Eksotisme Garut II : Papandayan

Menunggu SunriseSebenarnya saya sudah beberapa kali ke gunung Papandayan dan yang akan terus diingat adalah yang kali pertama ketika camping di Papandayan dengan temen2 kuliah sekitar 1995 atau 1996. Kenapa karena ada beberapa kejadian lucu.

Pertama saya ngak tau apakah berjalan kaki dari lapangan/masjid cisurupan yang notabene nya jalan aspal sampai ke tempat parkir kawah Papandayan itu tindakan yang pintar atau sekedar ngirit kalau tidak mau dikatakan pelit hehe, walaupun dulu sebenarnya ongkosnya ngak terlalu mahal juga.
Tapi ada bagusnya juga dengan berjalan kaki di jalan aspal yang sudah bagus membuat lebih tahu bahwa kalau berjalan diatas permukaan aspal yang banyak di lalui mobil itu ternyata selain cape juga bukan tindakan yang meng-asikan hahaha. Anyway selanjutnya setiap kali saya pergi ke Papandayan apakah nginap atau tidak di Pondok Saladah saya tidak pernah melakukan tindakan berjalan kaki lagi dari masjid Cisurupan ke tempat parkir Kawah Papandayan, berjalan kaki hanya dilakukan ketika melewati kawah menuju pondok saladah.
Kedua jarak yang di perkirakan oleh orang2 sekitar yang sudah terbiasa jalan jauh naik turun suka berbeda persepsi sama orang2 kota yang ngak pernah jalan jauh. Itu yang terjadi ketika perjalanan pulang dari Papandayan dengan berjalan kaki ke daerah Perkebunan Teh Sedep Cibutaria dekat Pangalengan. Sepertinya kami berjalan kaki di dalam hutan yang tak berujung sampai ketemu hamparan kebun teh yang amat sangat memukau didepan mata, walaupun kata orang2 daerah situ katanya ‘DEKAT’.
Setelah itu kami menyerah, dan dari perkebunan teh Sedep tersebut akhirnya kami pake angkutan colt sampai ke terminal Pangalengan hehe.  Dan lagi2 semenjak itu kalau mau main ke daerah perkebunan teh Sedep lebih baik bawa mobil dan lewat Pangalengan.

BTW sebenarnya menikmati sunrise di ketinggian gunung Papandayan cuma bonus  jalan2 saja, karena tujuan utama kami adalah susur pantai selatan Garut dan sedikit Cianjur. Berawal dari tim jalan2 kantor yang gatal melihat ada tanggal merah berjejer selama 3 hari berturut2 maka tercetuslah ide jalan2 yang tadinya ada beberapa alternatif. Pertama keliling Sukabumi, kedua susur pantai selatan Ciamis dan opsi Garut selatan sebenarnya opsi terakhir. Berhubung kami belum pernah ada yg ke Garut selatan akhirnya putuskanlah selama libur 3 hari tersebut menyusur Garut selatan. Dan lagi2 berhubung jalur ke Garut selatan melewati Cisurupan maka ngak ada salahnya kami menikmati dulu sunrise di ketinggian Papandayan.

Dari jadwal jam 2 pagi harusnya berangkat agak meleset karena jam 2 pagi baru bangun :), akhirnya start dari rumah saya sekitar jam 2.30-an.  Suasana pagi di jalan bener2 sepi tidak kepanasan dan terlepas dari  jebakan macet di daerah cicalengka yang lagi di perbaiki jalannya. Selepas kota Garut menuju Cisurupan suasana jalan semakin sepi, dan sekitar kurang lebih jam 4.00 atau 4.30-an posisi GPS yang kami andalkan sebagai tour guide tepat berada di pertigaan Cisurupan, lurus ke Papandayan dan kiri ke Cikajang. Jalan kecil khas desa sudah mulai terasa setelah beberapa menit kami masuki jalan Cisurupan. Semakin keatas rumah2 semakin jarang sampai akhirnya kami memasuki daerah ladang atau hutan yang tidak ada rumah dikiri kananya, yang ada hanyalah bau khas belerang yang tercium lumayan menyengat padahal jarak ke tempat parkir Papandayan masih jauh. Semakin keatas lagi mulailah muncul vegetasi khas pegunungunan yang selalu mengingatkan saya akan keindahan alam pegunungan ini.

Beberapa saat sebelum  sampai di tempat parkir, di kejauhan di depan mobil yang kami kendarai terlihat ada 2 motor yang lagi naik keatas. Semakin dekat semakin jelas bahwa 2 motor tersebut membawa penumpang masing2 1 orang dan setelah makin dekat kami agak bertanya2 soalnya yang di bonceng pakai sarung dan rambutnya pirang. Kami pikir ini orang ini artis dangdut lokal yang baru pulang pentas nge-dangdut nih, tapi kalo lagi pulang emang mo pulang kemana ke kawah hehe. Sesampainya di areal parkir barulah jelas kalo 2 orang berambut pirang tersebut sepasang cewe penumpang ojek berkewarganegaraan Jerman.


Sesampainya di areal parkir, angin dingin mulai menusuk kulit kami, dan tanpa ba..bi..bu langsung siap2 naik keatas. Dan kebetulan 2 tukang ojek yang membawa 2 orang jerman tersebut mengajak kami berlima supaya naiknya berbarengan rame2 supaya ngak salah jalan karena pagi masih gelap. Dan untung saja saya mengiyakan .. karena terakhir kali saya ke Papandayan ketika gunung tersebut belum meletus sehingga jalur yang ada di memory saya sudah out-of-date. Semua memori saya terakhir kali melintas di kawah Papandayan benar2 berubah total, saya serasa berada di tempat yang belum pernah saya kunjungi. Cuman dibutuhkan waktu beberapa menit untuk sampai di ketinggian tempat menikmati suasana sunrise, tetapi 1 temen saya fisiknya lagi lemah atau masih ngantuk karena dibangunkan dari tidur nyenyaknya tidak sampai ketempat menikmati sunrise. Dia malah tidur sendirian diatas batu yang di kelilingi kepulan asap kawah. Sesampainya di atas ternyata sudah banyak bule yang berkumpul untuk menikmati sunrise tersebut. Ketika secercah cahaya mulai muncul di kejauhan mulailah terlihat keindahan alam Papandayan yang sulit untuk saya deskripsikan. Perpaduan awan atau kabut yang menutupi gunung Cikurai dan secercah cahaya merah yang masih sedikit semakin membuat lukisan alam ini tak ternilai. Suasana inilah yang membuat saya selalu ketagihan untuk jalan2 ke daerah pegunungan.

Jalan Cisarua menuju Papandayan

Setelah beberapa saat menikmati sunrise dan cahaya matahari mulai terang barulah temen2 saya ngeh kalo dia itu sudah berjalan di areal kawah berbatu yang sangat indah. Dan ketika sinar matahari semakin terang saatnyalah kami turun untuk melanjutkan perjalanan ke daerah Garut selatan … dan akan lebih indah kalau nanti bisa menikmati suasana sunset di pantai santolo .. hmmm indahnya setelah menikmati sunrise di ketinggian gunung mudah2an bisa menikmati sunset di ketinggian 0 mdpl di pantai Santolo …

bersambung …

Link Lainnya :

Photo :

  1. mas tanya dong, kalau menuju papandayan itu dari kota garutnya berapa jauh? dan untuk jalan kaki dari parkiran sampai spot sunrise berapa lama?

    Kalau saya berangkat di awal february kira kira dapat atau ada tidak ya sunrisenya?

    thanks,

    • @Yufi : kalo dari garut sih deket kurang lebih 1 jam an sampe ke tempat parkir di atas, trus jalan kaki dari tpt parkir ke tempat sunrise juga deket ngak kan lebih dari 30menit ..
      wah kalo dapet tidaknya sunrise tergantung cuaca sih yg di takutkan pas kesana pas hujan dan itu dijamin ngak asik 😉 soalnya pernah ngalami kemping di pondok saladah, papandayan pas kena hujan deras hehe. Mudah2an pas kesana pagi2 ada rombongan lain yg tau jalur ke tempat sunrise, soalnya pas kesana kebetulan sy bareng bule yg ada guidenya, jujur kalo sendiri sy juga ngak tau spot buat liat sunrise sebelah mana hehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *