Ambon II : Benteng Portugis yang Menjelma Menjadi Kota Terbesar di Maluku

Dokumentasi perjalanan ke Nusa Tenggara TimurSejarah kota Ambon jauh lebih muda di banding sejarah kesultanan yang ada di Maluku utara. Di kala Ambon masih belum jadi apa-apa, di utara Maluku sudah berdiri beberapa kerajaan yang terkenal dengan Moloku Kie Raha yaitu persukutuan 4 raja Maluku. Bahkan salah satu kerajaan tersebut menjadi kesultanan Islam yang merupakan salah satu kesultanan islam tertua di Indonesia, yaitu kesultanan Ternate. Bisa dikatakan kota Ambon terbentuk akibat kekalahan Portugis di Ternate sekitar tahun 1575. Kesultanan Ternate yang saat itu di pimpin oleh Sultan Baabullah mengusir semua orang Portugis. Sultan mengusir Portugis karena tindakan yang sangat licik dan pengecut dari Gubernur Portugis, Lopez de Mesquita, yang mengundang Sultan sebelumnya yaitu Sultan Khairun yang merupakan bapak dari Sultan Baabullah ke meja perundingan tetapi berujung dengan pembunuhan Sultan Khairun yang datang tanpa pengawalnya dengan sangat licik dan kejam. Di tahun 1575 itu pula sultan Baabullah mengusir orang-orang Portugis pengecut tersebut dan Portugis meninggalkan Ternate untuk selamanya.

Di tahun yang sama ketika terjadi pengusiran orang Portugis oleh Sultan Baabullah, seorang panglima armada Portugis, Sancho de Vasconcelos membangun benteng “Kota Laha” didataran Honipopu, melalui tangan penduduk sekitar benteng tentunya. Portugis menamai benteng tersebut “Nossa Senhora de Anuneiada”. Disinilah cikal bakal kota Ambon terbentuk. Disekitar benteng tumbuh komunitas yang semakin hari semakin besar. Walau masih bersifat benteng tetapi Portugis membikin aturan-aturan selayaknya kota mandiri. Bahkan ketika Belanda menaklukan benteng Portugis, Belanda mengakui kalau aturan-aturan dan prinsip-prinsip kota di komunitas kecil ini sudah sangat rapih dan bagus. Migrasi orang Portugis semakin banyak pasca pengusiran di Ternate. Pedagang-pedagang Nusantara juga meramaikan tempat ini. Masyarakat disekitar Laha semakin bertambah dan membentuk suatu kota. Tahun 1605 benteng ini jatuh dan kekuasaan beralih ke pihak Belanda. Benteng tersebut diganti namanya menjadi benteng Nieuw Victoria oleh belanda di tahun 1780. Sekarang benteng tersebut menjadi markas Den Kavaleri KODAM XVI Pattimura. Lokasi Benteng berada di Ambon City Center (ACC) tepat diseberang lapangan Merdeka Ambon.

Balai Kota Ambon

Saya membayangkan sekarang lagi melihat daratan sekitar kota Laha dari ketinggian Benteng. Tanah lapang yang luas terlihat dengan jelas. Mungkin dahulu penghuni benteng memantau keadaan kawasan kota Laha seperti ini. Sudut-sudut daratan dan laut benar-benar tersapu oleh pandangan mata.
Kali ini di pagi hari, melihat ke daratan kota Laha sudah berdiri bangunan-bangunan permanen yang lebih megah di banding benteng. Lapangan merdeka Ambon yang terlihat dari jendela kamar penginapan di lantai empat sangat ramai. Padahal jam masih menunjukan di angka 5.30 waktu setempat. Keramaian juga ada di sebelah lapangan Merdeka, yaitu taman di tugu Gong Perdamaian. Kumpulan anak bermain bola di sudut-sudut taman Gong Perdamaian. Mereka dengan leluasa keluar masuk taman dengan memanjat pagar pembatas yang sangat pendek. Padahal dimalam harinya saya diwajibkan merogoh kocek Rp. 5.000 sebagai imbalan untuk masuk dan melihat tugu tersebut. Tetapi keramaian tersebut langsung hilang tak berbekas tatkala angka di handphone menunjukan angka 8.00. Beruntung sekarang menginap di penginapan tepat pinggir benteng Nieuw Victoria. Sehingga bisa merasakan gimana rasanya memantau kota Laha dari ketinggian benteng seperti dahulu kala.

Berada di jazirah Leitimur salah satu jazirah di pulau Ambon. Pagi ini tujuan berikutnya adalah explore sebelah barat daya kota Ambon, yaitu Latulahat yang berada di ujung tanjung Nusawine. Masih berfikir longsoran-longsoran tanah akibat hujan hanya terjadi di jazirah Leihitu. Sedangkan disini karena berada dekat sama pusat kota tidak akan terjadi longsoran-longsoran seperti halnya di Leihitu. Ternyata salah total, bahkan longsoran disini lebih dasyat sehingga dibeberapa jembatan masih menggunakan jembatan sementara yang dibikin dari baja beralaskan kayu. Padahal roda ekonomi di jazirah ini jauh lebih hidup di banding Leihitu. Minggu pagi di sini mengingatkan saya ketika jalan-jalan di Tomohon, Tondano dan Minahasa di Sulawesi Utara. Karena pagi hari disini warga masih banyak yang ke gereja, sehingga kondisi jalan terlihat agak sepi. Menyusuri jalan pinggir pantai teluk Ambon, kali ini pantai ada di sebelah kanan, berbeda dengan perjalanan kemarin dimana pantai selalu disebelah kiri. Jalanan terlihat rapih dan bersih tetapi ketika melirik kesebelah kanan kondisi teluk Ambon terlihat sangat memprihatinkan, dimana sampah bertebaran merata di teluk. Padahal semua orang tahu kalau kebersihan teluk Ambon merupakan modal pariwisata Kota Ambon. Siapa yang mau ke Ambon dan bermain air kalau melihat kondisi teluk yang kotor seperti ini !!. Mendekati Amahusu kondisi teluk jauh lebih bersih. Tetapi kesenangan ini semu belaka, karena bersihnya air sekitar Amahusu hanya di sekitar hotel yang selalu rajin membersihkan laut sekitar hotel. Walau pihak hotel hanya membersihkan sebagian kecil teluk saja, tapi hal tersebut patut diacungkan jempol sebagai bentuk tanggung jawab sama lingkungan setempat.

Pantai Namalatu-Latuhalat-Ambon

Mobil membelah jazirah dan menjauhi perairan teluk Ambon mengarah kearah selatan menuju perairan laut Banda. Kondisi masih terlalu pagi bagi warga Ambon yang masih menghadiri acara di Gereja. Memasuki pantai Namalatu di Latuhalat jangankan wisatawan , penjaga loket pintu masuk masih belum ada. Didepan terhampar perairan laut Banda yang sangat tersohor. Pagi ini Namalatu terlihat masih surut, batu karang yang biasa tergenang oleh air laut sekarang terekspos terkena udara pantai. Kawasan pantai Namalatu terlihat lumayan panjang. Sepanjang pantai berdiri jejeran pohon kelapa yang lumayan tinggi.

Dermaga Pantai Namalatu-Latuhalat-Ambon

Dikejauhan orang-orang melempar kail pancingan sambil berdiri diatas batu karang yang lagi surut. Kondisi air yang jernih sepertinya menjanjikan untuk melakukan aktivitas snorkeling. Menjanjikan karena selain air yang jernih, diujung dermaga kedalaman airnya sangat pas buat snorkeling, karena seperti berada di tepi kolam yang langsung dalam. Walau sangat tergiur untuk terjun kelaut, saya masih bisa menahan diri untuk tidak snorkeling. Pantai yang berpasir tidak sepanjang pantai yang berbatu karang. Tetapi justru disinilah pantai yang sangat aman buat anak-anak yang ingin berenang. Karena pantai yang berpasir ini airnya tidak langsung kelaut, terlindung oleh jejeran batu karang sebagai benteng pengaman alami.

Pasir Pantai Namalatu Latuhalat Ambon

Dari Namalatu kalau anda terus mengarah ke arah barat, maka anda akan sampai di ujung Tanjung Nusawine. Karena sekarang saya benar-benar berada di ujung tanjung, jalan aspal berhenti sampai sini. Mobil di parkir dirimbunya pohon kelapa. Ujung tanjung, suatu tempat yang perkiraan saya menjadi salah satu tempat wisata favorit warga Ambon , karena terlihat dari sampah yang berserakan. Tapi kali ini karena suasana pagi, tidak ada seorang pun yang berkunjung disini. Yang ada adalah jejak-jejak orang yang sudah berkunjung disini yaitu sampah bekas botol minuman dan makanan. Dari sini harus berjalan kaki untuk berada di tepi ujung Tanjung. Kaki melangkah melewati sampah yang berserakan diatas batu-batu karang, ini berbeda dengan Namalatu yang terlihat lebih bersih. Mendekati ujung Tanjung batu-batu berubah warna, batuan tersebut seperti dilapisi aspal alami sehingga menghitam.

Ujung Tanjung Latuhalat - Ambon

Saya benar benar berdiri di ujung barat jazirah Leitimur. Di kejauhan terlihat ujung jazirah Leihitu yang lebih dikenal dengan tanjung Alang. Dihadapan mata sekarang terpampang jernihnya perairan laut Banda. Disini terlihat bukan tempat untuk berenang main air karena langsung ke laut dalam, tetapi justru cocok banget buat snorkeling. Kali ini godaan untuk snorkeling tidak tertahankan. Kondisi bawah laut masih bersih walau ada beberapa sampah kresek tapi itu sangat sedikit. Yang saya suka snorkeling disini adalah kejernihan airnya. Sebenarnya terumbu karangnya jarang tetapi ikan ikan banyak berseliweran. Di kedalaman 3-4 meter terlihat bintang laut yang biru terlihat mencengkram salah satu terumbu karang. Langsung melakukan duck dive dan menyelam untuk mengabadikan gambarnya. Ketika memegang batu dikedalaman 4 meter untuk menstabilkan posisi tangan buat ambil gambar, kaget karena diatas batu yang hampir kepegang terdapat ikan batu yang beracun. Hampir saja terkena sengatan ikan batu, ikan tersebut benar-benar berkamuflase seperti batu. Untunglah setiap kali snorkeling selalu memakai sarung tangan kulit, sehingga terhindar dari sengatan ikan tadi.

Ini seperti alarm peringatan untuk menyudahi snorkeling disini, langsung naik kepermukaan setelah mendokumentasikan bintang laut tersebut. Tanpa ganti baju rush guard dan celana renang, melanjutkan perjalanan dengan memutar balik kembali kearah timur.

Santai Beach - Latuhalat - Ambon

Didepan sekarang terlihat pasir putih dengan air laut yang tenang dan bening. Hitungan menit berdiri disini langsung menilai woww ini bisa jadi salah satu pantai berpasir putih yang paling fotogenik selama jalan di Ambon sampai saat ini. Pantainya pendek tidak sepanjang Namalatu, tetapi sudah menjadi salah satu pantai favorit saya di Ambon, tentunya karena ke-fotogenik-anya. Biasanya banyak pantai yang sangat indah tapi tidak terlalu fotogenik setidaknya terlihat dari poto yang dihasilkan. Seperti yang dirasakan kemarin di pantai Natsepa, pantainya sebenarnya bagus berpasir putih yang luas dan panjang, tapi entah kenapa mati kutu untuk mengambil keindahan pantai Natsepa. Tetapi disini walau anda asal jepret, dijamin hasilnya bakal cukup memuaskan anda. Yah didepan mata, masih menghadap laut Banda ada pasir putih yang dinamakan Santai Beach.

Pasir Putih Santai Beach

Sesuai dengan namanya tempat ini memang mengasikan buat bersantai dan berleha-leha. Ada beberapa gazebo buat menikmati keindahan pantai. Suasana masih sepi, tetapi terlihat ada pedagang rujak yang sedang menyiapkan daganganya.Mencoba rujak tersebut untuk dibandingkan dengan rujak Natsepa yang sudah dicoba kemarin. Sekilas rasa masih sama dengan Natsepa, tetapi ada rasa yang kurang. Semakin banyak suapan rujak memasuki mulut, rasa rujaknya semakin kerasa ada yang berbeda. Tidak bisa dibedakan detail bedanya dimana, tetapi yang pasti bumbu rujaknya tidak se “bold” atau senendang bumbu rujak Natsepa.

Bersantai di Santai Beach - Latuhalat - Ambon

Di Santai Beach seolah-olah saya sama sekali enggan untuk beranjak dari gazebo yang tenang ini. Tetapi posisi matahari yang semakin meninggi bahkan cendrung kembali turun, yang mengingatkan saya untuk beranjak dari tempat yang nyaman ini.

Penyewaan Ban santai beach Latuhalat - Ambon

Desa Airlouw menjadi tujuan selanjutnya, mobil mengarah ke desa itu. Ketika orang menyebut Airlouw sepertinya kata itu langsung identik dengan wisata pintu kota Ambon. Yah batu karang yang bolong seperti karang bolong di Kebumen atau Anyer itu disini dinamakan Pintu Kota. Banyak sekali orang yang berasumsi tidak pernah ke Ambon kalau belum mengunjungi Pintu Kota Ambon. Termakan oleh asumsi itu, dan tidak ingin disebut belum pernah ke Ambon saya menyambangi tempat yang dinamakan Pintu Kota hehe, padahal jelas telah menginap 3 malam di pusat kota Ambon.
Secara pemandangan jujur cukup bagus dan sangat berpotensi, apalagi ketika berdiri diatas tebing pintu kota melihat birunya laut Banda. Tetapi karang yang berlubangnya sendiri dimata saya biasa-biasa saja, tidak lebih bagus dibanding karang bolong yang ada di Kebumen, malah di sekitar karang yang bolong tersebut sampahnya terlihat berserakan. Sepertinya problem wisata Ambon yang mainstream dan populer adalah sampah (note : bukan berarti semuanya karena masih banyak yang bersih juga, terutama tempat-tempat yang bukan mainstream). Penyelesaian problem ini harus secara menyeluruh yang justru harus dimulai dari kita sendiri sebagai pengunjung yang harus disiplin jangan membuang sampah sembarangan. Jangan terlalu mengandalkan pemerintah yang sepertinya tidak akan pernah bergerak walau teluk Ambon tertutup sampah.

Pintu Kota - Air Louw - Ambon

Sekarang, bagi saya selain Pintu Kota, anda belum pernah ke ‘Pulau’ Ambon kalau belum melakukan salah satu berikut ini : berleha-leha di Santai Beach, berenang di ujung tanjung Nusawine, makan rujak Natsepa, berenang di pantai Liang, megang belut Morea di desa Waai, berendam di air panas Tulehu, berpoto di masjid pinggir laut Wakasihu, mengunjungi benteng Amsterdam di Negeri Hila, hoping island plus snorkeling di jernihnya air laut Nusa Telu atau pulau Tiga di Asilulu dan tak lupa mengelilingi pesisir jazirah Leihitu yang sangat memorable serta banyak lagi hal yang bisa di lakukan di Pulau Ambon selain mengunjungi Pintu Kota.

Perut tidak bisa berbohong setelah waktu makan siang jauh terlewati mendekati sore hari. Satu lagi kekurangan tempat-tempat wisata di pulau Ambon adalah susahnya mencari makan seperti halnya kemaren ketika menyusuri jazirah Leihitu. Tempat makan hanya banyak tersedia di pusat kota Ambon.

Di pusat kota Ambon, kali ini menjajal wisata kuliner untuk kedua kalinya karena malam sebelumnya juga sudah berburu kuliner ikan bakar dengan sambel colo-colonya. Bicara Ambon tidak akan lepas dari Rujak Natsepa, sambel Colo-Colo plus ikan bakarnya dan yang paling penasaran dicoba adalah Papeda dengan Kuah Kuningnya.

Papeda Kuah Kuning

Sekarang tersedia makanan yang bentuknya seperti bahan lem kanji buat mengelem bendera merah putih dari kertas yang biasa di pasang ketika 17 Agustusan. Entah karena lapar atau enak Papeda yang dalam wadah besar cuma tersisa sedikit. Kuah kuning dengan bumbu kenari yang panas menjadi media buat mematangkan ikan kerapu. Rasa asam kuah kuning meresap ke daging ikan. Rasa segar kuah ditambah tekstur aneh papeda untuk pertama kalinya dalam hidup masuk kedalam rongga mulut. Ternyata saya sangat menyukai masakan khas Indonesia timur ini. Dan jadilah Papeda Kuah Kuning yang di sajikan di restaurant Sari Gurih ini masuk dalam daftar makanan favorit. Saking sukanya dengan Papeda Kuah Kuning esok haringa juga mencoba lagi tetapi di restautant Ratu Gurih, rasa hampir mirip walau Kuah Kuning yang di Sari Gurih kuahnya lebih kental sehingga lebih segar.

Patung Martha Christina Tiahahu Ambon

Malas rasanya melakukan aktifitas dengan perut yang penuh dengan Papeda. Tapi sayang masih ada waktu buat keluyuran di kota Ambon. Walau matahari semakin meredup tapi masih ada waktu buat suasana teluk Ambon dikala senja. Lokasi yang cocok untuk melihat teluk Ambon adalah Karang Panjang, tempat berdirinya patung pahlawan nasional perempuan asal Maluku yaitu Martha Christina Tiahahu. Seorang pahlawan wanita asal Nusa Laut, sebuah pulau kecil sebelah tenggara pulau Saparua. Yang paling membuat salut, selain wanita,usia dia masih berumur 17 tahun ketika menghembuskan nafas terakhirnya setelah berjuang bersama ayahnya, Kapitan Paulus Tiahahu melawan penjajahan Belanda. Perjuangan Martha Christina Tiahahu berbarengan dengan waktu perjuangan Kapitan Pattimura di pulau Saparua yang juga merupakan seorang pahlawan lainnya dari Maluku. Merinding ketika membaca sejarah perjuangan pahlawan yang satu ini :

Di tengah keganasan pertempuran itu muncul seorang gadis remaja bercakalele menantang peluru musuh. Dia adalah putri Nusahalawano, Martha Christina Tiahahu, srikandi berambut panjang terurai ke belakang dengan sehelai kain berang (kain merah) terikat di kepala. Dengan mendampingi sang Ayah dan memberikan kobaran semangat kepada pasukan Nusalaut untuk menghancurkan musuh, jujaro itu telah memberi semangat kepada kaum perempuan dari Ulath dan Ouw untuk turut mendampingi kamu laki-laki di medan pertempuran. Baru di medan ini Belanda berhadapan dengan kaum perempuan fanatik yang turut bertempur. Pertempuran semakin sengit katika sebuah peluru pasukan rakyat mengenai leher Meyer, Vermeulen Kringer mengambil alih komando setelah Meyer diangkat ke atas kapal Eversten.
Sepeninggal ayahnya yang di gantung oleh Belanda, Martha Christina Tiahahu masuk ke dalam hutan dan berkeliaran seperti orang kehilangan akal. Hal ini membuat kesehatannya terganggu. Dalam suatu Operasi Pembersihan pada bulan Desember 1817 Martha Christina Tiahahu beserta 39 orang lainnya tertangkap dan dibawa dengan kapal Eversten ke Pulau Jawa untuk dipekerjakan secara paksa di perkebunan kopi. Selama di atas kapal ini kondisi kesehatan Martha Christina Tiahahu semakin memburuk, ia menolak makan dan pengobatan. Akhirnya pada tanggal 2 Januari 1818, selepas Tanjung Alang, Martha Christina Tiahahu menghembuskan nafas yang terakhir. Jenazah Martha Christina Tiahahu disemayamkan dengan penghormatan militer ke Laut Banda.

Sumber http://id.wikipedia.org/wiki/Martha_Christina_Tiahahu Nov 2013

Pelabuhan Kecil Ambon

Dari Karang Panjang terlihat Silhouette patung dengan background pemandangan teluk Ambon dan langit yang membiru. Di kejauhan terlihat beberapa kapal besar sedang merapat di pelabuhan. Ternyata pelabuhan tersebut sepertinya berada tepat beberapa puluh meter dari penginapan tempat menginap. Dari sini penasaran juga ingin melihat pelabuhan dari dekat. Lalu meluncur ke pelabuhan dibelakang penginapan, ada beberapa kapal-kapal besi yang besar. Tetapi mata lebih tertarik melihat kapal kayu yang ada di pelabuhan Kecil Ambon. Mendekati dan masuk ke pelabuhan, terlihat pelabuhannya tidak seramai pelabuhan Alam di Bitung – Sulut. Mungkin karena pelabuhan ini adalah pelabuhan Kecil Ambon, yang bukan pelabuhan utama untuk kapal-kapal besarnya.

Kantor gubernur Ambon

Baju rushguard bekas snorkeling di Ujung Tanjung Nusawine masih menempel di badan. Badan sudah merasakan ketidaknyamanan karena baju itu hanya di pake sekali Snorkeling, mungkin lain halnya kalau dipakai terus menerus walau seharian penuh. Terlebih sekarang berada di pusat Kota Ambon bukan sedang di pulau yang jauh kemana-mana.Perut masih terasa kenyang, tetapi badan sudah tidak bisa diajak kompromi untuk melanjutkan keliling Ambon. Sebelum Adzan Maghrib disudahi keliling-keliling kota Ambon, kota yang menjadi Ibukota Maluku. Siapa sangka kota yang berasal dari pembangunan Benteng Portugis untuk menampung migrasi orang-orang Portugis yang di Usir dari Ternate ini menjelma menjadi kota paling besar di Maluku.

Ambon.

Catatan Perjalanan Ambon lainnya :

  1. Waaah bermanfaat sekali lhoo informasinya, jadi pingin kesana. Andaikan pemerintah lebih peduli dengan pariwisata Indonesia, utamanya di Indonesia Timur, pasti bnyak devisa yang masuk, banyaaaaaaak sekali 😀 Wonderful Indonesia :’)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *