Bandung-Jakarta-Bandung-Jakarta

Hampir genap 8 tahun bekerja di Jakarta, tetapi tidak sedikitpun hati ini merasa tinggal di Jakarta. Mungkin di karenakan setiap minggu bolak-balik Bandung-Jakarta, akhirnya Jakarta-pun serasa Bandung dan Bandung-pun serasa Jakarta. Sampai kulit ini agak kebal terhadap perbedaan cuaca Bandung-Jakarta, saking kebalnya kadang saya tidak bisa membedakan perubahan cuaca Bandung-Jakarta atau entah sekarang Bandung yang sudah sepanas Jakarta ????.
Hingga detik ini pun saya sendiri belum mampu untuk mengambil keputusan kota manakah yang akan saya pilih sebagai tempat tinggal, walaupun wacana tentang tempat tinggal yang ideal bagi saya sudah ada di otak saya dalam 5 tahun terakhir.

3 tahun yang lalu ketika saya berniat membeli tempat buat berteduh sendiri tertunda dikarenakan rumah kedua orang-tua saya yang lebih membutuhkan perhatian untuk di renovasi. Rumah kampung yang hampir berumur 27 tahun dan belum pernah di renovasi (kecuali penambahan ruang) itu atap dan plafon-nya dalam kondisi yang memprihatinkan.
Masih tergambar dalam ingatan kepala saya, di bulan ramadhan ketika itu Ibu saya lagi mempersiapkan kue untuk lebaran mendadak terkejut. Jangankan Ibu, saya yg ada di ruangan sebelah lagi nonton TV pun terkejut bukan main.
Perasaan sedih dan gembira bercampur jadi satu :).

Gembira karena mendadak ingat ketika masa kecil dulu. Saya merasa DeJavu, teringat ketika gunung galunggung meletus sekitar tahun 1982 dan hujan abunya sampai ke Bandung, dan di saat itu pula saya menemukan permainan yang amat saya sukai. Permainan yang melibatkan abu vulkanik yang berserakan dimana-mana, kalo ngak salah ingat abu vulkanik tersebut memenuhi gang-gang di daerah rumah sampai selutut saya, selutut anak kecil tentunya ;). Walaupun dilarang KERAS sama orang-tua tapi bermain dengan abu vulkanik itu merupakan permainan favorit saya ketika itu. Saya dan temen sebaya saya biasa mainin permainan sepeti ski dengan duduk di atas pengki(serokan sampah) yg terbuat dari anyaman bambu yg terlebih dahulu di alasi oleh kardus bekas supaya bisa meluncur diatas abu dengan mulus layaknya meluncur di atas salju. Dan di ujung lintasan sengaja dibuat gundukan abu vulkanik yg lumayan tinggi, jadi ketika meluncur dan membentur gundukan abu maka pecahlah gundukan abu tersebut dan mengotori teras rumah serta jemuran tetangga yang masih basah, dengan segera kitapun berlarian kerumah masing-masing karena takut di marahin yg punya jemuran. Saya pun berbohong kepada orang-tua bahwa saya tidak bermain-main dengan abu karena takut di marahin, tetapi wajah tanpa dosa saya tidak di sertai dengan wajah tanpa abu di muka dan rambut. Kontan ortu langsung ngomel-ngomel lumayan lama.

Sedih karena melihat mimik muka ibu saya yang langsung menangis, dia menangis bukan karena kue lebarannya yang kebuang jadi sampah tetapi sedih melihat kondisi rumah terutama plafon yang memang sudah beberapa tahun tinggal menunggu jatuh akhirnya jatuh juga. Satu lagi yang sedih tapi juga membuat saya agak sedikit ketawa karena ruangan tempat makan kami benar-benar gelap gulita karena abu vulkanik yang sudah mengendap sekitar 20 tahunan jatuh kelantai dan bertebaran kemana-mana. Dan yang membuat saya (juga kakak saya) ngak bisa nahan ketawa (diatas penderitaan Ibu saya) dari ruangan yg gelap tersebut keluar lah sosok seseorang yg item dengan rambut acak-acakan muka coreng moreng penuh dengan debu/abu keluar dari ruangan benar benar mirip dengan adegan sinetron misteri di televisi. Yang ternyata sosok tersebut adalah Ibu saya. Ibu saya pertama-tama ikut ketawa dengan kita tetapi tidak lama berselang dia malah mengeluarkan air matanya hik hik hik.

Tapi saya bersyukur juga sih untung cuman plafon yang jatuh bukan gentengnya hehe. Plafon tersebut mungkin sudah tidak tahan menahan abu, yang ketika di bongkar ternyata ketebalan abu tsb sekitar 1-2 cm. Satu hari setelah kejadian itu saya dan kakak2 saya langsung mengadakan rapat tertutup untuk membetulkan rumah orang tua kami. Dari rapat tersebut akhirnya di setujui untuk ngebangun dari 0 lagi, di ratakanlah rumah tua tersebut dan selama beberapa bulan ortu saya ‘mengungsi ke rumah tetangga’.

Disinilah budget yang sudah saya alokasikan buat beli rumah tersedot semua, akhirnya rencana beli rumah pun ngak jadi.. hik hik hik. Tapi diluar itu ternyata ada hikmahnya juga, kita jadi lebih sering berkunjung ke rumah orang tua. Saptu Minggu jadi tempat ngumpul-ngumpul kita. Sampai-sampai keponakan saya sekarang lebih sering tinggal di rumah kakek/neneknya dari pada di rumah orang tuanya.

Sebenarnya saya punya rumah kecil di daerah cijerah yang saya kontrakan, saya sendiri bingung apakah akan merenovasi rumah tersebut atau menjualnya dan beli di lokasi yg lebih bagus karena salah satu alasan kenapa ngak saya tempati yaitu kondisi rumahnya yang sudah memprihatinkan serta lokasi yg ngak cocok buat saya. Tetapi Setelah beberapa tahun keinginan saya untuk beli rumah terpendam karena ngak ada duit, ternyata … kring sekitar 2 minggu yang lalu ada orang yang telpon ke rumah tanya apakah rumah yang di cijerah akan di jual.

Angan-angan untuk membeli rumahpun muncul kembali apabila rumah saya yang di Cijerah terjual.
Tapi ada satu lagi yang dari dulu sampai sekarang pun saya masih belum dapat jawabanya 😉 .. yaitu lokasinya dimana yah hmmm … Jakarta,Bandung,Jakarta,Bandung,Jakarta,Bandung,Bekasi,Depok,Bogor,Jakarta,Bandung ????
tapi lumayan lah bisa berhayal untuk beli rumah dari pada ngak bisa bisa menghayal sama sekali hehehe

  1. mending di serang mas..kn suka pantai ??
    nah serang tuwh ada…

    trus ada mesjid banten yg terkenal sejarahnya..
    trs juga ada makanan yg muncul cm bulan puasa doang…keren kn

    pokoke jgn ikutin si mekanzoo….mending serang pokoke
    hidup serangggggggg !!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *