32 Jam berwisata Belanja dan Kuliner di Bandung

Lawangwangi wisata kuliner bandungTidak terhitung sudah berapa kali mengantar temen dari luar Bandung untuk jalan-jalan di Bandung sekitarnya. Bahkan beberapa temen (dan juga temenya temen), sudah menganggap saya sebagai “guide beneran” untuk jalan-jalan di Bandung. Dari semua tujuan dan tempat wisata yang pernah saya antar belum pernah sekalipun merekomendasikan untuk wisata belanja. Merekomendasikan dan mengantar untuk berwisata kuliner pun bisa dihitung sama jari tangan. Tempat-tempat yang dituju selalu diarahkan ke Bandung coret seperti ke Bandung Selatan yaitu Ciwidey atau Pangalengan. Untuk Bandung Utara tidak jauh dari Lembang, Tangkubanperahu dan Ciater. Kalaupun agak jauh keluar Bandung, tujuannya selalu dipastikan ke Garut, karena karakter kotanya yang mirip sama Bandung dimana kotanya dikelilingi oleh gunung. Sama sekali tidak terlintas untuk memperkenalkan spot-spot yang dekat dengan pusat kota Bandung. Tetapi semuanya harus ada untuk pertama-kalinya. Kali ini kebetulan ada temen yang mau keliling Kota Bandung untuk mencari spot-spot tempat nongkrong yang asik versi saya. Selain itu ada titipan pesan sponsor juga yang menginginkan jalan kali ini bisa belanja di salah satu FO Bandung.

e-

Lawangwangi Creative Space, Dago Giri

Walaupun waktu sudah dipatok 32 jam, saya tidak akan memaksakan mengunjungi tempat sebanyak mungkin dengan waktu sesingkat-singkatnya. Sebaliknya dengan waktu yang mepet tersebut akan dilalui dengan santai dan senyaman mungkin tanpa harus diburu-buru untuk mengejar target tempat sebanyak mungkin. Jadilah waktu 32 jam tersebut dimanfaatkan untuk keliling sekitar kota Bandung. Karakter wisata di Bandung yang sangat banyak serta beragam, benar-benar surga buat orang suka jalan-jalan. Wisata belanja yang berjibun, wisata kuliner yang ada dimana-mana, wisata budaya dan sejarah yang lengkap, wisata alam yang sangat indah, wisata wahana permainan sampai wisata pendidikan seperti museum juga ada. Dan yang paling unik adalah tempat-tempat wisata tersebut dikemas dengan sangat unik yang membuat semuanya spesial. Karena itu dijalan-jalan kali ini tidak akan ada itenary yang jelas yang harus dituntaskan. Semuanya berjalan berdasarkan situasi dan kondisi dilapangan, tempat yang dituju berikutnya hanya akan ditentukan ketika akan beranjak dari tempat terakhir yang dikunjungi.

Seperti biasa rumah saya dijadikan base camp. Pagi buta sudah siap-siap menyiram rumput dan bersihkan taman, lalu beres-beres rumah. Ini dilakukan karena harus berangkat sepagi mungkin. Sehabis beres-beres langsung mandi, lalu disinilah ide tempat sarapan pagi tiba-tiba muncul. Ide yang mungkin tidak akan muncul buat orang yang bukan goweser atau pesepeda. Ide kuliner sepeda ini tiba-tiba saja keluar dari kepala, dan kuliner sepeda sangat cocok buat sarapan pagi. Yang bikin pusing kuliner sepeda yang terkumpul dibenak ini sangat banyak, tetapi setidaknya sudah ada kriteria tempat walaupun belum tahu akan memilih yang mana. Yang penting keluar dari rumah menuju jalan raya terlebih dahulu. Setelah keluar komplek disekitar Cipadung, insting mengarahkan mobil kearah pusat kota dengan mengambil jalan AH Nasution mengarah ke Cicaheum. Pilihan semakin mengerucut, karena pilihan kuliner sepeda yang akan dilewati mobil semakin sedikit. Ujung berung dilalui begitu saja, yang berarti kuliner sepeda sekitar Ujung berung dan Palintang sudah keluar dari list. Selanjutnya pertigaan yang menuju Oray Tapa juga terlewati, dan satu tempat tereleminasi lagi. Sesampainya diterminal Cicaheum barulah tujuan yang dituju sudah bulat yaitu Caringin Tilu.

Caringin Tilu

32 Jam Berwisata Belanja dan Kuliner di Bandung

Sarapan Pagi di Caringin Tilu

Didaerah Caringin Tilu pun sebetulnya banyak tempat yang dituju. Tapi lagi-lagi gimana nanti, dari Cicaheum lalu mobil berbelok ke jalan Padasuka. Kendaraan merayap naik keatas dengan perlahan. Beberapa rombongan pesepeda dengan keringat yang mengucur terlewati satu persatu. Selepas dapur Cartil agak pesimis apakah mobil ada tenaga buat naik. Tetapi mobil terus saya genjot untuk merayap keatas. Warung-warung pinggir jalan di ketinggian Caringin Tilu yang biasa dijadikan tempat istirahat pesepeda dilalui. Kendaraan terus disiksa untuk naik. Sekarang saya sendiri yang ragu karena takut mobil ber-cc kecil ini bakalan ngesot dan mundur. Walaupun mobil ini sudah teruji ditanjakan Dieng tetapi tanjakan Cartil benar-benar berbeda. Akhirnya mobil kembali berputar balik menuju warung tempat pesepeda beristirahat. View seperti di Cartil lah yang membuat saya benar-benar mencintai kota Bandung. Puas dan lega bisa memperkenalkan kalau Bandung itu bukan hanya FO. Pesan nasi merah dengan lauk pepes ayam, tahu dan tempe. Udara dingin membuat enggan beranjak dari tempat yang istimewa ini sehingga agak lama kami berleha-leha disaung sambil menikmati kota Bandung diketinggian. Perut sudah terisi dengan nasi merah, clue tempat berikutnya yang akan dituju sama sekali tidak ada. Beruntung temen ada yang ingin beli parfum dan juga ada yang ingin beli sesuatu di eiger, yang akan dijadikan tujuan berikutnya.

Wisata belanja peralatan gunung Eiger dan Parfume di jalan Banteng

Matahari sudah mulai memanas, dari Cartil turun menuju jalan Sumatera menuju toko peralatan gunung yaitu Eiger. Sengaja memilih eiger di jalan Sumatera karena lokasi dan bangunan tokonya yang unik. Design bangunan toko ini merupakan salah satu hasil karya wali kota Bandung ketika belum menjabat yaitu kang Ridwan Kamil. Lepas dari toko Eiger menuju salah satu pusat parfume di Bandung yaitu di jalan Banteng. Disini tertahan lumayan lama karena jumlah pembeli parfume yang mengantri lumayan banyak. Tak terasa matahari sudah melewati titik terpanasnya, dan parfume yang di ‘borong’ baru saja dimasukan dalam bagasi mobil. Sekarang saat yang pas buat makan siang.

Lawangwangi Creative Space

b-

Lawangwangi Creative Space, Dago Giri

c-

Lawangwangi Creative Space, Dago Giri

Untuk lokasi makan siang sudah diputuskan beberapa saat ketika transaksi parfume sudah beres. Kali ini Lawang Wangi yang akan menjadi tujuan. Suatu tempat makan yang ada didaerah Dago tepatnya di Dago Giri yang merupakan jalan alternatif menuju Lembang dari Dago. Lawang Wangi bukan hanya tempat makan biasa karena didalamnya terdapat galery seni sekaligus toko. Ketika memasuki pintu masuknya pun sama sekali tidak seperti memasuki resto atau cafe pada umumnya. Memasuki bangunan beberapa lantai ini langsung disuguhi galery seni dan juga toko yang jualan aksesories yang bisa dijadikan cenderamata . Jadilah agenda utama makan siang terlupakan karena terlalu asik melihat karya seni yang dipajang. Menaiki beberapa anak tangga barulah resto tempat makan terlihat. Kursi yang disediakan resto ini lumayan penuh. Beruntung pas memasuki resto masih ada meja yang kosong. Icon Lawang Wangi yang seperti dermaga menjorok ke luar, terlihat sangat ramai sama orang-orang yang sedang berpoto. Untuk mengabadikan icon tersebut dengan suasana kosong sangat tidak memungkinkan. Akhirnya sambil menunggu pesanan makanan datang, berjalan menuju icon Lawang wangi untuk sekedar menikmati dan mengabadikan pemandangan sekitar. Waktu sudah memasuki sore hari, cukup lama juga nongkrong disini. Berhubung posisi sekarang sedang berada di Dago Giri yang merupakan jalan alternative menuju Lembang, sekalian saja mobil diarahkan ke Lembang.

d-

Lawangwangi Creative Space, Dago Giri

Tahu Tauhid

Sebelum memasuki pasar Lembang tepatnya beberapa meter dari tempat wisata De Ranch, mampir terlebih dahulu di Tahu Tauhid. Kembali borong tahu dan beberapa makanan khas disini buat camilan di perjalanan. Keluar dari Tahu Tauhid masih belum tahu mau kemana. Tetapi saya tawarkan dua alternative apakah mau berendam ke Sari Ater atau ke Floating Market. Jawabanya sudah bisa di tebak yaitu dua-duanya.

Floating Market

f-

Floating Market, Lembang

g-

Floating Market, Lembang

Floating Market ini dulunya bernama Situ Umar yang disulap dengan sangat bagus sehingga bisa menjadi salah satu icon wisata Lembang yang baru. Jejeran rumah tradisional dari kayu menyambut pengunjung. Suasana di Floating Market masih terlihat ramai. Taman dipinggir danau terlihat sangat terawat dan terlihat rapih. Beberapa gazebo ditempatkan menghadap kearah danau. Beberapa kursi dengan meja berpayung juga terlihat di bibir danau. Perahu-perahu yang bisa disewa berseliweran ditengah danau. Memasuki area penjual makanan terlihat sangat padat seperti halnya di pasar tradisional, dengan suasana yang lebih rapih tentunya. Kursi dan meja terlihat penuh diisi pengunjung. Perut sebenarnya belum terlalu lapar, tetapi godaan jajanan yang dijajakan diatas perahu tidak dapat dihindarkan. Kembali perut dijejali kuliner Bandung. Hari sudah mulai gelap dan akan sangat pas setelah jalan-jalan seharian ditutup dengan berendam dikolam air panas.

h-

Floating Market, Lembang

Sari Ater, Ciater

Mobil mengarah ke Ciater dengan tujuan Gracia Spa, salah satu alternative berendam dikawasan Ciater selain Sari Ater. Tak berapa lama dikegelapan jalan terlihat plang Gracia Spa yang disinari lampu yang cukup terang. Tetapi suasana di Gracia Spa benar-benar terlalu ramai karena lagi ada acara. Itu terlihat dari banyaknya mobil Elf yang berjejer memenuhi tempat parkir. Akhirnya kendaraan berbalik arah menuju jalan raya, dan berendam di Gracia Spa di cancel. Tetapi bukan berarti acara berendamnya yang di cancel karena the show must go on dan Sari Ater menjadi tujuan pengganti Gracia Spa. Kolam Kiara Sari Ater yang biasa dikunjungi sudah tutup karena sudah malam. Tetapi masih ada kolam kunang-kunang yang buka 24 jam. Berendam diair panas setelah seharian jalan-jalan memang sangat mengasikan. Mata ini sampai menjadi berat karena mengantuk. Jam sudah menunjukan setengah sepuluh malam. Acara berendam harus disudahi karena tidak baik juga kalau berendam diair panas terlalu lama.

Braga Huis

k-

Braga Huis, jalan Braga

Awalnya berendam di Sari Ater akan dijadikan penutup hari dijalan-jalan kali ini. Tetapi ketika perjalanan pulang dari Ciater menuju kota Bandung, tiba-tiba semua perut yang ada dimobil seakan-akan mengeluarka satu kata lapar. Masih ada waktu sampai tengah malam untuk sekedar nongkrong di Cafe atau tempat makan lainnya. Dan dipilihlah Braga Huis karena masih buka sampai tengah malam, selain karena kopinya juga. Akhirnya tepat tengah malam keluar dari pintu Cafe Braga Huis dengan mata yang semakin mengantuk.

Warung Bandrek (WarBan)

i-

Warung Bandrek, Dago

Dihari kedua ini jauh lebih terencana karena tempat yang mau dituju sudah fix. Lokasi sarapan pagi tetap dengan kuliner sepedanya. Setelah hari sebelumnya sarapan di Caringin Tilu, sekarang Warung Bandrek atau lebih dikenal dengan nama WarBan yang dituju. Bisa dikatakan WarBan merupakan ibukota sepeda di Bandung, karena setiap sabtu apalagi minggu pagi bisa dipastikan akan dijejali oleh para goweser. Lagi-lagi temen bertanya mau dibawa kemana karena menjelang Dago Pakar jalanan benar-benar dipenuhi oleh goweser. Jadilah ketika sampai dilokasi mobil yaris imut menjadi satu-satunya mobil yang parkir di WarBan ditengah lautan sepeda yang berserakan. BHD atau Bumi Herbal Dago sebagai tempat untuk menikmati sarapan pagi. Teh Rosella khas BHD menjadi pembuka sarapan sebelum dilanjutkan oleh gado-gado BHD. Kali ini tidak terlalu lama di WarBan karena tepat siang hari harus segera balik ke Jakarta.

Rumah Mode

Sebelum pulang ke Jakarta ada teman yang minta diantar ke Rumah Mode terlebih dahulu. Jarang sekali saya merekomendasikan temen yang lagi jalan untuk mengunjungi FO di Bandung. Bahkan ini baru pertama kalinya mengantar ke Rumah Mode. Sengaja kali ini memberi keleluasaan temen untuk melampiaskan nafsu belanjanya sampai puas. Mereka sendiri yang menentukan waktu mau berapa lama.

Kafetaria 170

j-

Kafetaria 170, Pasirkaliki

Tepat siang hari sebelum pulang ke Jakarta, makan siang terlebih dahulu di Kafetaria 170 yang terkenal dengan Pia 170 nya yang enak. Karena lokasi yang berdekatan dengan Primarasa, mampir terlebih dahulu untuk belanja oleh-oleh makanan. Kafetaria 170 dan Primarasa menutup 32 jam jalan-jalan di Bandung kali ini.

Ada manfaatnya juga punya hobby bersepeda, kali ini beberapa tempat makan ketika bersepeda dijadikan salah satu tujuan wisata kuliner. Yang membuat jalan-jalan belanja dan kuliner di Bandung kali ini benar-benar berbeda. Walaupun harus mengantar ke tujuan-tujuan yang dekat dengan Kota tetapi idealisme saya tentang tempat-tempat yang asik versi sendiri tetap di pertahankan. Jadilah wisata kuliner versi sepeda yang murah-meriah berpadu dengan wisata tempat nongkrong yang lumayan mahal.

Kuliner sepeda diekseksi khusus untuk sarapan pagi. Karena geliat pesepeda yang biasa pagi hari maka warung-warung tempat makannya pun memang kebanyakan pagi hari, walaupun ada beberapa yang buka sampe sore.

See You Soon in Bandung 😉

  1. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai pariwisata, menurut saya pariwisata indonesia merupakan salah satu tempat wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi pada waktu liburan.
    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai pariwisata yang bisa anda kunjungi di Informasi Seputar Pariwisata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *