Malam Minggu, Ayo jalan-jalan ke Braga Culinary Night

BCN-CoverBerawal dari banyaknya toko-toko yang menjual barang-barang dari Paris, Konon julukan Paris Van Java untuk Bandung berawal dari jalan ini. Toko pakaian mewah ala Paris sempat berdiri disini, dan restaurant khas Paris yang dijadikan tempat berkumpulnya pengusaha Hindia Belanda dan Eropa membuat suasana dijalan ini semakin bernuansa Eropa. Ini sejalan dengan perintah dari Walikota Bandung jaman Hindia Belanda yaitu Bertus Coops, untuk menjadikan jalan ini sebagai pusat perbelanjaan bangsa eropa di seluruh Hindia Belanda atau dikenal dengan istilah “Europeesche winkelstraat van Indie”. Jalan Braga namanya, jalan yang mencapai masa keemasannya ketika ditahun 1920 sampai masa pendudukan jepang ini. Bahkan pada tahun 1896 ketika kongres pertama Pengurus Besar Perkumpulan Pengusaha Perkebunan Gula diadakan di Bandung dipusatkan dijalan ini. Dan satu istilah lagi yaitu “De Bloem der Indische Bergsteden” atau “Bunganya kota pegunungan di Hindia Belanda” muncul pasca kongres ini. Apakah istilah kota Kembang tersebut muncul karena puasnya pengusaha perkebunan atas jasa service selama kongres itu lebih mengarah pada servis yang diberikan oleh noniek-noniek cantik Indo-Belanda asal Pasir Malang, ataukah karena ketika itu Bandung benar-benar bersolek dan dihias ketika menyambut pejabat negara atau tamu resmi dari dalam dan luar negeri ? , hanya masa lalu yang bisa menjawab.


BCN-Meriah

Malem minggu kali ini suasana sangat mendukung. Selepas hujan mengguyur kota Bandung disore hari sampai Maghrib kali ini hujan rintik sangat kecil kadang berhenti kadang turun lagi menyelimuti jalan Braga. Suasana dinginya malam di Bandung yang lembab tidak membuat jalan Braga kehilangan kemeriahanya. Keramaian tersebut lebih eksostis karena diapit diantara gedung-gedung tua masa kolonial. Pengunjung sangat membludak sampai susah untuk berjalan dijalan ini. Payung warna-warni yang bergelantungan diatas jalan Braga yang benar-benar unik seakan-akan menyambut pengunjung yang datang. Payung tersebut digantung diseutas tali yang disangkutkan kebangunan kiri kanan sekitar jalan Braga yang beberapa diantaranya masih mempertahankan arsitektur Art Deco-nya. Beberapa muda-mudi sibuk dengan aktifitas berpoto diri atau berpoto rame-rame, dalam mengabadikan suasana BCN dengan background bangunan tua. Beberapa yang lain sepertinya sibuk mengupdate suasana ramainya BCN ke social media. Semua tenant yang berjejer tepat ditengah jalan Braga seperti sedang berlomba mengeluarkan kemampuan kreatifnya untuk menarik minat pengunjung dengan cara yang unik. Meja dan bangku yang berjejer dibeberapa tempat, sama sekali tidak menyisakan bangku barang sedikitpun buat orang yang baru datang. Bahkan dibeberapa resto yang memang berlokasi dijalan Braga terlihat penuh seperti halnya bebek Garang dan Mie Reman. Terlihat pedagang teriak-teriak kepada pegawainya sebagai bentuk kerjasama untuk melayani pembeli yang tidak ada hentinya. Pedagang lainnya dengan ramah memberikan sample makanan kepada pengunjung, berharap pengunjung akan membeli produknya. Ada juga segelintir pedagang yang dengan percaya diri menampilkan keterampilan masaknya langsung didepan pengunjung.

BCN-Bangku

Dari Sosis bakar yang mewakili makanan modern sampai ke Tutut, Awug atau Cireng yang mewakili makanan tradisional khas orang Bandung tersedia. Harga makanan bervariasi, dari yang mahal, sedang sampai mahal ada. Ini sesuai dengan ide BCN yang sebisa mungkin bisa dinikmati oleh semua kalangan. Tak lupa live musik yang berasal dari panggung kecil depan salah satu hotel dijalan Braga merayakan pasar malam ini. Selain live musik dari panggung tersebut, juga ada beberapa titik yang dikhususkan buat seniman jalanan mempertontonkan keahlian bermain musiknya. Entah itu ramai ramai bersama grup musiknya atau show tunggal seperti halnya pemain biola yang dengan asiknya memainkan musik ditengah keramaian.

BCN-Musisi

Event BCN ini bukan saja ditunggu warga Bandung, tetapi terlihat beberapa turis lokal atau bule sengaja datang untuk menikmati meriahnya acara. Juga pasar malam ini bukan hanya milik muda-mudi yang yang ingin nongkrong, terlihat beberapa keluarga muda beserta anak-anaknya yang masih kecil yang ditemani ibu-ibu atau bapak-bapak yang sudah berumur ikut meramaikan suasana. BCN ini benar-benar menghipnotis semua orang yang ada di Bandung, malam minggu ini sepertinya warga Bandung sengaja tumplek disatu tempat yaitu dijalan Braga.

BCN-Wendys

Ditengah padatnya acara, kaki ini berbelok memasuki pintu kedai kopi Braga Huis. Sambil menunggu pengunjung ‘agak’ lenggang, lebih baik menikmati keramaian pasar malam dibalik jendela Braga Huis. Tetapi justru berada dibalik jendela Kedai ini membuat semuanya semakin asik. Setelah malam agak larut barulah keluar dan lebih bisa menikmati suasana kuliner di Braga.

BCN-Kacang

Saking hebohnya acara, sangat sulit untuk memilih jenis makanan karena dipastikan setiap stand makanan favorit akan dikerubutin pengunjung. Trotoar kiri kanan jalan yang memang diperuntukan untuk jalan juga sangat padat. Efek tumpleknya orang dijalan Braga, mempersulit dalam urusan mencari tempat parkir. Tempat parkir bawah tanah sekelas Mall Braga City Walk tidak akan pernah menyisakan tempat karena penuh. Juga jangan pernah berharap dapat tempat parkir di bank BJB yang memang diumumkan sebagai salah satu lokasi parkir pengunjung, karena parkir di Bank BJB termasuk favorit pengunjung. Apabila anda memilih mengalah untuk memilih parkir ketempat yang lebih jauh didaerah cikapundung untuk berharap lahan tempat parkir kosong, akan sia-sia juga karena sudah full oleh pengunjung yang sengaja datang lebih cepat. Solusinya anda harus datang lebih awal untuk mendapatkan tempat parkir sekitar Braga.

BCN-Cilok

Untuk mengatasi susahnya parkir sebenarnya panitia acara merekomendasikan untuk datang ke BCN dengan memakai transportasi umum. Tetapi mungkin panitia tidak mengantisipasi bagi orang-orang yang ingin pulang sampai larut malam karena acaranya sendiri diadakan sampai tengah malam. Ini pengalaman pribadi dimana untuk sampai kelokasi BCN mengharuskan dua sampai tiga kali naik angkot dimalam hari , dijamin hanya akan mempersulit diri. Selain karena harus tiga kali naik angkot tetapi ditengah malam dipastikan angkot yang biasa dipakai kerumah sudah menghilang dari peredaran. Mungkin bagi yang naik angkot bisa pulang kurang dari jam 9 malam. Tak heran banyak pengunjung yang ingin pulang sampai malam lebih memilih untuk membawa kendaraan pribadi daripada was-was tidak mendapatkan transportasi umum.

BCN-Chef

Tapi diluar masalah parkir yang susah acara ini benar-benar sukses memeriahkan malam hari dijalan Braga. Buat yang datang dengan sanak family-nya perlu hati-hati menjaga anggota keluarga, jangan samai terlepas dari pandangan.

Ide BCN dicetuskan Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil. Wali kota yang baru dilantik tahun 2013 ini sedang giat-giatnya berbenah untuk menuju Bandung Juara. Braga Culinary Night menjadi salah satu gerakan awal untuk mengembalikan fungsi Jalan Braga sebagaimana mestinya. “Semoga menjadi mesin waktu untuk menilik kembali nilai-nilai historikal yang sempat terlupakan,” tambah Ridwan Kamil.

BCN-Camilan

Walau ada pro kontra tentang dipilihnya Braga sebagai lokasi acara, tetapi tidak dipungkiri mengadakan acara seperti BCN di Braga benar-benar seperti kata pak Wali Kota dimana ketika melangkah masuk ke jalan Braga sudah seperti keluar dari mesin waktu. Karena di Braga dan sekitarnya merupakan pusat berdirinya bangunan-bangunan berarsitektur Art Deco yang banyak di Arsiteki oleh bapak Art Deco Bandung yaitu C.P. Wolff Schoemaker. Sepertinya istilah “De Bloem der Indische Bergsteden” hidup kembali dengan adanya acara BCN ini. Tetapi istilah “Bunganya kota pegunungan di Hindia Belanda/Kota Kembang” tersebut mudah-mudahan dalam arti positif dimana Bandung sedang berbenah serta bersolek untuk menuju Bandung juara dan bukan karena “servis” yang diberikan oleh mojang-mojang Bandung.

“Malam Minggu, ayo jalan-jalan ke Braga, akan banyak makanan yang dapat dicicipi” ujar Ridwan Kamil

BCN-Awug

Lihat link lainnya Braga Huis secangkir kopi di Hindia Belanda

  1. Suasananya seperti diluar negri.. hebat bahkan tidak ada ruamg untuk yang baru datang… jika di jogja ada malipboro di bandung ada braga… foto-foto kamu memang bagusssssss banget

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *