Braga Huis, Secangkir kopi di Hindia Belanda

Braga Huis Jalan ini memang terkenal semenjak tahun 1920 sebagai jalan yang sangat elit sampai jaman pendudukan Jepang. Dahulu jalan ini dijadikan sebagai sentra dagang buat orang-orang Belanda, sehingga para Nyonya dan Tuan Belanda suka menjadikan jalan ini sebagai tempat berkumpul untuk bersosialisasi. Di Jalan Braga Bandung, terlihat salah satu bangunan dengan tumpukan bata merah yang dicat putih terekspos dari luar ini berada disekitar bangunan-bangunan peninggalan masa kolonial. Kanopi hijau terbuat dari kain menaungi beberapa jendela dibangunan tersebut. Dari jendela luar terlihat sepasang pengunjung sedang menikmati hidangan kopi dengan teknik Syphon yang sedang disajikan oleh pelayan. Pintu kayu yang lebar dan terbuka mengundang pengunjung yang lalu lalang untuk memasukinya. “Bragahuis Buy 1 Pictcher Free Snack” itulah tulisan info promo dipapan tulis yang ditulis dengan kapur tulis, seakan-akan menyambut kedatangan setiap pengunjung. Memasuki ruangan cafe bernama Bragahuis yang berlantai terakota disusun melintang ini, seperti memasuki zaman kolonial ketika masih bernama Hindia Belanda.

BH-Barista.png

BH-PosterTua.png

Entah memang sengaja didesign seperti retro atau tidak, tetapi didalam cafe yang suasananya sangat tenang ini terdapat beberapa photo dan poster tua yang menambah suasana semakin jadul. Beberapa meja dan kursi yang terbuat dari kayu solid berwarna coklat dipadu dengan beberapa sofa dibeberapa ruangan membuat suasana semakin homie. Lampu tempel didinding dan beberapa lampu gantung menyala tidak terlalu terang membuat atmosphere yang sangat cozy. Tiga buah lampu gantung menerangi lemari yang berada dibelakang meja Barista. Dilemari tersebut berjejer botol-botol dan peralatan membuat kopi. Mulai dari French Press, Syphon, Moka Pot sampai Grinder kopi manual pakai tangan yang menginspirasi logo Braga Huis. Didepan meja Barista terdapat mesin pembuat Espresso dengan merek Cimbali type Traditional Machines yang sepertinya bukan type full.

BH-Menu2.png

Tak berapa lama pelayan mengantarkan lembaran yang berisi menu. Seperti biasa, dari banyaknya pilihan menu, mata ini hanya tertuju ke bagian Kopi. Seperti yang terlihat ditulisan kapur papan tulis Barista, ternyata lumayan banyak juga variasi kopi entah itu jenis kopi sampai dengan cara penyeduhannya yang beragam. Macam-macam jenis kopi penjuru Nusantara dari varietas Robusta atau Arabika, seperti Aceh Gayo, Kintamani Bali , Kalosi Toraja atau Sumatera Lintong dibuat dengan teknik pembuatan yang macam-macam pula, ada Espresso, Vietnamese Drip, Syphon, French Press bahkan Tubruk.

BH-Menu1.png

Pesanan satu cangkir Espresso dengan satu gelas teh yang super jumbo ditemani dengan camilan seperti kentang goreng sudah tersedia diatas meja. Ternyata lebih asik memperhatikan suasana Braga Culinary Night dibalik jendela cafe ini. Suasana lalu-lang jalan Braga yang super padet terlihat sangat kontras apabila dinikmati dibalik jendela Cafe yang bersuasana cozy. Ngopi ditempat yang bersuasana jadul dan homie sambil melihat ramainya event kuliner diluar dengan diselimuti udara malam Bandung yang dingin disertai hujan rintik yang sangat kecil, membuat malas untuk beranjak dari sofa.

BH-PintuMasuk.png

Yah Kebetulan malam ini lagi ada acara Braga Culinary Night (BCN) dengan pengunjung yang super padat. Awalnya memang ingin menikmati event kuliner baru yang ada di Bandung ini. Tetapi karena pengunjung yang sangat antusias sampai agak susah untuk jalan-jalan sekitar Braga, akhirnya lebih baik menikmati padatnya pengunjung dari balik Jendela Cafe Braga Huis. Sambil Menunggu lebih malam dengan berharap pengunjung BCN mulai surut, sehingga lebih bisa menikmati kuliner khas Bandung.

BH-Logo.png

BH-Espresso.png

Kentang goreng diatas piring sudah tidak berbekas. Secangkir Espresso sudah kosong, yang terlihat tinggal garis hitam bekas batas antara cairan kopi dan udara. Untuk menetralkan kopi yang pekat tersebut minum satu gelas mineral water yang sudah disediakan. Jarang sekali mendapatkan satu cangkir Espresso yang satu paket dengan air mineral dimanapun ketika pesan Espresso. Tetapi sepertinya di Braga Huis mereka mengerti kalau sudah menikmati pekatnya Espresso, tenggorakan dan isi perut harus dibilas oleh air mineral. Pesenan es teh tawar dengan gelas besar yang awalnya sebagai pembilas Espresso akhirnya tersisa. Selanjutnya untuk menghabiskan segelas es Teh tawar tersebut ditambahlah menu lain sebagai pelengkap sekaligus penutup.

BH-Kanopi.png

Tik Tok Tik Tok, waktu tak terasa terus berlalu. Malam semakin larut tetapi suasana semakin meriah, kaki melangkah keluar untuk menikmati suasana yang berbeda dijalan Braga, yang menjadi tujuan utama datang ke jalan ini. Hujan rintik kecil tidak membuat pengunjung buyar, bahkan menjadikan atmosfer yang berbeda dan lebih asik karena rintiknya hujan tersebut tidak sampai membuat baju basah. Selamat datang dikeramaian event kuliner jalan Braga. Dan selamat menikmati hidangan jajanan yang beraneka ragam mulai dari western sampai makanan tradisional.

BH-BCN.png

Berawal dari menunggu waktu untuk menikmati event Braga Culinary Night lebih lenggang, ternyata terlempar ke suasana Hindia Belanda di Braga Huis, lengkap dengan secangkir Kopinya.g

Lihat Link Lainnya : Malam Minggu, Ayo ke Braga Culinary Night

Update Juli 2015 : Tempat ini sudah bukan tempat ngopi yg asik lagi… tapi sekarang sudah beralih fungsi menjadi tempat jualan khas warung2 malam pinggir jalan yaitu mie instant, roti bakar, kopi sachet dan jualan minuman beralkohol. Gak ada lagi macam2 single origin kopi, gak ada lagi mesin espresso, gak ada lagi syphon coffee, gak ada lagi french press, yg tersisa hanya kopi sachet. Buat penggemar kedai kopi sungguhan tidak perlu buang2 waktu berkunjung ketempat ini, pasti akan kecewa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *