin jam dan permukaan jam terletak pada satu tingkat di bawah tingkat paling atas. Pada bagian lonceng tertera pabrik pembuat jam yaitu Vortmann Relinghausen. Vortman adalah nama belakang pembuat jam, Benhard Vortmann, sedangkan Recklinghausen adalah nama kota di Jerman yang merupakan tempat diproduksinya mesin jam pada tahun 1892.
Pembangunan Jam Gadang menghabiskan biaya sekitar 3.000 Gulden, biaya yang tergolong fantastis untuk ukuran waktu itu. Sehingga sejak dibangun dan sejak diresmikannya, menara jam ini telah menjadi pusat perhatian setiap orang. Hal itu pula yang mengakibatkan Jam Gadang kemudian dijadikan sebagai penanda atau markah tanah dan juga titik nol kota Bukittinggi.
Sumber : Wikipedia.com-May 2013

Waktu sudah menunjukan pukul 10.15 pagi, karena perjalanan masih panjang dan harus segera cabut dari Bukittinggi. Jam gadang inilah yang akan dijadikan patokan awal untuk menghitung jarak perjalanan di hari kedua. Dari Bukittinggi ini sebenarnya ada beberapa alternatif rute jalan seperti apakah mau main dulu ke Payakumbuh untuk melihat2 lembah Harau, tetapi karena jarak dan waktu dipilihlah Istano Basa Pagaruyung di Batu sangkar. Dengan harapan pulang dari Batu Sangkar bisa mampir di Danau Singkarak, lagi-lagi penentuan semua rute tersebut hanya dapat dilakukan dengan melihat-lihat google map hehe.
Sudah 20km jam gadang terlewati di belakang, di kejauhan keindahan danau Singkarak sudah terlihat, mobil terus melaju dan tepat di kilometer 28 ada pertigaan, lurus terus ke danau Singkarak dan kiri ke Batu Sangkar. Kami melilih belok kiri terlebih dahulu buat mampir ke Batu Sangkar. Kondisi jalan cukup baik serta naik turun dan meliuk-liuk dengan di temani pemandangan hijau kiri kanan jalan. Angka kilometer sudah menunjukan di angka 53km kami tepat berada di depan pintu gerbang Istano Basa Pagaruyung dan waktu itu menunjukan sekitar jam 11.30 siang. Rumah gadang yang super besar tepat di depan mata, komplek istananya juga tak kalah luas, ada banyak wisatawan yang mendatangi istana ini tetapi karena halaman/lapangan di depan istana yang sangat luas serasa orang2 yang berada disini hanya sedikit. Ini merupakan rumah gadang terbesar yang saya lihat selama ini. Ada 4 pasang atap runcing yang sejajar di tambah sepasang atap runcing ditengah yang melintang yang menaungi istana ini. Semua dinding disini penuh ukiran kecuali dinding belakang bagian tengah rumah yang terbuat dari anyaman bambu tetapi bukan seperti anyaman bilik biasa. Dibagian belakang bangunan tersebut terdapat bangunan yang lebih kecil dan dihubungkan dengan jembatan yg tertutup atapnya dengan bangunan utama, bangunan kecil tersebut dindingnya terbuat dari anyaman bambu bilik biasa. Di sebelah kiri depan bangunan tersebut ada sebuah rangkiang yang ukurannya super jumbo yang biasa di pakai buat menyimpan padi. Karena mendekati waktu shalat jumat maka saya shalat jumat terlebih dahulu dimasjid dekat istana ini.

Istano Basa Pagaruyung
Istano Basa Pagaruyung Istano Basa Pagaruyung
Istano Basa Pagaruyung

Istano Basa yang lebih terkenal dengan nama Istana Pagaruyung, adalah sebuah istana yang terletak di kecamatan Tanjung Emas, kota Batusangkar, kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Istana ini merupakan obyek wisata budaya yang terkenal di Sumatera Barat.
Istano Basa yang berdiri sekarang sebenarnya adalah replika dari yang asli. Istano Basa asli terletak di atas bukit Batu Patah dan terbakar habis pada sebuah kerusuhan berdarah pada tahun 1804. Istana tersebut kemudian didirikan kembali namun kembali terbakar tahun 1966.
Proses pembangunan kembali Istano Basa dilakukan dengan peletakan tunggak tuo (tiang utama) pada 27 Desember 1976 oleh Gubernur Sumatera Barat waktu itu, Harun Zain. Bangunan baru ini tidak didirikan di tapak istana lama, tetapi di lokasi baru di sebelah selatannya. Pada akhir 1970-an, istana ini telah bisa dikunjungi oleh umum.
Pada tanggal 27 Februari 2007, Istano Basa mengalami kebakaran hebat akibat petir yang menyambar di puncak istana. Akibatnya, bangunan tiga tingkat ini hangus terbakar. Ikut terbakar juga sebagian dokumen, serta kain-kain hiasan. Diperkirakan hanya sekitar 15 persen barang-barang berharga yang selamat. Barang-barang yang lolos dari kebakaran tersebut sekarang disimpan di Balai Benda Purbakala Kabupaten Tanah Datar. Harta pusaka Kerajaan Pagaruyung sendiri disimpan di Istano Silinduang Bulan, 2 kilometer dari Istano Basa.
Sumber : Wikipedia.com-May 2013

Danau SingkarakSehabis shalat jumat karena perut kosong kami keluar dari komplek istana ini dan melanjutkan perjalanan kembali ke arah danau Singkarak sambil mencari tempat buat makan siang. Makan di tempat makan sekitar Batu sangkar yang lupa nama tempatnya , tapi yang pasti tempatnya ramai dan sekelilingnya sawah. Makan siang disini ternyata lumayan enak dan harganya bisa dikatakan super murah hehehe. Tepat di kilometer 74 dari Jam Gadang bukittinggi atau jam 15.30an sampai juga kami di bibir danau Singkarak. Danau ini merupakan danau terbesar yang pernah saya lihat hehe. Sebentar menikmati keindahan danau singkarak dan perjalanan di lanjutkan kembali karena waktu yang terus mendekati sore hari. Ternyata lumayan panjang kami menyusuri pinggiran danau dengan kondisi jalan yang mulus karena mau di adakan Tour de Singkarak acara tahunan reli sepeda disini. Sepanjang bibir danau selain jalan yang mulus juga ada rel yang terus menemani kami kadang di kanan dan kadang pindah ke kiri jalan. Di kilometer 106 mobil sampai di kota Solok, mengejar waktu supaya tidak terlalu lama ke kota Padang mobil semakin kencang mengarah ke kota. Solok terlewati dan beberapa saat kemudian jalan meliuk-liuk turun dengan lumayan curam dan akhirnya sekitar Maghrib samai juga di HW hotel di jalan Hayam Wuruk Padang.

Bersambung ke Pesona Pesisir pantai di Sumatera Barat

    • @Yusuf : Jembatan Siti Nurbaya pas saya kesana agak kumuh dan kotor jadi ngak terlalu menikmati suasananya. Untuk pantai Air Manis kemaren saya skip karena saya lebih lebih memilih untuk melihat pantai2 indah di pulau2 sekitar pesisir sumatera Barat seperti pulau Pagang, Sikuai dan Pamutusan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *