Iboih & Pulau Rubiah : The Unexpected Things

Yulia Bungalow-Iboih,  SabangIboih, sebuah desa kecil disebelah barat Sabang ini menjadi lokasi favorit wisatawan yang mengunjungi Sabang. Sebagian besar pengunjung yang mengunjungi Iboih, dipastikan akan menyeberang kepulau Rubiah. Pulau ketiga terbesar di kota Sabang ini hanya berjarak kurang dari 300m dari dermaga pantai Teupin Layeu, Iboih. Sebenarnya pantai putih didesa Iboih ini namanya pantai Teupin Layeu, tetapi orang lebih mengenal dengan nama pantai Iboih. Kawasan wisata Iboih dan hutannya berbentuk seperti “semenanjung” yang menjorok kelaut, dan sejajar dengan pulau Rubiah yang memanjang sepanjang “semenanjung” Iboih. Karakteristik pantainya berbatu yang lumayan curam. Panjang pantai berpasir putih Teupin Layeu tidak lebih dari 200m, sisanya pantai berbatu. Karena panjang pantai pasir putihnya sekitar 200m, maka pusat keramaiannya juga hanya sebatas panjang pantai Teupin Layeu saja. Serta penginapan-penginapan disepanjang pantai ini dipastikan terbatas juga. Walaupun pusat keramaiannya hanya sepanjang 200m saja, tetapi justru pusat penginapannya ada didalam hutan Iboih sepanjang 500-700 meter mengarah ke semenanjungnya. Memasuki rimbunnya hutan yang menghadap kepantai ini berjejer beberapa penginapan-penginapan eksotis. Jangan berharap dapat kelas hotel seperti di kota, karena penginapan disini kebanyakan berbentuk kabin pinggir pantai seadanya, listrikpun hanya nyala semaunya. Bagi anda yang kurang suka hidup menyatu dengan alam dan sama sekali tidak ada fasilitas apapun jangan pernah menginap sekitar sini. Makanan atau minuman semuanya harus disiapkan sendiri, bahkan menyapu lantai teras dan menyalakan serta mematikan pompa air harus dilakukan sendiri. Tetapi sebaliknya kalau anda tipikal orang yang mencari kesunyian untuk menikmati alam yang masih natural disinilah tempat yang tepat. Bagi anda yang menyukai kegiatan snorkeling pilihlah kabin yang dipinggir pantai. Dipastikan kapan anda ingin berenang tinggal turun melalui bebatuan dibawah kabin. Apakah kami berkunjung disaat musim yang kurang tepat ? mungkin saja, karena sepanjang liburan di Iboih hujan tak kunjung reda. Hujan gerimis beserta cuaca yang redup menambah suasana spooky di Iboih. Tetapi saya punya pendirian, kalau kekelakuan orang bisa lebih jahat dan sadis dibanding hal-hal yang tak bisa dilihat oleh kasat mata. Oleh karena itu selama jalan-jalan ketempat-tempat angker pun jarang sekali menyiutkan nyali ini. Lebih takut apabila ketika jalan-jalan ketemu benggal atau perampok sadis hehe.

Iboih

Iboih

Malam kedua di Sabang masih menginap di Iboih, tetapi kali ini tidak menginap dikeramaian pantai Teupin Layeu. Malam kedua dan ketiga rencana menginap di Yulia Bungalow, itupun kebagian kamar/kabin yang jauh dai officenya, malah lebih dekat ke Iboih Inn. Pencarian penginapan untuk dua malam kedepan ini dilakukan dimalam pertama sebelum istirahat, karena takut tidak dapat tempat menginap. Kami hanya mendapatkan satu malam dipenginapan di Teupin Layeu. Keliling mencari penginapan disekitar penginapan yang sekarang ditempati, tidak mendapatkan hasil. Akhirnya diputuskan malam ini harus dapat kepastian tempat menginap untuk esok malam, karena rencana esok hari adalah bermain air sepuasnya di Iboih dan menyeberang ke Rubiah, sehingga dipastikan lebih capai dan malas cari penginapan. Karena itu malam-malam berjalan menuju rimbunnya hutan dan pepohonan di Iboih untuk door to door mencari penginapan kosong. Sampai ujung hutan tidak mendapatkan kamar kosong.

Menuju Yulia Bungalow Iboih

Menuju Yulia Bungalow Iboih

Tinggal Yulia Bungalow yang berada dipaling dalam dirimbunnya pohon yang menjadi harapan terakhir. Beruntung dapat kabin kosong walaupun agak jauh dari front office Yulia Bungalow. Waktu sudah menunjukan pukul 9 malam, hujan deras tiba-tiba turun. Badan sudah terasa letih tetapi terperangkap ditengah hutan karena hujan yang lebat. Secangkir kopi saring menemani saya sambil menunggu hujan reda. Akhirnya jam 10.30 malam hujan sedikit reda. Tapi rintik hujan masih terus turun. Karena tubuh sudah merasa lelah, ditengah rintik hujan dipaksakan untuk survei kabin tempat menginap esok malam. Lalu keluar dari hutan menuju pantai Teupi Layeu dimana tempat beristirahat malam ini berada.

Yulia Bungalow

Yulia Bungalow

Kami hanya dikasih petunjuk kamarnya deket dengan Iboih Inn dan ada tiga kabin yang terpisah dari Iboih Inn dan itu adalah kabin Yulia Bungalow. Ok langsung grasak grusuk ditengah gelapnya hutan untuk mencari bakal kabin tempat menginap esok nanti. Berjalan dijalan setapak yang kian tidak pasti. Hujan tiba-tiba turun dengan derasnya, lampu senter yang selalu menjadi andalan tiba-tiba mati. Lengkap sudah penderitaanya, tanpa payung berjalan dimalam hari ditengah hutan yang gelap, sambil diguyur hujan yang lebat tanpa penerangan, bahkan telapak tangan sendiri pun tidak terlihat. Tetapi kami masih tetap meraba-raba untuk menemukan kabin yang dicari.

Yulia Bungalow Iboih

Yulia Bungalow Iboih

Badan benar-benar sudah lelah, waktu sudah menunjukan pukul 11 malam akhirnya kabin yang dicari ketemu juga. Tetapi percuma ngak bisa dilihat kondisinya seperti apa karena suasana yang sudah gelap. Ok setidaknya sekarang sudah tau letak lokasi kabin buat esok malam, sekarang saatnya istirahat dan berjalan keluar hutan menuju penginapan didepan pantai Teupin Layeu, masih dengan diiringi hujan yang terus mengguyur sepanjang malam.

Yulia Bungalow

Yulia Bungalow

Pagi buta sudah bersiap pindah penginapan ke Yulia Bungalow. Bang Randi CareTaker Yulia Bungalow yang gokil abis sudah berjanji menjemput didermaga Teupin Layeu. Yah kali ini karena harus membawa gembolan tas kerir yang besar, akhirnya minta tolong Randi menjemput sehingga tidak perlu berjalan kaki ke Yulia Bungalow. Hutan tepi pantai di Iboih terlihat lebih eksotis apabila dilihat diatas perahu. Banyak kabin-kabin penginapan berdiri tepat dipinggir pantai berbatu yang curam. Karakteristik pantainya yang berbatu dan curam lah yang membuat kabin-kabin penginapan disini berbentuk panggung, sehingga penyangga panggung terlihat berjejer ditepi pantai.

Yulia Bungalow

Yulia Bungalow

Sampai di front office Yulia Bungalow atau lebih tepatnya rumah yang punya penginapan, hujan kembali turun dengan derasnya. Kembali karena kabin yang dibooking agak jauh akhirnya sambil menunggu hujan deras reda, pesan sarapan, beserta kopi saring lagi tentunya. Hmmm entah sudah berapa gelas kopi saring yang ternikmati walaupun baru satu malam di Sabang hehe. Beberapa bule yang menginap disini sudah silih berganti untuk sarapan. Tetapi kami masih terpaku disini karena hujan deras. Hujan tak kunjung reda, saya putuskan untuk snorkeling saja ditengah guyuran hujan. Tetapi visibility dipastikan kurang bagus karena aliran air hujan beserta lumpur tanah dari hutan Iboih langsung menuju laut dengan derasnya. Sekarang yang tersisa tinggal hujan rintik saja. Beberapa perahu wisata dengan glass bottomnya hilir mudik untuk menikmati keindahan terumbu karang. Akhirnya ditengah hari dengan cuaca masih mendung diiringi gerimis kecil, diputuskan untuk menuju kabin yang berjarak cukup jauh.

Under Water Yulia Bungalow

Under Water Yulia Bungalow

Kami beistirahat diatas kabin yang menghadap kelaut dengan dikelilingi hutan yang lebat. Diteras kabin menggantung hammock yang sudah menunggu ditiduri. Hari ini sama sekali tidak ada aktifitas jalan-jalan karena ingin menikmati suasana laut Iboih dan pulau Rubiah-nya saja. Setelah menaruh tas dan sedikit menyapu teras kabin karena sampah daun-daun kering, tubuh sudah bergantung diatas hammock. Kali ini tubuh benar-benar dimanjakan ditengah suasana hutan yang tidak ada orang, sambil tiduran menggantung diatas hammock yang menghadap lautan. Acara kali ini benar-benar leyeh-leyeh saja sambil memperhatikan aktifitas wisatawan diujung pulau Rubiah. Walaupun hujan terus mengguyur seharian, tetapi terlihat dari sini aktifitas pengunjung dipulau Rubiah masih terlihat ramai. Sayang karena cuaca yang jelek, photo-photo keindahan alam Iboih yang dihasilkan warnanya tidak keluar dengan semestinya.

Yulia Bungalow

Yulia Bungalow

Habis leyeh-leyeh diatas ayunan Hammock, gatal juga untuk snorkeling. Asiknya menginap disini, bisa snorkeling kapan saja karena tinggal turun menuruni bebatuan dibawah kabin. Setelah lama snorkeling penasaran juga untuk menyeberang ke pulau Rubiah. Langsung saat itu juga kontak bang Randi untuk menjemput dan mengantar ke Rubiah, lalu minta dijemput kembali dari Rubiah pukul 17.30. Ketika sampai dipulau Rubiah pengunjung benar-benar ramai. Saya ikut meramaikan keramaian Rubiah dengan langsung terjun kelaut untuk snorkeling.

Under Water Rubiah

Under Water Rubiah

Keramaianya Rubiah hanya berkumpul disatu titik yaitu diteluk kecil yang menghadap kearah barat dimana Iboih berada. Sedangkan info dari bang Randi, kalau terumbu karang sisi pulau Rubiah bagian timur lebih bagus. Untuk membelah pulau dari sisi barat ke kesisi paling timur, harus melewati jalan setapak ditengah hutan. Tetapi sama sekali tidak melihat satu orang pun yang melintas untuk memasuki jalan setapak tersebut. Ditengah cuaca mendung sebenarnya suasana pulau Rubiah ternyata lebih “angker” dibanding Iboih hehe. Mungkin karena rasa penasaran ingin melihat suasana sisi bagian timur pulau lebih besar dibanding ketakutan karena “angker”nya ini, akhirnya saya dan salah satu temen memasuki jalan setapak tersebut.

Pulau Rubiah

Pulau Rubiah

Oh iya pulau Rubiah pernah menjadi asrama karantina Haji Pertama di Indonesia. Sehingga terdapat pelabuhan khusus buat kapal-kapal yang mengangkut calon jemaah haji ke Mekah. Dahulu kapal-kapal yang mengangkut calon jamaah haji yang melewati selat Malaka akan transit disini. Sehingga konon asal-usul julukan Aceh sebagai Serambi Mekah berawal dari sini.

Ketika melewati jalan setapak untuk menuju sisi Timur pulau, akan melewati reruntuhan bekas asrama karantina Haji. Sekarang reruntuhan ini ditumbuhi tumbuhan liar. Hujan sedikit gerimis suasana semakin “angker”. Dan tidak ada satu orang pun selain kami berdua yang melintas melewati jalan setapak ini. Dititik ini ketakutan akan hal-hal gaib dan aneh semakin menjadi hehe. Yah pulau Rubiah merupakan salah satu pulau dari sedikit pulau yang bisa membangkitkan bulu kuduk saya. Dengan kondisi bulu kuduk yang sudah berdiri, berdua masih saling bercanda dan saling menakut-nakuti hehe. Setelah sampai disisi timur pulau, lagi-lagi tidak ada satu orangpun selain kami berdua. Melihat gelombang yang lebih besar, kami mengurungkan niat snorkeling disini dan kembali ke sisi barat pulau. Ketika berjalan kembali kesisi barat pulau, keluar sifat iseng untuk bercadain temen, dengan cara berlari didepan dia. Teman pun bertanya-tanya kenapa saya lari, dan tanpa bertanya lebih lanjut diapun hanya bisa ikut berlarian sehingga menambah berdiri bulu kuduk ditengah seribu pertanyaan kenapa saya berlari.

Hutan pulau Rubiah

Hutan pulau Rubiah

Langit semakin gelap, Randi sudah datang untuk menjemput untuk kembali ke Iboih. Dan malam hari kembali hujan turun dengan derasnya. Salah satu teman kami mendadak kedinginan, dia menggigil seperti kedinginan ditengah puncak gunung, padahal posisi sekarang berada di tepi pantai. Cek suhu badan sepertinya tidak lebih panas dari tubuh saya. Ricek kembali apakah dia tersengat binatang berbisa ?, tetapi tidak ada satu pun bekas gigitan entah itu reptil atau serangga. Ditengah hutan seperti ini, sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa selain membagi tugas, saya menunggu teman yang menggigil dan satu temen lainnya mencari makanan dan obat penurun demam. Malam ini saya tidur diatas hammock diteras luar sambil menunggu yang menggigil. Anehnya dalam beberapa jam kemudian temen yang menggigil sudah mulai kembali normal.

Yulia Bungalow

Yulia Bungalow

Esok hari sempat berpikir untuk kembali ke Banda Aceh saja karena takut ada apa-apanya. Tetapi temen yang sakit, menolak dan tetap untuk melanjutkan jelajah pulau Weh sehari lagi. Dan dihari keempat atau terakhir di Sabang, giliran saya yang kena demam. Ketika menunggu dipelabuhan Balohan Sabang untuk menyebrang ke Banda Aceh, tubuh benar-benar nge-fly dan hanya bisa pasrah apakah akan dapat tiket atau tidak. Anehnya ketika masuk ke kapal dan sampai di Banda Aceh, tubuh ini serasa bugar kembali tanpa merasakan demam atau apapun.

Yulia Bungalow Iboih

Yulia Bungalow Iboih

Hal aneh selanjutnya malah terjadi ketika sudah berada di Jakarta. Ada orang kantor tiba-tiba nelpon ngasih tahu kalau saya ditempelin oleh mahluk halus …whattttt. Dia sama sekali tidak tahu kalau saya baru pulang dari Sabang. Dan yang lebih merinding lagi adalah kejadian dimall ketika saya kumpul sama temen tepat beberapa jam setelah orang kantor kasih kabar aneh tersebut. Yah merinding karena temenya temen saya, yang sama sekali ngak kenal ketakutan melihat saya. Dia bilang saya ditempeli oleh mahluk halus yang seram …. WOOOOOOWWWWW. Akhirnya saya sakit beneran, sampai dua hari tidak bisa ngantor xixixixi. Hmmmmm Benar-benar The Unexpected Things.

    • @alfi : lupa tepatnya, sekitar 300rb-an lah … jadi Orb jgn dihubung2kan dengan yg supernatural soalnya Orb dioptik hal yg wajar dan ada penjelasaanya hehe

  1. Weeh, ceritanya berakhir serem 😐 tapi keliatan tempatnya masih alami dan ber hutan. jadi wajar juga kalau agak angker -,- tapi seru tempat menginapnya 🙂

    • @wid : sebenarnya sih Yulia sama Iboih Inn ngak jauh beda, cuma Yulia lebih jauh kedalam… tapi kalo suruh pilih lagi saya pilih Iboih Inn, bukan karena lebih bagus tapi pengen coba yg lain hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *