Ambon I : Jazirah Leihitu, Negeri para Raja

Dokumentasi perjalanan ke Nusa Tenggara TimurLeihitu merupakan suatu jazirah yang berada di sebelah utara pulau. Jazirah Leitimur yang lebih kecil ada disebelah selatan. Kedua jazirah tersebut disambungkan oleh daratan sempit bernama Paso, sehingga membentuk satu pulau yang sekarang kita kenal sebagai pulau Ambon. Jazirah Leihitu sebagian besar dihuni oleh penduduk yang beragama Islam dan secara administrasi, sebagian besar wilayah jazirah ini masuk wilayah kabupaten Maluku Tengah. Sebaliknya Leitimur dihuni oleh penduduk yang sebagian besar memeluk Kristen (Protestan), dan secara administrasi masuk ke kota Ambon. Jadi walau Leitimur lebih kecil tetapi lebih ramai dan padat penduduknya karena lokasi kota Ambon, ibukota Provinsi Maluku berada disini. Ujung Barat kedua jazirah tersebut membentuk tanjung. Tanjung Alang untuk jazirah Leihitu dan Tanjung Nusawine untuk jazirah Leitimur. Kedua tanjung tersebut membentuk teluk Ambon yang menjadi pintu gerbang untuk memasuki kota Ambon melalui laut. Negeri-negeri yang berkembang di pulau Ambon sebagian besar ada di pesisir pantai. Mungkin karena dataran landainya lebih banyak di pinggir pulau, sedangkan di tengah pulau karena berbukit dan hutan jadi tidak banyak di huni.

Perjalanan mengelilingi pulau Ambon kali ini lebih spesial. Sekarang merambah lebih ke timur lagi. Setelah sebelumnya wilayah paling timur yang pernah dikunjungi adalah Jailolo di pulau Halmahera bagian barat. Tidak begitu kentara perbedaan timurnya dengan Jailolo tetapi secara letak geografis, pulau Ambon sedikit ke timur dibanding Jailolo.

Jernihnya Perairan Asilulu

Untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di pulau Ambon disambut cuaca yang kurang bagus. Gerimis mengiringi begitu keluar dari pesawat, tetapi cuaca lebih bersahabat beberapa saat setelah keluar dari Bandara Patimura. Bahkan cuaca makin memanas. Mobil langsung mengarah kearah barat daya bandara. Menyusuri jalan yang berada di tepian laut jazirah Leihitu menjadi agenda pertama di Ambon. Rencana awal untuk sampai ke kota Ambon tidak mengarah ke arah timur dari bandara tetapi memilih jalan memutari jazirah Leihitu. Tahu kondisi jalan dijamin tidak akan lebih bagus, apalagi setelah tahu kondisi di Negeri Lima yang kena musibah jebolnya dam Wai Ela masih porak poranda. Bisa jadi jalanan malah terputus di negeri Lima dan harus balik arah lagi. Tapi resiko ini harus diambil karena tujuan mengelilingi Leihitu adalah menuju Negeri Asilulu, dimana letak pulau tiga berada. Tak peduli, kalaupun karena kondisi jalan yang tidak memungkinkan dan harus balik arah. Tempat tujuan yang sudah di tag hanya sebagai patokan atau guidelines ketika mengunjungi suatu tempat dan bukan berarti ‘wajib’ dikunjungi. Bagi saya proses perjalanan disuatu tempat jauh lebih utama. Saya akan merasa lebih beruntung bisa mengamati budaya, kebiasaan atau hal-hal sekecil apapun. Mungkin ada hal-hal yang dimata ini sangat sepele tapi di tempat lain itu sesuatu yang penting. Semakin banyak kita mengunjungi suatu tempat maka samakin beragan pula budaya yang akan kita temui. Itu akan membuka wawasan kita dan pikiran sempit akan dibuang jauh-jauh sehingga akan menumbuhkan sifat toleransi serta saling menghargai yang semakin tinggi.

Jalanan seakan-akan menyempit, karena banyaknya warga yang menggelar cengkeh untuk dijemur dipinggir jalan. Mungkin jalanan aspal yang hitam tersebut membuat biji cengkeh semakin cepat kering. Karena hal tersebut setiap kali bertemu dengan mobil yang berlawanan arah, salah satu mobil harus mengalah dan memberi kesempatan mobil lain melewati jalan. Rekam jejak perdagangan rempah di kepulauan Maluku ini sudah sangat tua. Bahkan para arkeologis menemukan bahwa perdaganan cengkeh sudah terjadi di tahun 1721 sebelum masehi. Ini terbukti dengan ditemukannya cengkeh dalam keramik di Syria yang berumur ribuan tahun (Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Cengkih Nov 2013).

Bangsa-bangsa Eropa berlomba mendirikan gudang dan benteng di kepulauan Maluku termasuk pulau Ambon, demi rempah yang sangat berharga di Eropa. Cengkeh dan Pala adalah tumbuhan asli Maluku yang dahulu hanya tumbuh di kepulauan Maluku terutama Ternate, Tidore dan Banda. Diabad pertengahan cengkeh dijadikan alat tukar oleh bangsa Arab. Di Inggris diabad ke 17 dan 18 harga cengkeh menyamai harga emas.

Kala itu jalur perdangangan rempah ke Eropa harus melalui kekuasan Ottoman yang menguasai timur tengah sampai ke mesir. Ini membuat harga rempah-rampah semakin melambung. Sehingga beberapa negara eropa yang diprakarsai Portugis mengadakan ekspedisi besar-besaran untuk mengelilingi dunia salah satunya demi menekan harga rempah yang dimonopoli pedagang Arab. Selanjutnya expedisi inilah yang membuat sejarah kelam di Nusantara. Bangsa-bangsa Eropa dengan kemampuan perangnya menaklukan satu demi satu kerajaan-kerajaan di bumi Nusantara. Selama berabad-abad pula Nusantara berada dalam cengkraman penjajahan bangsa Eropa.

Menyusuri jalan sempit naik turun yang kadang berlubang. Kiri jalan terlihat pantai dengan pasir yang berwarna agak gelap serta kasar yang menjadi batas lautan di teluk Ambon. Pantai menghilang diganti jejeran rumah ketika memasuki Negeri Hatu yang terkenal sama buah-buahan dan batunya. Keluar dari Negeri Hatu kembali pantai terlihat pinggir jalan.

Mobil menyururi jalan kecil yang berliku naik turun dan sebelum memasuki Negeri Liliboy terlihat bekas longsoran yang lumayan parah. Longsoran tersebut sampai memakan badan jalan, mobil berjalan dengan perlahan melewati bekas longsoran. Kanan jalan deretan bukit yang masih terlihat asri dan lebat oleh pepohonan, kiri jalan kembali pemandangan teluk Ambon yang indah selalu menemani.

Meliuk-liuk dijalan melengkung yang membentuk teluk kecil dengan gradasi air jernih yang hijau ke biru. Mobil sampai dibagian ujung barat teluk Ambon bagian jazirah Leihitu. Jalan benar-benar menyempit jejeran jemuran Cengkeh semakin banyak. Melewati salah satu rumah yang bentuknya lain, dan ini merupakan rumah adat di Negeri Alang.

Dibeberapa jembatan kecil hanya tersisa setengah jalan karena hancur atau longsor. Keindahan pantai dan hutan sepanjang jalan membuat terkesima. Sampai lupa untuk mendokumentasikan keindahannya. Untunglah Masjid yang lumayan megah dipinggir laut mengingatkan tangan ini untuk mengeluarkan kamera. Sangat sayang untuk melewatkan keindahan Masjid tersebut. Tidak jauh dari masjid tersebut ada batu yang terkenal dengan nama batu Suanggi. Yah kini saya berada di Negeri Wakasihu yang terkenal dengan masjid pinggir laut dan batu Suanggi-nya. Jadilah frame Masjid Wakasihu yang ada di kamera ini jadi photo pertama yang diambil diperjalanan kali ini.

Wakasihu

Ujung Jazirah Leihitu sudah terlewati mobil mengarah ke utara. Kali ini mengarah ke Negeri Larike. Sebenarnya disini terdapat belut Morea yang besar tetapi dilewatkan karena masih bisa melihat belut Morea di kesempatan lain di Negeri Waai yang terkenal sama belutnya. Tak jauh dari sini terdapat Batu Layar yang menjadi icon Negeri Larike. Bahkan sepertinya batu Layar ini juga sudah menjadi atraksi wisata untuk warga Ambon secara umumnya. Ini terlihat dari bekas sampah plastik, botol minuman dan kertas bekas wadah makanan restaurant franchise cepat saji KF*. Karena sepanjang bandara sampai Larike merupakan perkampungan yang sangat kecil dan sepi, hanya bisa menabak sampah-sampah ini berasal dari oknum warga kota Ambon yang berkunjung kesini. Karena sangat yakin bungkus makanan KF* tersebut hanya ada di kota Ambon. Amat sangat disayangkan ditempat sepi yang jauh dari keramaian ini bertumpuk sampah dari oknum yang tidak bertanggung jawab.

Negeri Asilulu 1

Diketinggian bukit terlihat tiga pulau kecil yang sangat elok. Tebing disalah satu pulau tersebut mengingatkan akan pulau Kambing di Tanjung Bira, Bulukumba. Tetapi pulau dihadapan mata ini atasnya terlihat sangat subur karena banyak jejeran pohon kelapa dan lainnya yang menghijau. Jernihnya air disekitar pulau terlihat dengan jelas. Karena hapal betul di ujung jazirah Leihitu tidak ada pulau lain yang berjejer tiga selain Nusa Telu, maka saya berasumsi sudah sampai di Negeri Asilulu.

Pulau Tiga - Asilulu

Tidak menyangka pulaunya sedekat ini, dan Negeri Asilulu terlihat dari ketinggian. Dalam bahasa setempat gugusan pulau ini terkenal dengan nama Nusa Telu karena terdiri dari tiga pulau. Tiga pulau yang elok tersebut bernama Nusa Lain, Nusa Tala dan Nusa Ela. Bisa ditebak, berikutnya nama ketiga pulau itu terkenal dengan nama pulau Satu, Dua dan Tiga.

Negeri Asilulu 2

Mobil turun mengarah ke pusat Negeri Asilulu, dan berhenti disuatu tempat yang sepertinya tempat pelelangan ikan. Ketika mengabadikan keindahan Nusa Telu di kejauhan, seorang bapak menawarkan jasanya buat mengantar keliling Nusa Telu. Setalah tawar menawar akhirnya disetujui biaya mengantar hoping island sebesar Rp.300.000.
Tak mau membuang waktu langsung ganti pakaian untuk snorkeling, beberapa saat kemudian bodi (sebutan perahu kecil di sini) meluncur menuju pulau dua yang berada di tengah. Sampai di pinggiran pulau Dua langsung snorkeling, dan airnya jernih sekali.

Keliling Pulau Tiga - Asilulu

Hamparan terumbu karang terlihat masih sangat terawat. Ikan-ikan yang ada disini terlihat besar-besar tidak seperti di tempat lain yang kebanyakan kumpulan ikan kecil-kecil. Bahkan kali ini sama sekali tidak punya keberanian untuk mendekati ikan terompet yang sebenarnya sering saya lihat. Tidak berani karena melihat ukuran ikan terompet yang sangat besar dan panjang. Bisa jadi ini ikan terompet terbesar yang saya lihat selama snorkeling atau diving. Saking jernihnya jarak pandang di dalam laut bisa sangat jauh.

Bawah Laut Pulau Tiga - Asilulu

Terlihat beberapa ekor ikan sejenis Tuna (ato Cakalang ??) terlihat berenang sangat cepat. Lagi-lagi sepertinya baru kali ini melihat ikan sejenis Tuna dihadapan mata. Tetapi semuanya itu serasa tidak berkesan karena disini kamera Underwater yang selalu diandalkan bermasalah. Lebih gondok dibanding kejadian abis batre ketika di Bunaken. Batre cadangan kamera ini tidak berfungsi, ketika mau diganti sama batre original tutup batrenya mendadak susah banget untuk di buka. Ketika bisa di ganti hanya bisa mendokumentasikan sebagian kecil keindahan bawah laut Nusa Telu.

Penyelam di Pulau Tiga - Asilulu

Bodi kemudian memutari pulau Tiga, dan kembali ke Pulau dua untuk mendekat ke pinggir pulau Satu. Terlihat dua perahu rombongan penyelam asal luar negeri. Sayang tidak bisa menyelam di tempat ini, karena tidak mampu untuk mendatangkan kapal cepat dan sewa peralatan yang ada di kota Ambon. Di Nusa Telu, jangankan peralatan menyelam, peralatan snorkeling pun tidak ada. Beruntung kemana-mana selalu membawa fin,masker dan snorkel kesayangan. Sehingga bisa terjun ke air laut kapan pun saya mau.

Nusa Telu di Negeri Asilulu akan selalu diingat karena kejernihan air serta keanekaragaman ikan serta hamparan terumbu karangnya. Saya rekomendasikan tempat ini bagi bagi orang-orang yang suka snorkeling atau diving.

Negeri Lima yang porak poranda

Keluar dari Asilulu Negeri Ureng sudah di depan mata. Perjalanan berlanjut terus sampai melihat jejeran beberapa Tenda pengungsi dari pinggir jalan. Di depan mata, terdapat puing-puing suatu Negeri yang habis tersapu oleh air. Yah Negeri Lima ini terkena bencana dan porak poranda yang disebabkan oleh jebolnya Dam alimiah Way Ela. Dam Way Ela sendiri terbentuk secara tidak sengaja karena longsoran tanah dan batu yang menutup sungai. Semakin hari tinggi permukaan air di Dam Way Ela semakin tinggi dan akhirnya tidak bisa menahan air yang tertampung di Dam tersebut. Skenario akhir yang pahit terjadi, Negeri Lima rata tersapu oleh limpahan air Dam Way Ela. Sejauh mata memandang hanya terdapat puing-puing yang sudah rata, bahkan jalan sama sekali tidak terlihat. Beruntung masih bisa melewati Negeri Lima dengan ekstra hati-hati. Keluar dari daerah puing-puing tersebut tenda-tenda pengungsi semakin banyak terlihat.

Gereja Tua - Hila

Negeri Hila negeri berikutnya yang terlewatisetelah Negeri Lima. Disini terdapat gereja Tua, dan disebelah gereja tua tersebut berdiri dengan kokohnya bangunan berukuran 16×16 meter dengan ketebalan tembok 47 cm. Awalnya bangunan ini dibangun oleh Portugis di tahun 1512 sebagai loji atau gudang rempah. Tahun 1605 Belanda menguasai daerah ini dan menjadikan Loji sebagai basis pertahanan belanda di Hila. Tahun 1637 Loji ini dijadikan benteng dan pembangunan tersebut diselesaikan oleh Arnold de Vlaming van Oudsthoorn di tahun 1656, dan dinamai dengan nama “Benteng Amsterdam“.

Benteng Amsterdam

Bentengnya tidak terlalu besar tetapi jauh lebih besar di banding benteng Tuloko yang ada di Ternate. Bangunan terdiri dari tiga lantai, dimana dua lantai teratas beralaskan kayu yang lumayan tebal. Sudah menduga kalau atap benteng ini tidak original karena terbuat dari genteng metal yang hanya ada di jaman sekarang. Dari lantai tiga terlihat jelas sekeliling daerah benteng. Karena semua sudut terlihat dari atas, bisa dibayangkan dengan mudahnya para kompeni menembaki untuk menghabisi pejuang-pejuang yang mungkin hanya bersenjatakan parang.

Suasana Benteng Amsterdam - Hila

Belum pernah melihat banyak benteng sebelum berkunjung ke Maluku termasuk Maluku Utara dimana benteng-benteng bertebaran di sekitar Ternate. Benteng-benteng tersebut seakan-akan menjadi saksi bisu kelamnya penjajahan di Indonesia. Juga pengingat betapa berharganya rempah-rempah yang berasal dari kepulauan Maluku ini.

Dari Negeri Hila mobil terus mengarah ke arah timur. Menyusuri bagian utara pesisir pulau Ambon. Tetapi tidak full mengeliling jazirah Leihitu, karena di sekitar Hitulama, mobil mengarah kekanan. Berikutnya membelah jazirah ini menuju suatu daerah yang bernama Durian Patah. Untuk selanjutnya menuju kota Ambon, dan perjalanan mengelilingi jazirah Leihitu berakhir pula di kota Ambon.

Ada banyak negeri yang terlewati ketika mengelilingi jazirah Leihitu. Masing-masing negeri mempunyai reputasi serta karakter tersendiri, yang dipimpin oleh seorang Raja. Jadilah jazirah Leihitu merupakan negerinya para Raja. Karena jazirah ini terbentuk dari beberapa kumpulan negeri, layak juga predikat Jazirah Biru disandangnya. Sebagaimana julukan Benua Biru yang disandang Eropa yang berasal dari banyaknya Raja berdarah biru yang memimpin kerajaan-kerajaan di Eropa.

Tips keliling Leihitu :

  • Kalau anda dari bandara sangat tepat keliling jazirah mulai dari bandara dan mengelilingi pesisir jazirah searah dengan jarum jam. Karena kalau ke Ambon terlebih dahulu akan memutar lagi.
  • Bawa peralatan sendiri kalau mau snorkeling di Asilulu.
  • Sewa perahu untuk keliling Nusa Telu sekitar Rp. 300.000.
  • Kalau sempet, bawa nasi bungkus sendiri, karena selama jalan tidak menemukan warung makan yang ok

Catatan Perjalanan Ambon lainnya :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *