Dari Tana Towa Kajang ke Pulau Samalona Makassar

Pulau Lae-Lae & Samalona, MakassarPagi hari ini jauh lebih cerah dari hari sebelumnya dan di pagi hari yg terang ini sy harus mempersiapkan perjalanan kembali ke Makassar. Masker, fin, snorkel, sarung tangan dan rush guard yg sehari sebelumnya masih basah karena di pake snorkeling di pulau Kambing dan pulau Liukang sudah kering dan tertata rapih di tas. Karena sebelum balik ke Makassar mau mampir terlebih dahulu ke desa adat Ammatoa di desa Tana Towa-Kajang maka harus lebih siap karena perjalanan darat yang akan lebih lama di banding Makassar ke Tanjung Bira. Dengan berbekal informasi yang seadanya kami tetep pergi kedaerah Tana Towa, sang supir yang asli Makassar dan isrinya dari Kajang pun belum pernah pergi ke daerah sini hehe. Sepanjang jalan ketika di daerah Kajang, kami tanya sana sini, yang jawabanya ngawur sana sini yang akhirnya nyasar sana sini juga wkkk. Perjalanan ke desa adat Ammatoa ini merupakan lanjutan dari perjalanan ketika ke Tanjung Bira. Perjalanan yang lumayan lama karena ada acara nyasar sana sini berakhir di depan kepala desa Tana Towa, itupun dengan meraba-raba peta gps yang ada di hp. Kami semua minta izin dan mengisi daftar tamu di rumah kepala desa Tana Towa. Semuanya diharuskan memakai pakaian hitam2 dan penutup kepala yg berwarna hitam khas desa adat Ammatoa. Karena cuaca yg lumayan panas, kombinasi berjalan kaki (yang cukup deket) dengan memakai pakaian serba hitam menambah gerah badan juga.

Sekilas melihat suasana sekitar bener-bener masih asri.. tetapi ada yg kurang elok karena walau kebersihan dibeberapa pekarangan rumah memang bersih tetapi masalah sampah plastik bekas snack makanan anak2 bertebaran di sepanjang jalan. Berbeda dengan kebersihan di desa Adat Kampung Naga Tasikmalaya yang kebersihannya benar2 terjaga, entah itu di pekarangan rumah , di jalan atau di lapangan yang ada di desa. Suasana senyap sepi yang ada hanya suara angin dan pohon-pohon yang bergerak tertiup angin. Setelah keliling-keliling sekitar, temen saya penasaran ingin berkunjung ke rumah Ammatoa (ketua adat di kampung adat Ammatoa). Walau bagi saya setelah melihat keindahan alam sekitar sudah lebih dari cukup untuk menikmati desa adat Ammatoa tanpa harus berkunjung ke rumah Ammatoa, terlebih setelah mengetahui dirumah Ammatoa tersebut sedang ada pertemuan. Tapi temen saya keukeuh pengen ngobrol dan ketemu, ketika kita masuk ditengah-tengah pertemuan tersebut, sepertinya nyalinya tertinggal diluar.. yg ada cuma seonggok tulang yang dibungkus daging tanpa bisa berkutik apa-apa karena dikelilingi oleh tetua di desa adat tersebut yang lagi mengadakan pertemuan wkkkkk.. mungkin yg di benak para tetua ini begini : “Siapakah gerangan org2 kota iseng yang mengganggu acara pertemuan ini wkwkwk … berani bener mengganggu acara kami” hahahaha.

Ammatoa -Tanah Towa-KajangAmmatoa -Tanah Towa-Kajang
Ammatoa -Tanah Towa-KajangAmmatoa -Tanah Towa-Kajang

3 org nekat menumpuh perjalanan lebih dari ribuan kilometer pergi ke hutan entah berantah di daerah Kajang Sulawesi selatan, untuk berkunjung ke rumah Ammatoa sebagai pemimpin adat kawasan adat Ammatoa di Tanatoa (Tana Towa). Ketika itu di rumah Ammatoa sedang mengadakan pertemuan dengan para tetua adat lainnya. Tiga orang itu pun serasa di sidang ditengah rumah Ammatoa karena ditempatkan tepat di tengah dan dikelilingi sorotan mata tajam tetua adat lainnya .. Ketika ditanya oleh para tetua adat dengan bahasa yg tidak dimengerti, tiga org itu hanya bisa cengar cengir dengan keringat dingin yang mengucur deras keluar dari muka mereka bertiga. Beruntungnya saya salah satu diantara tiga orang tersebut wkkkkkkk ….. Pengalaman yg tidak akan pernah terlupakan …walau sebenarnya mereka ramah dan menerima kami, tetapi tidak dipungkiri ketika berada ditengah sorotan mata dengan suasana magis yg sulit dideskripsikan membuat tubuh serasa lunglai .. Wkwkwk

Cuaca yang panas, memakai baju serba hitam , didalam rumah yang penuh dengan orang yg seperti sedang men-sidang kami ..lengkap sudah suasana panasnya … keringat seolah2 tidak pernah berhenti mengalir dari muka, terlebih setelah seorang teman diperingatkan ketika bersalaman dengan ketua adat yang kurang sopan hahaha. Kejadian yang hanya beberapa menit tersebut seolah-olah berlangsung beberapa abad hahaha. Setelah saya terangkan dengan sisa-sisa nyali yang ada maksud kedatangan kami cuma untuk melihat-lihat suasana desa ini, akhirnya saya akhiri juga pertemuan yang benar-benar canggung karena timing yang kurang tepat ini. Dan tetap dua temen yang nyalinya tertinggal diluar tidak bisa berucap apa-apa wkkkkk.

Ammatoa -Tanah Towa-KajangAmmatoa -Tanah Towa-Kajang
Ammatoa -Tanah Towa-KajangAmmatoa -Tanah Towa-Kajang

Setelah itu perjalanan dilanjutkan melalui Tanete menuju arah Bulukumba, ternyata kota Bulukumba kalau di lalui dari arah Tanete terlihat ramai seperti kota2 besar lainnya mungkin kota terbesar yang saya lihat ketika di Sulsel setelah Makassar. Soalnya ketika melintas Bulukumba ke arah Tanjungbira dari arah Bantaeng tidak melewati pusat kotanya. Perjalanan terus lanjut dan istirahat sebentar di pantai wisata daerah Bantaeng. Setelah menikmati pisang ijo di Bantaeng yang tidak lebih enak dibanding pisang ijo yang ada di Bandung wkkk. Kami melanjutkan relinya hehe. Jeneponto,Takalar dan Bontonompo sudah terlewati, mobil mendekati kota Makassar … setelah sore hari sampe Makassar kami mencoba Coto Makassar dan kali ini tempat yang di rekomendasikan pak supir cukup enak.

Setelah itu karena punya jadwal buat mengunjungi pulau Samalona, akhirnya kami mencari penginapan sekitar pantai Losari. Disekitar Losari lah baru merasakan kuliner khas Makassar yang benar2 enak ..setelah beberapa hari belakangan kulinernya kurang memuaskan. Walau sebenarnya kurang menyukai suasana crowded sekitar pantai Losari tapi lokasi inilah yang paling dekat dengan pelabuhan penyebrangan untuk ke pulau Samalona. Saya tidak akan datang ke Makassar lagi hanya untuk mengunjungi Pantai Losari, pantai Losari sudah terlalu crowded dengan segala aspeknya.

Pulau Lae-Lae & Samalona, Makassar Pulau Lae-Lae & Samalona, Makassar
Pulau Lae-Lae & Samalona, Makassar Pulau Lae-Lae & Samalona, Makassar

Setelah malam harinya berkuliner ria, pagi harinya langsung bersiap hunting perahu buat ke pulau Samalona, ketika menginjakan beberapa langkah dari pintu hotel sudah ada yang menawarkan perahu, saat itu tidak dihiraukan cuma tanya harganya saja karena tujuan utama kami ke arah demaga Kayu Bankoang. Tetapi berhubung harga yang dia tawarkan cukup murah malah lebih murah di banding yang di dermaga maka kami deal sama tukang perahu yang ada di depan hotel, terlebih setelah melihat-lihat di dermaga Bangkoang yang lebih banyak premanya di banding penumpangnya. Jadi perahu yang disewa tidak melalui dermaga resmi Bangkoang tetapi berangkat dari Pantai Losari. Si Bapak yang punya perahu cukup ramah dan malah mengantarkan ke tiga pulau berbeda, yaitu Pulau Lae-Lae, Pulau Samalona dan Kahyangan, tetapi lebih lama bermain di pulau Samalona dan sekitarnya karena ketika melihat di pulau Lae-Lae yang sedikit kotor … terlebih di pulau Kahyangan yang airnya terlihat gelap berminyak.

Pulau Lae-Lae & Samalona, Makassar
Pulau Lae-Lae & Samalona, Makassar Pulau Lae-Lae & Samalona, Makassar

Ketika turun kami diwanti-wanti sama bapak perahu kalo mau beli sesuatu di pulau harus tanya harga dulu karena ini ada di pulau…dan akhirnya kami tidak membeli apa2 takut kejadian getok harga di situ Cileunca terulang. Pulau Samalona pulau kecil yang indah yang hanya ada beberapa rumah saja.. bahkan di dermaga masuk pulau di tulis pemilik pulaunya siapa saja. Cukup singkat berkeliling pulau.. mungkin hanya di butuhkan beberapa menit saja untuk mengelilingi pulau ini hehe. Setelah itu diajak ke tempat terumbu karang yg keren oleh bapak perahu. Disekitar tower lampu beberapa puluh meter sebelah utara pulau terdapat terumbu karang yang masih bagus, poto-poto ikan nemo juga diambil disekitar sini dan kalau suka berenang di pantai putih bersih tanpa ada karang pilih sekitar dermaganya.. airnya sejernih air kolam tetapi beralaskan pasir putih.

Pulau Lae-Lae & Samalona, Makassar Pulau Lae-Lae & Samalona, Makassar
Pulau Lae-Lae & Samalona, Makassar Pulau Lae-Lae & Samalona, Makassar

Setelah hampir seharian main di pulau, karena dini hari harus sudah balik ke Jakarta maka dengan berat hati harus mengakhiri main di pulau yang indah ini. Kalo lagi berada di sekitar pantai Losari Makassar, sempatkan lah main ke pulau Samalona karena akan memberikan suasana yang berbeda di banding pantai Losari, tetapi dengan jarak yang sangat dekat bahkan dari jendela kamar hotel lantai atas yang ada di sekitar Losari, bisa terlihat pulau samalona yang cukup jelas.

Lihat juga :
Perjalanan Makassar ke Tanjung Bira, Bulukumba

  1. Mau nanya dong..
    nginep dimana + berapa/malemnya + harga sewa perahu berapa..
    (*banyak nanya)
    hehehehee..
    makasih sebelumnya 🙂

  2. gan,, mau tanya nih.. kalau untuk rental mobil di makassar pny cp ny gak?? soalny w ad rencana ksna.. tapi masih bingung am rent car ny… x_x

  3. gan, kalau mau snorkling di sana, harus bw alat sendiri apa bisa sewa? trus, kl bisa sewa, harganya brp ya?

    • @Balqis : Ada penyewaan disana cuma ngak tau harganya berapa, soalnya kemana2 sy slalu bawa mask,snorkel dan fin sendiri 😉 … tips snorkeling di samalona kalo pengen liat terumbu karang lokasinya deket tower yg ada di laut … kalo ingin berenang2 dgn pasir putihnya depan dermaga

    • @nikki : pas kesana sayang sy ngak nginep cuma pulang hari saja jadi ngak tau harga penginapannya berapa.. tapi kalo beli makanan kalo kata abang perahunya harus tanya harga dulu sebelum dimakan .. , pas saya kesana ada yang nge-camp juga sih cuma apakah bayar ato tidak saya kurang tau

  4. Mau tanya dong.
    Ada yg sewa alat diving gak di situ? Kalo Ada bisa share info cp Dan harganya?
    Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *