Dataran tinggi Dieng

Setiap kali ada tugas menggambar pemandangan dipelajaran menggambar ketika SD, saya dan juga kebanyakan temen2 saya hehe, selalu mengeluarkan satu jurus andalan yang tak lain dan tak bukan adalah menggambar dua gunung yang berderet dan ditengah-tengahnya ada jalan melintas diantara dua gunung tersebut. Berpuluh-puluh kali ditugaskan menggambar pemandangan seakan-akan template dua gunung tersebut sudah terukir sangat dalam di otak. Kali ini dua gunung indah yang berjejer tersebut benar-benar nyata ada dan selalu menemani mobil ini ketika mengendarai merayap menaiki tanjakan demi tanjakan menuju dataran tinggi Dieng dari arah Wonosobo. Dan dua gunung yang terus mengawasi perjalanan ke Dieng itu adalah gunung Sindoro dan Sumbing, sedangkan jalan yang membelah dua gunung tersebut adalah jalan raya Wonosobo-Temanggung. Tetapi karena tujuan kali ini ke dataran tinggi Dieng, kami tidak melewati jalan yang membelah dua gunung tersebut, karena dari Wonosobo lanjut ke arah utara menuju Dieng dan akhirnya pemandangan dua gunung tersebut selalu mengawasi kami di sisi kanan jalan.

Dieng adalah kawasan dataran tinggi di Jawa Tengah, yang masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Letaknya berada di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.
Dieng adalah kawasan vulkanik aktif dan dapat dikatakan merupakan gunung api raksasa dengan beberapa kepundan kawah. Ketinggian rata-rata adalah sekitar 2.000m di atas permukaan laut. Suhu berkisar 15—20 °C di siang hari dan 10 °C di malam hari. Pada musim kemarau (Juli dan Agustus), suhu udara dapat mencapai 0 °C di pagi hari dan memunculkan embun beku yang oleh penduduk setempat disebut bun upas (“embun racun”) karena menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian.
Secara administrasi, Dieng merupakan wilayah Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara dan Dieng (“Dieng Wetan”), Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Wilayah ini merupakan salah satu wilayah paling terpencil di Jawa Tengah.
Sumber : id.wikipedia.org (24-June-2012)

Komplek Candi Arjuna, Dataran tinggi Dieng Komplek Candi Arjuna, Dataran tinggi Dieng
Komplek Candi Arjuna, Dataran tinggi Dieng Pemandangan Dataran tinggi Dieng
Komplek Candi Arjuna

Trip kali ini benar-benar trip dengan waktu yang singkat yang hanya mengandalkan libur weekend sabtu-minggu tetapi dengan daya jelajah yangg jauh karena menggunakan jalan darat. Lebih dari 500KM jarak antara Jakarta-Dieng, berarti kalau PP menjelajahi lebih dari 1000km dalam waktu yang kurang memadai. Karena selain jadi penikmat alam, sekarang saya juga merangkap tukang photo dan supir tanpa diselingi supir cadangan, dan akan berbeda kalau 100% sebagai penikmat alam tanpa menjadi supir hehe. Start dari CitiWalk sudirman kurang lebih jam 20.00, dan Citiwalk tersebut menjadi titik 0 km dari perhitungan jarak yang digunakan. Bertiga kami mengisi ruang kosong di mobil yaris yg cukup mungil, beruntung mobil hanya diisi oleh tiga orang karena ternyata barang-barang bawaannya lumayan banyak haha.
Kurang lebih di kilometer 31.9 atau tepatnya di rest area jaln tol Cikampek KM19 harus minum doping dikarenakan perjalanan yg akan sangat jauh dan lama. Dan obat doping yang dibutuhkan tersebut hanya ada di Starbuck Coffee, yaitu Double Shot Expresso tanpa gula diminum ditempat dengan sangat singkat, di tambah Americano Coffee berbahan dasar Double Excpresso yang diisi air mendidih 3/4 cup saja untuk di perjalanan. Dan nantinya obat doping tersebut terbukti manjur, karena tanpa diselingi oleh tidur sekejap-pun selama semalaman suntuk, ditambah nyetir siang keliling Dieng tanpa di hinggapi oleh rasa lelah dan ngantuk.

Dieng Theater, Dataran tinggi Dieng Sumur Jalatunda, Dataran Tinggi Dieng
Kawah Sileri, Dataran tinggi Dieng Telaga Menjer, Dataran tinggi Dieng
–Mulai dari kiri atas, searah jarum jam–
Dieng Theater – Sumur Jalatunda – Kawah Sileri – Telaga Menjer

Selepas rest area KM19, menyetir dengan sedikit santai dan santun dan setelah berjarak 81.6km terlalui, sampai juga di pintu tol cikampek (KM68). Selepas pintu tol cikampek sampai Indramayu atau jalur pantura Indramayu kondisi jalan mulai tersendat-sendat, kadang ada buka tutup jalan karena lagi dalam perbaikan. Dari sini mulai mengendarai agak zig-zag yang penting cepet sampai, selama ada space kosong diantara truk-truk raksaksa, harus dimanfaatin buat menyalip ngak peduli nyalip dari kiri atau kanan, karena semua kendaraan yang ada dipantura benar-benar tanpa aturan. Lumayan lama tertahan macet di antara Cikampek-Indramayu, tetapi akhirnya sampai juga di Indramayu kurang lebih berjarak 188km dari posisi awal start. Selepas Indramayu jalan agak sedikit lancar dan langsung tancap gas, tidak terasa 228km sudah terlalui dan sampai di pintu tol Palimanan-Cirebon, setelah membayar Rp4.500,- perjalanan terus belanjut, dan sekali lagi bayar Rp.4.500,- tanpa menyia-nyiakan waktu, tancap gas lagi. Di gerbang ketiga ketika harus bayar lagi saya sodorin Rp.4.500,- dan si penjaga tiket tol hanya tersenyum, sambil bilang “kurang 16 ribu pak” wkwkwkwk, karena tol pejagan tarifnya Rp21.500,- . Di tol pejagan tersebut jalan serasa milik sendiri karena saking sepinya. Pedal gas lumayan terinjak dalam dengan stabilnya sampai akhirnya perjalanan sejauh 288KM terlalui juga, tepatnya di pintu keluar tol Pejagan.
Dari pintu tol Pejagan tidak ambil jalur pantura yang lewat Brebes tetapi ambil kanan ke arah Ketanguhan-Margasari karena berdasarkan perhitunganpeta di GPS kembali ke jalur pantura dan lewat Brebes lalu Tegal akan banyak memakan waktu karena berputar dan lebih jauh. Menyusuri jalanan yang sangat sepi dan lumayan jelek serta ancur, tetapi tetap memacu kendaraan dengan lumayan kencang ketika nemu jalan yang lumayan bagus karena jalanan yang sepi. Beberapa kilometer dari pintu tol pejagan tersebut, saluran irigasi menyambut dan lumayan panjang saluran irigasi tersebut menemani ditengah gelapnya malam. Hari sudah semakin malam mobil terus di pacu ditengah jalan yang super keriting dan sangat jelek dengan banyaknya jebakan betmen dimana-mana. Tak terasa sudah 322km terlalui, sekarang tepat di pertigaan jalan raya Margasari-Slawi yang kalau ambil kiri ke arah Tegal (yg ada rel kereta) sedangkan kami ambil kanan ke arah Bumiayu dan Ajibarang.
Beberapa km dari pertigaan tersebut kemacetanpun parah menyambut perjalanan ini, tapi untungnya ini hanya kemacetan karena buka tutup jalan dimana jalan rusak amat-sangat-super-parah ciri khas jalan-jalan jawa tengah. Kondisi jalan sudah tidak berbentuk jalan tetapi sudah seperti medan offroad dengan kemiringan jalan yang lumayan curam. Selepas keluar dari kemacetan karena buka tutup jalan tersebut kendaraan dipacu lebih kencang karena kondisi jalan sudah berangsur-angsur membaik, tapi tetap beberapa jebakan betmen ada dimana-mana. Dengan ditemani satu travel mate yang tidur sangat pulas dan navigator yang setengah tidur setengah bangun wakkkkk, kendaraan terus dipacu karena waktu sudah mendekati adzan shubuh. Di kilometer 367 sampai di pertigaan jalan raya Pancatan yang menuju Wangon dan Purwokerto ambil jalan yang menuju Purwokerto.

Komplek Candi Arjuna, Dataran Tinggi Dieng Komplek Candi Arjuna, Dataran Tinggi Dieng
Komplek Candi Arjuna, Dataran Tinggi Dieng Komplek Candi Arjuna, Dataran tinggi Dieng
Komplek Candi Arjuna

Walaupun suasana masih gelap tetapi kilauan sinar matahari sudah mulai menampakann bayangannya, motor-motor sudah mulai keluar seiring dengan keluarnya sebersit sinar matahari tersebut. Tetapi kondisi fisik masih tetap fit karena doping expresso sebelumnya, dijalan yang sudah lumayan ramai dan sudah mulai memasuki area perkotaan Purwokerto, saya tetap memacu kendaraan dengan kecepatan 90-100km/jam karena mengejar waktu. Di kilometer 391 bunderan deket rumah sakit Margono Purwokerto sudah terlewati, terus memacu kendaraan karena semakin terang akan semakin banyak motor, dan tak terasa 453km sudah terlewati dan tepat masuk ke kota Banjarnegara. Terus mengikuti jalan menuju arah Wonosobo dan beberapa saat sebelum memasuki area kota Wonosobo, sosok lukisan yang melegenda di Indonesia yaitu dua gunung yang berdampingan mulai menampakan dirinya. Tetapi ketika tepat sudah 482km terlalui, sosok lukisan tersebut tertutup oleh bangunan-bangunan karena kita sudah mulai memasuki kota Wonosobo tepatnya di perempatan jalan Ahmad Yani-Wonosobo,lurus ke alun2 Wonosobo dan kanan menuju Temanggung. Pagi hari sudah mulai mau terlewati dan aktifitas orang-orang di Wonosobo mulai menggeliat. Terus menuju arah Dieng dan selepas kolam renang Kali Anget atau sekitar 486km terlalui, sosok lukisan dua gunung tersebut menampakan diri lagi. Jalanan mulai nanjak dan nanjak terus, bahkan terlihat dikejauhan dan lumayan tinggi ada seperti jembatan yang banyak di lalui mobil. Asik ketika melihat posisi jalan yang amat tinggi tersebut yang nantinya akan dilewati sudah terlihat jelas dari bawah. Cuma banyak juga tulisan-tulisan yang bernada berlebihan mengenai tanjakan di Dieng ini, betul kalau tanjakannya curam tapi masih dalam batas yang bisa dilalui oleh mobil dengan enteng, kalau sampai bilang kemiringan diatas 45 derajat sih ragu. Karena mobil yaris yang cuma ber-cc 1500 dengan penumpang dan gembolan yang full tidak menemui kendala berarti ketika melewati tanjakan tersebut. Cuma yang harus diperhatikan jaga kondisi kendaraan tetap fit dan kita harus tetap berhati-hati dalam mengendarai mobil apalagi kalau kita belum mengenal medan, tetapi toh saran itu kan saran yang mendasar ketika kita akan melakukan perjalanan jauh keluar kota. Kembali ke sosok lukisan dua gunung tersebut yang terus-menerus mengawasi perjalanan disisi kanan jalan menghilang tertutup pegunungan di Dieng yg lebih dekat beberapa saat sebelum sampai di Dieng.
507 Km sudah terlalui, sekarang sudah sampai di pertigaan kawasan wisata Dieng. Kanan menuju komplek Candi Arjuna dan kiri menuju Dieng Theater dan Telaga Warna. Di pertigaan ini terdapat penginapan yang melegenda di Dieng yaitu penginapan bu Jono. Akhirnya diputuskan untuk beristirahat sejenak di kawasan wisata komplek Candi Arjuna sekitar 500m dari penginapan bu Jono. Tepat jam 9.50WIB sudah sampai di komplek Candi Arjuna. Kurang lebih 14 jam menyetir tanpa diselingi supir cadangan tapi itu tidak membuat ngantuk sama sekali. Setelah ganti baju dan cuci muka sebentar langsung mengisi perut terlebih dahulu entah ini sarapan yang telat atau makan siang yang kecepetan hehe. Dari komplek candi Arjuna titik dimulainya mengexplorasi kawasan wisata Dieng ini.

Telaga Warna,  Dataran tinggi Dieng Telaga Warna,  Dataran tinggi Dieng
Telaga Warna,  Dataran tinggi DiengCandi Bima, Dataran Tinggi Dieng
–Mulai dari kiri atas, searah jarum jam–
Telaga Warna – Telaga Warna – Telaga Warna – Candi Bima

Komplek Candi Arjuna
‘Mungkin’ bagi sebagian besar atau setidaknya saya, komplek Candi Arjuna ini merupakan primadona kawasan wisata di Dieng. Secara ukuran candi ini tidak terlalu istimewa di banding Candi Borobudur atau Prambanan, tetapi secara lokasi, komplek candi ini benar-benar mengagumkan. Karena berada di daerah pegunungan walaupun daerah sekitar komplek candi sudah agak kumuh.

Candi Arjuna adalah sebuah kompleks candi Hindu peninggalan dari abad ke-7-8 yang terletak di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia.
Dibangun pada tahun 809, Candi Arjuna merupakan salah satu dari delapan kompleks candi yang ada di Dieng. Ketujuh candi lainnya adalah Semar, Gatotkaca, Puntadewa, Srikandi, Sembadra, Bima dan Dwarawati. Lokasi di Wikimapia [1].
Di kompleks candi ini terdapat 19 candi namun hanya 8 yang masih berdiri. Bangunan-bangunan candi ini saat ini dalam kondisi yang memprihatinkan. Bebatuan Andesit tua yang membentuk Candi ada yang telah rontok, sementara di beberapa bagian bangunan ini terlihat retakan yang memanjang selebar 5 cm. Selain itu, bangunan ini sudah mulai miring ke arah barat. Fondasi timurnya telah ambles sekitar 15 hingga 20 cm.
Sumber : Wikipedia (24-June-2012)

Telaga Warna
Dari Candi Arjuna kembali menuju pertigaan di penginapan Bu Jono kali ini tidak belok kiri ke arah Wonosono tapi lurus terus dan tidak jauh dari situ ada Telaga Warna, dan warna telaga yang hijau ini mengingatkan saya dengan kawah putih Ciwidey. Ada banyak titik gelembung-gelembung entah itu gas atau apa di beberapa tempat, seandainya bisa berenang disini kayaknya asik hehe.

Dieng Theater
Habis dari telaga warna lanjut naik terus terus ke Dieng Theater, disini menonton film dokumentasi tentang sejarah dan kejadian-kejadian penting serta tempat-tempat wisata di sekitar Dieng. Dalam ruangan yang luas tersebut hanya berisi 5 orang saja, 2 orang sepasang bule satu dari dari inggris dan satunya dari mesir dan 2 orang temen saya ditambah saya sendiri.

Candi Bima
Dari Dieng Theater turun kembali menuju Candi Bima, letaknya tepat sebelum pintu gerbang kawah Sikidang. Candi Bima lokasinya agak jauh dari komplek Candi Arjuna dan hanya ada satu candi yang berdiri. Secara luas jauh lebih kecil di banding Candi Arjuna.

Kawah Sikidang
Tidak jauh dari candi Bima ada pintu gerbang kawah Sikidang, mengingatkan akan kawah gunung Papandayan. Ada kawah seperti sumur besar yang airnya terus bergejolak seperti air mendidih atau ada gelembung-gelembung gas yang berwarna putih. Disini saya rekomendasikan memakai penutup hidung karena bau belerang yang lumayan menyengat.

Candi Gatotkaca
Secara bentuk dan ukuran mirip salah satu candi yang ada di komplek Candi Arjuna, tetapi karena letaknya ada di pinggir jalan sekilas candi ini seperti tugu pembatas jalan atau desa. Seperti halnya candi Bima, candi ini letaknya tersendiri dan jauh dari candi2.

Sumur Jalatunda
Dari Candi Gatot Kaca, terus menyusuri jalan dan agak jauh, terlebih jalanan yang kecil serta turunan dan tanjakan yang lumayan curam, serta kondisi jalan dibeberapa tempat agak hancur. Melewati beberapa plang nama tempat wisata seperti kawah Sileri dan kawah Candradimuka. Setelah lumayan jauh naik turun gunung yang berkelak-kelok akhirnya sampai juga di Sumur Jalatunda, sumur dengan kesan terangker yang pernah saya lihat. Kesan angker tersebut karena suasana sekitar yang masih asri dan warna sumur yang hitam pekat terlebih pengunjung yang melihat sumur saat itu hanya kami bertiga. Ada suatu cerita dimana kalau pengunjung bisa melempar batu melewati sumur tersebut maka keinginannya akan terkabul.

Kawah Sileri
Dalam perjalan balik pulang kearah candi Arjuna kembali melewati gerbang kawah Candradimuka tetapi berhubung kondisi jalan yang hancur akhirnya kita skip kawah Candradimuka dan lanjut terus kembali ke Kawah Sileri. Agak unik melihat suasana sekitar kawah ini, karena dari kejauhan ada genangan air yang mengepulkan asap putih di tengah-tengah kebun.

Bima Lukar
Bima lukar konon merupakan mata air yang menjadikan hulu atau cikal bakal dari sungai Serayu. Lokasinya yang ada di pinggir jalan tetapi tidak ada tempat untuk parkir menjadikan tempat ini sangat sepi pengunjung. Kami parkir sebentar di pinggir jalan karena kalau terlalu lama akan menggangu lalu lintas jalan raya Wonosobo-Dieng. Mata air ini benar-benar di keramatkan oleh warga sekitar. Katanya siapapun yang mencuci muka disini maka wajahnya akan lebih cantik atau tampan hehe.

Telaga Menjer
Beberapa saat sebelum adzan maghrib berkumandang tiba di Telaga Menjer, sebenarnya telaga ini sudah lebih dekat ke Wonosobo di banding ke Dieng. Telaga ini lumayan besar dan ada pipa pesat seperti di PLTA Lamajan Pangalengan, yang mengalirkan air buat PLTA di Wonosobo.

Kawah Sikidang, Dataran tingi Dieng ,Kawah Sikidang Dataran tingi Dieng
Candi Bima, Dataran tingi Dieng Telaga Menjer, Dataran tingi Dieng
–Mulai dari kiri atas, searah jarum jam–
Kawah Sikidang – Kawah Sikidang – Candi Bima – Telaga Menjer

Dan dari Telaga Menjer inilah kondisi fisik saya sudah mulai merasakan kelelahan karena selama 36 jam lebih belum tidur sama sekali. Akhirnya diputuskan untuk menginap di Wonosobo tepatnya di Hotel Kresna, setelah sebelumnya menyantap mie Ongkok di Wonosobo yang sangat terkenal. Walaupun amat sangat lelah dan ngantuk tapi saya paksaan sebentar untuk berendam di kolam renang dan berenang sebentar di kolam renang hotel. Setelah itu barulah tidur pulas untuk balas dendam setelah malam sebelumnya sama sekali tidak tidur. Pagi harinya langsung packing dan beres-beres setelah itu check out karena tahu bahwa perjalanan akan memakan waktu 12 jam lebih . Jalur pulang kembali melewati jalur ketika berangkat tetapi kali ini berada di tengah teriknya matahari. Setelah mampir sana sini untuk beli oleh-oleh dan makan siang akhirnya sampai di Jakarta sekitar jam 21.00. Benar-benar trip yang amat sangat banyak menghabiskan waktu di dalam kendaraan hehe.

  1. waaaaa… indah sekaliiiii. saya baru mau mencoba jalan darat. semoga sempat mampir menyaksikan keindahan yg ditulis di blognya. info yang sangat berguna! trims!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *