Eksotisme Garut III : Santolo Beach

Anda dipastikan akan sangat tertegun melihat keindahan Pantai Santolo. Lengkungan pasir putih pantai santolo benar-benar membuat saya takjub, walaupun ketika pertama kali kami datang kedaerah wisata tersebut sebetulnya terkesan kumuh sekali. Kesan kumuh pertama kali masuk daerah sini dikarenakan beberapa bangunan yang semrawut tempat pelelangan ikan juga terkesan kotor dan saya jamin anda pun akan berfikiran sama ketika sampai ketempat wisata ini karena berbeda sekali dengan deskripsi orang2 yang pernah kesini yang dikatakan indah itu ternyata kumuh.Tapi itu ternyata cuman kesan pertama, dan kekumuhan tersebut ternyata tidak dapat menyembunyikan keindahan garis pantai yang melengkung beserta hamparan pasir putih yang menawan dibalik warung2 yang berdiri di depan jalan.

Perjalanan dari gunung Papandayan menuju Pameungpeuk melewati beberapa daerah yang benar2 indah. Pertama turun dari gunung Papandayan menuju Cikajang kami disuguhi pemandangan kebun teh, dan selepas Cikajang kami pun disuguhi pemandangan lembah gunung dan tumpukan batu2 raksasa di sepanjang jalan yang berkelak-kelok juga naik turun. Dan setelah melewati daerah yang ada batu gueeede banged dan menuju Cisompet suguhan bentangan alamnya semakin menjadi-jadi. Jalan lebih berkelok dan semakin naik turun, menyusuri punggung gunung/bukit diantara 2 lembah membuat takjub hati ini. Semakin mendekati Cisompet kondisi jalan mulai masuk kedaerah seperti hutan agak gelap walaupun kata orang2 tua dulu tidak segelap dahulu kala. Dan beberapa saat selepas Cisompet akhirnya sampai juga di Pameungpeuk. Dengan berbekal lagi2 GPS sebagai tour guide kami,  langsung kami menuju satu2 nya pom bensin yang kami dapatkan disepanjang perjalanan Papandayan Pameungpeuk tsb. Dengan asumsi tidak akan ada lagi pom bensin di perjalanan berikutnya akhirnya kami isi full di pom bensin tsb.

 

Selepas pom bensin Pameungpeuk tersebut jalan sudah mulai lebih beradab tidak naik turun dan tidak berkelok-kelok. Akhirnya saya gantikan driver pertama yang sudah mulai kelelahan. Dan ternyata tidak terlalu jauh dari kota Pameungpeuk sekitar kurang lebih jam 12 siang kami sudah sampai di kawasan wisata pantai Santolo. Sesampainya di kawasan tersebut kami mencari-cari penginapan dan ternyata hari itu kami kesulitan mendapatkan penginapan yang layak karena beberapa penginapan yang layak sudah di booking untuk esok hari buat rombongan Menpora yang akan mengadakan upcara 17 agustusan di Pantai Santolo. Setelah keliling2 akhirnya kami dapat penginapan yang lumayan OK ada 4 tempat tidur yang satu tempat tidurnya sebenarnya bisa untuk berdua. Akhirnya kami ambil penginapan tersebut dengan harga 250rb walaupun dengan syarat jam 9.00 pagi harus sudah keluar soalnya sudah di booking oleh rombongan Menpora.


Daripada tidak mendapatkan penginapan yang layak dan nantinya tidak bisa beristirahat setelah perjalanan panjang tersebut maka syarat tersebut kami setujui. Setelah menengok sebentar kondisi Pantai Santolo seperti apa, akhirnya kami putuskan untuk beristirahat tidur terlebih dahulu dan balik ke Pantai sekitar jam 4 sore. Ternyata kami benar2 kelelahan setelah berangkat jam 2.30 pagi lalu naik ke gunung Papandayan lalu di balaslah oleh tidur siang yang menurut saya bermanfaat banget buat mengembalikan kondisi badan yang kecapaian.


Sekitar jam 4.00 sore barulah kita siap2 untuk jalan2 di kawasan wisata Pantai Santolo. Tujuan pertama menyebrang ke pulau santolo dengan menggunakan perahu yang tersedia. Sebenarnya jarak menyebrangnya ngak terlalu jauh masih dalam belasan meter mungkin. Dan setelah menyebrang dan masuk pulau santolo kami disambut oleh bapak2 yang memegang karcis … aduh ampun deh .. masa dalam satu kawasan wisata kami dipungut 2 kali, benar2 mengganggu kenyamanan karena buat saya pribadi bukan jumlah uang yang saya sesalkan cuman kita jadi paranoid aja setiap kali melangkah disodori tiket walahhhh benar2 beda sama Kuta Bali.


Di pulau Santolo ini karakteristik pantainya sangat berbeda dengan pantai Santolo. Pantai di pulau Santolo perpaduan batu karang dan pasir putih dengan gulungan ombak yang super besar. Disini ada bekas dermaga tua peninggalan belanda dan jembatan tuanya masih berdiri dengan kokoh, dan di dekat jembatan tua tersebut terdapat pos pemantauan tsunami. Setelah narsis sana narsis sini kami balik lagi menyebrang ke pantai Santolo karena urusan perut yang sudah susah di ajak kompromi. Sambil mennunggu sunset yang ternyata ngak muncul karena tertutup awan lalu kami pesen makanan yang datangnya luaaaaamaaaaa banget sampai matahari menghilang barulah makanan itu datang. Dan ternyata merasakan  lobster di Santolo bener2  nikmat, walaupun tidak nikmat di kantong hahaha. Setelah cukup puas menghabiskan lobster seberat 1.25 kg akhirnya kami balik ke penginapan karena perjalanan masih panjang dan jadwal esok hari adalah mengunjungi Pantai Sayang Heulang sebelum melanjutkan perjalanan menuju Rancabuaya…
bersambung …

Link Lainnya :

Photo :

  1. @wira :
    wah kalo 2 hari kayaknya kurang tuh hehe … soalnya bukan hanya Santolo saja yang bagus .. sepanjang jalur selatan garut sampe rancabuaya pemandangannya bagus2 .. selama kurang lebih 2 jam perjalanan di kiri jalan pantai terus apalagi kalau di teruskan ke Cidaun cianjur 🙂

    Salam kenal juga 🙂

  2. Salam kenal Mas..,
    Dulu banget sekitar 4-5 tahun yang lalu saya pernah maen ke daerah pameungpuek tepatnya sekitar pangkalan Al disana,tapi terus terang wktu itu saya ga sempet jaln2 kemana2 kecuali k tmpat td,terus kalo mo ke santolo,sayangheulang,cilautereun (no telp sekalian kalo ada) ada hotel/motel yang bisa direfensiin ga buat saya n tarifnya sekitar berapaan ya..?
    Thanks ditunggu ya infonya..,ntar rencana saya mo maen kesana sekitar tgl 21~23 Jan 2012

  3. Salam kenal….makasih bisa dijadikan rekomendasi tuk liburan & petualangan nich. info2nya bsa di kirim ke e-mail nich. trim’s

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *